Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kegiatan

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Jaga Toko

Di jalan besar sebelah rumah saya ada toko kelontong milik Bu Yana dan Pak Yana. Toko itu sudah dijalankan sejak saya kecil dan masih eksis hingga sekarang usia saya hampir empat puluh. Hingga saat ini, Pak Yana dan Bu Yana masih di sana. Bahkan Pak Yana sendiri yang menunggui si toko. Suatu hari di masa lalu, entah ketika saya usia berapa, Papap pernah berkata, "Lihat itu anaknya Pak Yana dan Bu Yana, dia ikutan jagain toko meskipun masih kecil. Orang Tionghoa diajarkan demikian, tidak usah gengsian." Mungkin maksud Papap begini: jaga toko itu dianggap hal yang kurang keren bagi sebagian orang. Apalagi bagi anak-anak, mungkin jaga toko itu malah memalukan (seolah-olah dicitrakan bahwa "kecil-kecil sudah bekerja"). Mendingan belajar, les, atau bermain di luar. Tapi dalam worldview orang-orang Tionghoa, jaga toko itu, meski toko kelontong kecil, adalah hal yang justru keren.  Sepanjang hidupnya, Papap sering memuji orang-orang Tionghoa. Bahkan ketika diminta bercera...

Musik Nasional dan Musik Nasionalis

1 Desember kemarin, saya diundang oleh seorang kawan, Sophan Ajie, untuk mengisi forum kuliah umum mata kuliah Kewarganegaraan dengan topik musik dan nasionalisme. Menariknya, dalam forum ini juga ada Rocky Gerung dan Ucok Homicide, dua orang yang saya idolakan dari bidang yang berbeda, satu filsafat, satu lagi musik. Boleh dibilang keduanya punya gagasan dan prinsip yang kuat, terutama dalam hal melakukan kritik terhadap kekuasaan. Dalam kesempatan ini, sebagai narasumber yang mendapat giliran bicara pertama, saya merasa perlu untuk menjernihkan konsep-konsep terlebih dahulu sebelum masuk pada pembahasan yang lebih kritis. Supaya enak disambungkan dengan tema musik dan nasionalisme, saya memulai materi dengan memilah antara musik nasional dan musik nasionalis.  Mengacu pada buku berjudul The Music of European Nationalism: Cultural Identity and Modern History (2004) yang ditulis oleh Philip V. Bohlman, musik nasional adalah musik yang disuling dari musik-musik rakyat sebagai usaha...

Tiga Tesis tentang Orang-Orang Menyebalkan

Tulisan suplemen untuk acara Pesta Pinggiran di Taman Ismail Marzuki, 25 November 2023    Tesis pertama: Filsafat Melahirkan Orang-Orang Menyebalkan  Dalam Apology , disebutkan bahwa tugas filsafat adalah “menyengat kuda besar yang pemalas”. Sengatan Sokrates itulah yang membuat dirinya dibenci oleh sebagian warga Athena. Alasan Sokrates dihukum mati memang karena “menyebarkan pengaruh buruk bagi generasi muda”, tetapi mengacu pada perilakunya yang sering kepo pada orang-orang, sangat mungkin Sokrates dilaporkan karena “menyebalkan”. Cara Sokrates mengajukan pertanyaan memang di satu sisi, kelihatan berpura-pura tidak tahu, tetapi di sisi lain, ada unsur jebakan: membuat lawan bicaranya terpojok pada maksud yang diinginkan oleh Sokrates.  Masih dari skena Yunani Kuno, nama Aristoteles tentu sangat familiar. Terdapat pernyataan terkenal Aristoteles yang diparafrasekan dari Nichomachean Ethics yang bunyinya seperti ini: Amicus Plato, sed magis amica veritas (Plato ad...

Public Relation

Waktu saya dikontak Pak Bambang Sugiharto untuk mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR empat tahun lalu, saya tidak diberi mata kuliah yang katakanlah, "khas filsafat". Saya diminta untuk mengajar mata kuliah Public Relation , yang mungkin lebih sesuai dengan gelar S2 saya di bidang ilmu komunikasi. Keberadaan mata kuliah tersebut di FF memang agak aneh. Namun saya tidak banyak bertanya-tanya karena kira-kira tahu maksudnya, yakni supaya anak-anak filsafat lebih gaul, bisa berkomunikasi lebih luas, dan tidak terjebak dalam menara gading.  Kaprodi FF, Pak Djunatan, ternyata juga tidak banyak memberi rambu-rambu atau arahan bagi materi kelas ini. Sepertinya dibebaskan saja, yang penting luarannya "jelas". Waktu itu murid di kelas hanya ada empat, yang mana salah satunya adalah Nino, yang kelak menjadi mitra pendiri Kelas Isolasi. Saya juga sebenarnya bingung apa yang harus diajarkan. Terkadang saya mengacu pada public relation sebagai sebuah profesi, terkadang saya memb...

