Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...