Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Hampir tiga bulan saya menjadi pejalan. Mengarungi satu per satu peristiwa untuk memahami maksudnya. Sebenarnya mungkin saja segalanya terjadi tanpa suatu maksud. Namun dengan menerka-nerka maksud, setidaknya peristiwa seburuk apapun tak menjadi terlampau mengecewakan. Jika kematian tak memiliki maksud apa-apa kecuali semata-mata keniscayaan biologis, maka narasi hidup bisa kehilangan maknanya. Bahkan usaha para nihilis untuk menganggap kematian sebagai semata-mata ketiadaan juga adalah semacam usaha menemukan maksud. Terlebih lagi dalam suatu peristiwa yang katakanlah penderitaan, memberi maksud memang terkesan eskapis, tapi setelah dipikir-pikir: apa salahnya bersikap eskapis? Sama saja, seseorang belajar, bekerja, berkeluarga, dalam arti tertentu juga menjadi eskapis, bentuk pelarian dari kecemasan eksistensinya. Jadi tak melulu hal-hal "abstrak" seperti "hikmah", "makna", atau bahkan "kehendak Tuhan" bisa dituding sebagai eskapis, karena d...