Sesuatu di Yogya

Pada tanggal 30 Mei lalu, saya berangkat ke Yogya untuk memenuhi ajakan penerbit Edisi Mori. Ajakan tersebut adalah berupa bedah buku karya Muhammad al-Fayyadl berjudul Derridean. Perjalanan ini begitu istimewa karena forum ini diisi oleh, selain Gus Fayyadl tentunya, Martin Suryajaya dan Hizkia Yosie Polimpung. Ketiga pembicara tersebut adalah pembicara top yang mungkin terbaik di generasinya. Saya senang bisa "nyempil" di tengah-tengah mereka, meski sadar bahwa saya tidak bisa dikatakan pantas karena baik Gus Fayyadl, Bung Martin, dan Bung Yosie, ketiganya sudah jauh lebih lama menekuni filsafat dan bergulat dalam perdebatan-perdebatannya. Mungkin di masa-masa saya masih menekuni musik dan sepakbola, mereka sudah duluan berkutat dengan teks-teks filsafat yang rumit-rumit.  Acara yang diadakan di Langgeng Art Foundation tersebut berjalan lancar dengan jumlah peserta yang banyak, terutama jika dibandingkan dengan umumnya peserta diskusi di Bandung. Mungkin ada seratusan orang...

Penuh Waktu di Kelas Isolasi

Mengelola Kelas Isolasi semestinya adalah semacam hobi, hal yang dikerjakan di waktu-waktu luang alias di luar jam kerja (meski saya tidak punya pemisahan yang tegas tentang mana jam kerja dan mana non jam kerja). Namun terutama sejak kehadiran para relawan mulai sebulan lalu, mengurusi Kelas Isolasi menjadi hal yang mesti dikerjakan penuh waktu. Mengapa demikian? Bukankah keberadaan 32 relawan yang membantu Kelas Isolasi membuat kami bisa lebih santai-santai? Ternyata sebaliknya, perhatian yang lebih besar justru dibutuhkan akibat lebih banyaknya konten yang diproduksi.  Konten-konten yang diproduksi tersebut tidak semuanya bisa langsung diposting, melainkan mesti dibaca kembali, direvisi tipis-tipis, bahkan dalam beberapa kasus, harus dirombak habis-habisan. Konten yang melimpah juga membuat kami mesti mengatur jadwal supaya frekuensi kemunculannya menjadi rapi sekaligus estetik. Hal-hal demikian, mau tidak mau, memerlukan semacam sistem, supaya segalanya agak-agak otomatis dan t...

Ke Jakarta Kali ini Begitu Berkesan

Antara tanggal 1 hingga 3 Maret kemarin, saya berada di Depok dan Jakarta, terutama Jakarta Selatan. Keberangkatan saya ke Jakarta didasari oleh beberapa acara. Acara pertama adalah ajakan Mba Yayas untuk ikut mengajar di kelasnya, yaitu kelas eksistensialisme dan filsafat timur. Ajakan ini tentu tidak resmi karena saya tidak terdaftar sebagai dosen di UI. Namun karena sudah berkali-kali nimbrung di berbagai kelas online di UI, maka tiada salahnya saya sesekali memenuhi ajakan offline . Kebetulan, selang dua hari kemudian saya mesti memoderatori acara diskusi tentang hukuman mati di daerah Tebet sehingga saya memutuskan untuk tidak pulang dan tinggal selama tiga hari di sana. Puspa juga memutuskan untuk mengambil cuti dan turut pergi ke Jakarta sehingga lengkaplah acara ini sebagai sekaligus acara "intelektual" tapi juga sekaligus personal. Awalnya saya sedikit pesimis dengan keberangkatan ini. Pertama, apakah Mba Yayas sungguh-sungguh mengajak saya pergi untuk sekadar mend...

