Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2014

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Yang Absurd dan Yang Hidup

Modernitas adalah soal kepastian. Sains dan teknologi memberikan pelbagai jaminan bahwa jika kita menjalani A maka hasilnya pasti B. Kehidupan manusia berkaitan dengan rencana-rencana ke depan yang sudah dirancang hingga puluhan tahun. Dunia ini, kata Heidegger, oleh sebab segala kepastian tersebut, mulai kehilangan kemistisan. Seperti saya misalnya, sekarang sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai dosen tetap. Di tempat ini, saya mendapat jaminan hingga hari tua dan jaminan kesehatan jika terjadi apa-apa. Apa yang terjadi? Perasaan yang sesungguhnya kontradiktif muncul. Di satu sisi, saya merasa hal tersebut adalah anugerah Tuhan. Di sisi lain, dengan kepastian tersebut, Tuhan justru seperti tak dibutuhkan lagi. Seperti kata Andre Yefimich Ragin dalam Ruang Inap no. 6 , "Jika manusia sudah dapat sembuh oleh pil dan obat, maka kepercayaan mereka pada agama dan filsafat terang akan menurun." Semakin dewasa juga, segala kegiatan menjadi harus punya alasan dan kegunaan. Meng...

Untuk Masa Mudaku yang Akan Pergi

Minggu lalu saya datang ke sebuah pesta. Pesta yang saya sendiri heran mengapa saya bisa menghadirinya. Pesta itu adalah perayaan ulang tahun ketujuhbelas dari Vallerina. Siapa Vallerina? Dia adalah anak sulung dari murid privat gitar saya yang bernama Ibu Elly. Saya datang karena memang tidak ada acara dan juga ingin mendapatkan pengalaman menarik. Bagaimana tidak, dalam sepuluh tahun terakhir, saya sungguh tidak pernah datang lagi ke sebuah pesta sweet seventeenth.  Pesta yang diselenggarakan di Trans Hotel tersebut berlangsung sangat meriah. Ada panggung besar, tata pencahayaan canggih, pemandu acara dan pemusik profesional, makanan berlimpah dalam buffet , hingga kue ulang tahun setinggi manusia. Meski saya merasa bahwa menghadiri acara semacam itu dapat dikatakan "sudah bukan masanya lagi", tapi saya tetap berusaha melebur dan menikmati berbagai sajian yang ada. Ada yang bersuara dalam hati saya, yang mengatakan bahwa, "Iya, kamu masih muda, kok, masih punya taj...