Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Di jalan besar sebelah rumah saya ada toko kelontong milik Bu Yana dan Pak Yana. Toko itu sudah dijalankan sejak saya kecil dan masih eksis hingga sekarang usia saya hampir empat puluh. Hingga saat ini, Pak Yana dan Bu Yana masih di sana. Bahkan Pak Yana sendiri yang menunggui si toko. Suatu hari di masa lalu, entah ketika saya usia berapa, Papap pernah berkata, "Lihat itu anaknya Pak Yana dan Bu Yana, dia ikutan jagain toko meskipun masih kecil. Orang Tionghoa diajarkan demikian, tidak usah gengsian." Mungkin maksud Papap begini: jaga toko itu dianggap hal yang kurang keren bagi sebagian orang. Apalagi bagi anak-anak, mungkin jaga toko itu malah memalukan (seolah-olah dicitrakan bahwa "kecil-kecil sudah bekerja"). Mendingan belajar, les, atau bermain di luar. Tapi dalam worldview orang-orang Tionghoa, jaga toko itu, meski toko kelontong kecil, adalah hal yang justru keren. Sepanjang hidupnya, Papap sering memuji orang-orang Tionghoa. Bahkan ketika diminta bercera...