Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2014

Tentang Menerima Kehidupan

Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu.  Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...

Yang Absurd dan Yang Hidup

Modernitas adalah soal kepastian. Sains dan teknologi memberikan pelbagai jaminan bahwa jika kita menjalani A maka hasilnya pasti B. Kehidupan manusia berkaitan dengan rencana-rencana ke depan yang sudah dirancang hingga puluhan tahun. Dunia ini, kata Heidegger, oleh sebab segala kepastian tersebut, mulai kehilangan kemistisan. Seperti saya misalnya, sekarang sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai dosen tetap. Di tempat ini, saya mendapat jaminan hingga hari tua dan jaminan kesehatan jika terjadi apa-apa. Apa yang terjadi? Perasaan yang sesungguhnya kontradiktif muncul. Di satu sisi, saya merasa hal tersebut adalah anugerah Tuhan. Di sisi lain, dengan kepastian tersebut, Tuhan justru seperti tak dibutuhkan lagi. Seperti kata Andre Yefimich Ragin dalam Ruang Inap no. 6 , "Jika manusia sudah dapat sembuh oleh pil dan obat, maka kepercayaan mereka pada agama dan filsafat terang akan menurun." Semakin dewasa juga, segala kegiatan menjadi harus punya alasan dan kegunaan. Meng...

Untuk Masa Mudaku yang Akan Pergi

Minggu lalu saya datang ke sebuah pesta. Pesta yang saya sendiri heran mengapa saya bisa menghadirinya. Pesta itu adalah perayaan ulang tahun ketujuhbelas dari Vallerina. Siapa Vallerina? Dia adalah anak sulung dari murid privat gitar saya yang bernama Ibu Elly. Saya datang karena memang tidak ada acara dan juga ingin mendapatkan pengalaman menarik. Bagaimana tidak, dalam sepuluh tahun terakhir, saya sungguh tidak pernah datang lagi ke sebuah pesta sweet seventeenth.  Pesta yang diselenggarakan di Trans Hotel tersebut berlangsung sangat meriah. Ada panggung besar, tata pencahayaan canggih, pemandu acara dan pemusik profesional, makanan berlimpah dalam buffet , hingga kue ulang tahun setinggi manusia. Meski saya merasa bahwa menghadiri acara semacam itu dapat dikatakan "sudah bukan masanya lagi", tapi saya tetap berusaha melebur dan menikmati berbagai sajian yang ada. Ada yang bersuara dalam hati saya, yang mengatakan bahwa, "Iya, kamu masih muda, kok, masih punya taj...