Kampung Halaman

Hari Minggu, minggu yang lalu, saya diajak orang tua untuk berkunjung ke Garut. Tempat tersebut tepatnya adalah kampung halaman bapak, yang sependek pengetahuan saya, jarang sekali dikunjungi. Tentu saja, kesok-sibuk-an urban istri dan saya membuat kunjungan semacam ini, terlebih di hari Minggu, terasa amat berat. Dalam kehidupan perkotaan yang segala-galanya mesti serba berguna, mengunjungi sebuah tempat dengan dalih romantisme kadang terdengar membuang-buang waktu. Namun setelah direnung-renungkan, terutama mengingat usia bapak sekarang sudah kepala tujuh, ajakan-ajakan semacam itu, bagi saya, tidak boleh disikapi dengan egois. Saya harus memikirkan juga dari sudut pandang bapak, yang di usia lansianya mungkin tiada lagi hal yang ingin dilakukan kecuali mengenang dan mengenang. Alhasil, kami pun memutuskan ikut berangkat ke Garut, menanggalkan segala pekerjaan yang seringkali masih harus digarap di hari Minggu.  Bandung - Garut jaraknya tidak jauh. Bahkan lebih dekat dari yang sa...

Membela Interpretivisme

Dalam acara Philofest pertengahan Desember lalu, saya berdebat dengan Taufiqurrahman perihal pendekatan dalam ilmu sosial. Saya membela interpretivisme, sementara Taufiq membela naturalisme. Yah, sejujurnya, bisa jadi gara-gara arena debat itulah, kami harus mengambil posisi berseberangan secara ekstrem. Padahal mungkin dalam keseharian, dua pendekatan tersebut kami gunakan secara bergantian. Tergantung kebutuhan.   Dalam debat tersebut, saya memulainya dengan menjabarkan optimisme filsuf Prancis abad ke-19, Auguste Comte, yang menyatakan bahwa penjelasan-penjelasan ilmu alam kelak akan bisa juga menjelaskan dunia manusia. Dunia manusia, menurut Comte, selama ini hanya didekati dengan cara-cara teologis - metafisis yang menurutnya tidak memadai. Lebih persisnya, Comte percaya bahwa dunia manusia kelak akan dapat dijelaskan lewat studi tentang sistem organisme. Bahkan hal demikian dapat menjelaskan tidak hanya manusia secara individual maupun sosial, tapi juga gerak peradaban manusi...

2023

2022 adalah tahun yang aneh. Awal tahun, kami sekonyong-konyong berada di Jakarta untuk memulai hidup baru di sana. Hanya beberapa hari selesai pindahan, saya masuk rumah sakit karena sakit pencernaan serius. Ternyata kami hanya sembilan bulan berada di Jakarta. Bulan September, kami pindah kembali ke Bandung. Sekitar dua bulan berada di Bandung, pernikahan kami mendapat ujian serius sehingga tahun baru 2023 dilewati dengan perasaan getir. Meski demikian, kami terus berdialog secara intens untuk semacam evaluasi dan juga menyusun ulang masa depan. Saya kira momen-momen sulit dalam hubungan terkadang perlu ada, supaya relasi tidak menjadi teralienasi, dan merasakan kembali betapa pentingnya keberadaan satu sama lain. Walau saya mengatakan "perlu ada", tetapi momen ketika menjalani waktu-waktu sulit itu, jujur, bak neraka. Jadi kalau saya mengatakan "perlu ada", mungkin karena ketika saya menuliskan ini, masalahnya sudah agak mereda, sehingga biasanya mudah jika orang...

Philofest Luring Pertama

Philofest, festival filsafat yang edisi perdananya dimulai bulan Desember 2020, ternyata berlanjut hingga edisi ketiga. Edisi ketiga ini istimewa karena untuk pertama kalinya digelar secara hibrid atau gabungan antara luring dan daring. Luringnya berlokasi di Pontianak dan beberapa orang, termasuk saya, diterbangkan ke sana oleh panitia, diketuai oleh Trio Kurniawan, yang entah punya uang darimana. Namun kami tidak ambil pusing karena kami pun tidak bermewah-mewah dengan hotel dan maskapai, bahkan konsumsi pun banyaknya beli sendiri. Artinya, meski punya uang untuk membelikan kami tiket pesawat, hal tersebut tidak serta merta membuat Philofest dapat dilabeli festival yang banyak uang. Mungkin lebih tepatnya: semakin punya uang, meski belum masuk kategori kaya raya. Hal yang lebih penting adalah kami, para pegiat filsafat yang selama ini hanya bertemu secara daring, akhirnya berkesempatan untuk bertemu muka. Sejak momen pertama kami saling jumpa, hal yang pertama dilakukan adalah berdis...

