Piala Dunia 2026 sudah separuh jalan dan saya baru bisa menuliskan ini. Piala Dunia selalu menjadi warna dari kehidupan saya. Saya ingat pengalaman paling pertama adalah ketika diajak Papap nonton final Piala Dunia 1994 yang ditayangkan di TVRI. Bukan nobar rame-rame, karena saya tahu Papap juga tidak suka-suka amat dengan sepakbola. Hanya nonton depan televisi dan kami berdua terlelap, bangun-bangun, Brazil dikabarkan juara, gara-gara penalti Roberto Baggio melambung ke angkasa. Saya tidak mengerti sepakbola saat itu, sampai mulai menggandrungi dua tahun kemudian, tepatnya Euro '96 dan entah kenapa, menjatuhkan pilihan tim favorit pada Itali. Dari sejak itu, hingga hari ini (bukankah tidak benar-benar ada alasan rasional di balik kenapa kita menjadi fanatik terhadap suatu tim sepakbola?). Piala Dunia 2006 tentu menjadi yang paling berkesan, karena Itali menjadi juara di sana, di Jerman. Pertandingan semifinal melawan tuan rumah lebih berkesan ketimbang finalnya sendiri melawan Pra...
Piala Dunia 2026 sudah separuh jalan dan saya baru bisa menuliskan ini. Piala Dunia selalu menjadi warna dari kehidupan saya. Saya ingat pengalaman paling pertama adalah ketika diajak Papap nonton final Piala Dunia 1994 yang ditayangkan di TVRI. Bukan nobar rame-rame, karena saya tahu Papap juga tidak suka-suka amat dengan sepakbola. Hanya nonton depan televisi dan kami berdua terlelap, bangun-bangun, Brazil dikabarkan juara, gara-gara penalti Roberto Baggio melambung ke angkasa. Saya tidak mengerti sepakbola saat itu, sampai mulai menggandrungi dua tahun kemudian, tepatnya Euro '96 dan entah kenapa, menjatuhkan pilihan tim favorit pada Itali. Dari sejak itu, hingga hari ini (bukankah tidak benar-benar ada alasan rasional di balik kenapa kita menjadi fanatik terhadap suatu tim sepakbola?). Piala Dunia 2006 tentu menjadi yang paling berkesan, karena Itali menjadi juara di sana, di Jerman. Pertandingan semifinal melawan tuan rumah lebih berkesan ketimbang finalnya sendiri melawan Pra...