Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Memang harus diakui, meski mengerti beberapa konsep dalam filsafat sejak agak lama (mungkin sekitar sepuluh tahunan), saya tidak seberapa mendalaminya, atau bahkan menubuhinya. Misalnya, saya mengerti konsep-konsep dasar Marxisme sedari dulu, tapi ya hanya di tataran pikiran. Praktiknya, saya merasa sangat pragmatis, ikut saja ke mana kesempatan muncul. Agak berat untuk mengakui ini, tetapi akhirnya harus diakui, bahwa tahun 2017 dan 2018, saya merasa keren sekali karena menjadi bagian dari acara festival kota yang didanai oleh pemerintah. Acara tersebut sebenarnya berantakan, tapi pada masa itu saya enggan mengakuinya, sibuk membela diri, sibuk menunjukkan pentingnya acara tersebut, pentingnya diri saya ada di sana. Memalukan. Kemudian pada Pemilu 2019, saya ikut-ikutan membela politisi tertentu. Ada sekelompok orang yang menarik saya untuk bergabung, menjadi semacam bagian dari "tim penting" untuk melanggengkan beberapa orang untuk naik ke tampuk kekuasaan. Setiap hari, say...