Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Untuk Sahabatku, Para Asketik!


Saya bertemu Bilawa Ade Respati pertama kali di Jalan Teri. Itu adalah tempat dimana kami sama-sama belajar gitar pada sang guru, Ridwan B. Tjiptahardja. Saya terkagum dengan permainan gitarnya, ia memainkan lagu karya J.K. Mertz berjudul Elegie. Lebih hebat lagi, orang yang kelak saya panggil Bil itu, saat itu masih berstatus anak SMA. Sedangkan Diecky? Ya, Diecky saya temui di dekat aula RS Santo Borromeus. Waktu itu ia tengah membangun komunitas bernama Classical Guitar Community (CGC) yang kebetulan tampil di seminar yang mengundang Dieter Mack (musikolog  asal Jerman) untuk membahas tentang periodisasi musik klasik (kalau tidak salah).

Bilawa adalah orang yang mula-mula akrab dengan saya. Ia ternyata merupakan pribadi yang hangat tapi juga sekaligus mendalam. Caranya berpikir begitu aneh untuk anak seumurnya. Bilawa adalah seperti orang yang menanggung beban dunia -gerak-geriknya begitu penuh pemikiran dan segala ucapannya selalu menimbulkan kerut kening-. Hal tersebut membuat kawan saya, Pirhot, menjulukinya sebagai The Chosen One, mengacu pada julukan bagi Anakin Skywalker di film Star Wars. Kami banyak bekerjasama terutama dalam membangun komunitas KlabKlassik. Saya ingat dengan jernih sekali, bahwa kami bertiga (bersama dengan Pirhot), mengelem pin di tengah malam. Untuk apa gerangan? Sebagai bagian dari persiapan konser perdana KlabKlassik bertajuk Classicares: Classical Concert for Charity.

Diecky kehadirannya adalah bagai pencuri di tengah malam. Ia jarang berbicara dan juga sedikit sekali berekspresi tentang sesuatu. Namun kehadirannya diam-diam mengambil barang berharga. Yang ia curi adalah perhatian segenap awak KlabKlassik. Kehadiran Diecky menjadikan KlabKlassik yang tadinya berpusat pada permainan teknis musik belaka, menjadi punya landasan filosofis. Diecky mengajak kita semua berpikir, merenungkan, dan menyatakan sikap tentang apa yang dimaui dalam komunitas ini. Jangan sampai KlabKlassik menjadi bagian dari hingar bingar saja, yang nantinya lenyap ditelan kerumunan yang lain.

Tapi saya tertipu jika apa yang dinilai kemudian adalah semata-mata bagaimana KlabKlassik hari ini menjadi baik sejak keberadaan mereka. Apa yang membuat saya begitu terpesona oleh keduanya adalah kenyataan bahwa baik Bilawa dan Diecky, keduanya adalah menjadi sahabat sekaligus saudara dalam posisinya di luar komunitas. Keduanya bagai pupuk yang menumbuhkembangkan jiwa sehingga saya merasa lebih kuat dan dewasa setiap harinya. Keduanya juga adalah cermin, yang membuat persahabatan bukan menjadi hanya sekedar tentang saling puji memuji semata. Disebut cermin karena: Diantara kami ada caci maki dan hujatan. Namun yang demikian bukan berujung pada dendam, melainkan sebaliknya, kembali pada keadaan saling mengasihi dan menyayangi.

Keduanya sekarang akan pergi. Bilawa, kemana dia? Ia pergi ke Jerman menempuh studi. Ia belum mau melepaskan beban kehidupan dari pundaknya, dan masih suka membawanya kemana-mana. Bilawa, boleh saya bilang, adalah seorang asketik sejati. Bilawa hanya belajar bagaimana dari tadinya menderita menjadi bahagia, meskipun yang ia panggul tetaplah objek berat yang sama. Ia pergi tiga tahun lamanya dan mengisyaratkan waktu kembali yang lebih lama dari itu karena ia juga tertarik untuk melanglangbuana pasca studi. Diecky akan menikah (selamat ya!) bulan September ini dan kemudian melanjutkan rumahtangganya di Pontianak dengan karir sebagai dosen. Ia pun sepertinya belum akan menghilangkan statusnya sebagai pencuri di malam hari. Keahliannya yang cantik ini saya ramalkan akan membuat seantero Kalimantan menoleh kepadanya dalam waktu singkat.

Selamat menempuh jalan asketik sahabat-sahabatku yang paling menawan. Ingat kata Gibran, bahwa sahabat adalah seperti gunung: Indah dipandang dari kejauhan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...