Pekalongan

Pada bulan September, saya mendapat undangan untuk mengisi forum di Kota Pekalongan, tepatnya dari kawan-kawan Lingkar Kajian Kota Pekalongan. Forum tersebut tadinya diselenggarakan bulan Januari 2023, tetapi tiba-tiba dimajukan ke tanggal 11 Desember 2022. Alasannya entah kenapa, mungkin supaya dipaskan dengan penutupan (baca: penghabisan) tahun anggaran (karena acara tersebut juga ternyata bekerjasama dengan DPRD Kota Pekalongan). Tidak masalah. Puspa (istri) dan saya memutuskan pergi bersama, hitung-hitung liburan. Judul forumnya adalah Anak Muda, Sains, dan Pembangunan Berkelanjutan . Saya menyiapkan materi tentang filsafat lingkungan serta memasukkan beberapa poin pemikiran Bruno Latour (kebetulan, karena saya baru saja membaca intens pemikiran Bruno Latour untuk forum lainnya).  Menyesuaikan dengan jadwal klinik Puspa, kami berangkat Sabtu malam dengan kereta dari stasiun Bandung. Sampai Pekalongan sekitar pukul dua pagi, panitia sudah menanti di stasiun dan siap mengantarkan...

Tentang Membaca Pemikiran Latour

Untuk kepentingan sebuah forum, saya diharuskan membahas pemikiran Bruno Latour yang sebelumnya hanya saya terima tipis-tipis dari diskusi antar teman dan kuliah Bu Karlina Supelli. Saya menerima tantangan tersebut dengan hanya mempunyai waktu dua minggu. Iya, dua minggu untuk mengkaji pemikiran dari seorang filsuf yang saya tidak pernah akrabi sebelumnya. Mengapa saya bersedia? Mungkin karena forumnya tidak filsafat-filsafat amat, dan juga Latour adalah pemikir kontemporer yang baru meninggal bulan lalu, sehingga tentu mudah untuk mengakses video-video kuliahnya. Memang tidak sukar menemukan videonya yang cukup banyak itu, baik saat ia memberikan ceramah maupun menjawab wawancara, tetapi ternyata gagasannya tidak mudah juga untuk dicerna. Bahkan dalam beberapa hari pertama saya mulai menggeluti pemikiran filsuf Prancis itu, saya nyaris putus asa.  Setelah menyerah dengan buku primer, saya mengalihkan bacaan ke buku sekunder yang ditulis oleh Gerard de Vries. Pengantar yang diberik...

Perihal Kelas Luring

Kegiatan kuliah di tempat saya mengajar, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, kembali diselenggarakan secara luring pada semester ini. Dosen tetap dapat mengadakan kuliah daring, tetapi dijatah beberapa kali saja dan utamanya tetap harus berlangsung secara offline . Tentunya banyak hal yang membuat saya mesti beradaptasi setelah menjalani serangkaian kuliah daring, baik pada acara kampus maupun non-kampus, di masa pandemi. Misalnya, hal sederhana saja: saya belum terbiasa mengukur waktu untuk bersiap dan melakukan perjalanan menuju kampus. Pada masa kuliah daring, untuk kuliah yang diadakan pukul delapan pagi, saya bisa saja bangun pukul tujuh, leyeh-leyeh , cuci muka pukul 7.45 sebelum mulai menyalakan Zoom dan memasukkan mereka satu per satu ke ruangan. Namun di masa luring, ternyata saya harus bangun pukul enam, siap-siap yang serius (mandi dan mengenakan pakaian yang sopan), dan pergi paling lambat pukul 7.15 supaya tidak terlambat. Dalam hal persiapan ini, tentu kuli...

Jakarta

Sembilan bulan sudah kami tinggal di Jakarta. Sepanjang hidup, memang sudah cukup sering saya pergi ke Jakarta, tapi tidak untuk tinggal dalam waktu yang lumayan lama. Ini adalah kali pertama saya tinggal agak lama di luar kota kelahiran dan tempat saya bertumbuh, Bandung. Saya memilih untuk mengiyakan pindah ke Jakarta karena istri diterima kerja di sana. Oke lah, kenapa enggak untuk nyoba tinggal di luar Bandung? Di Jakarta, saya lebih banyak berdiam di apartemen atau nongkrong di kafe untuk menulis. Sepanjang itu, saya memang ingin lebih fokus menulis sembari mengajar atau mengisi forum di beberapa kesempatan (umumnya masih online ). Karena tidak punya kegiatan yang dikatakan rutin (meski menulis itu ya termasuk rutin), saya punya cukup waktu luang untuk bertemu beberapa kawan.  Apa yang bisa dikatakan tentang Jakarta? Dibandingkan dengan umumnya orang-orang yang saya temui di Bandung, orang-orang di sekitaran apartemen tempat kami tinggal bukanlah orang yang terlalu senang ber...