Karena sedang tak ada kendaraan dan alasan kesehatan, hampir dua tahun belakangan ini saya kemana-mana berjalan kaki. Diusahakan minimal empat kilometer. Rute tetap biasanya PP rumah saya dan rumah Nadya yang memang pas segitu jaraknya. Selain itu, akibat kena cancel dan banyak kehilangan kesibukan lama, saya gak merasa perlu kendaraan karena mobilitas pun menurun drastis. Sehari-hari paling cari kafe untuk nulis, ngopi-ngopi, di rumah dengerin musik dan tiduran, pergi kirim makanan buat Nadya, beli rokok dan ke warteg, nge- date . Repeat . Jalan kaki menjadi semacam aktivitas yang dibuat-buat, setidaknya supaya hidup tak sekadar boboan di kamar. Lama kelamaan, kebiasaan jalan kaki menjadi tidak sekadar menyusuri rute yang itu-itu saja. Belakangan, saya mulai mencari jarak yang lebih jauh. Misalnya, ngafe nya tak lagi di sekitaran rumah, tapi coba ke kafe di toko roti Djie Seng di Astana Anyar yang jaraknya tiga kilometer lebih. Awalnya melelahkan, kadang di tengah-tengah saya me...
Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...