Skip to main content

Posts

Showing posts with the label religiusitas

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Tubuh yang Menua

Menjelang usia empat puluh, tubuh mulai memberi tanda-tanda kecil yang tak bisa lagi diabaikan. Stamina tak lagi sama seperti dulu: langkah terasa lebih berat, tidur yang dulu cukup empat jam kini tak lagi memadai, dan sakit-sakit kecil yang dulu hanya datang sesekali kini mulai menjadi pengunjung tetap. Rasa letih kadang datang bahkan sebelum pekerjaan benar-benar dimulai. Gairah untuk mengejar segala hal juga sudah tidak setajam masa dua puluhan; ada semacam jarak yang terbentuk, antara keinginan yang berlimpah dengan kemampuan tubuh yang kian terbatas.  Pada titik ini, kita mulai belajar tentang melepaskan. Melepaskan hal-hal yang tak bisa lagi dipaksakan. Melepaskan mimpi-mimpi yang dulu mungkin terlampau besar, tetapi kini harus disesuaikan dengan kenyataan. Melepaskan gengsi, ambisi, bahkan beberapa orang yang tidak lagi sejalan. Proses menua, dengan demikian, adalah proses perelahan: ikhlas satu demi satu, seperti daun yang jatuh dari pohon, tanpa penyesalan, hanya mengikuti...

Anglikan

Tanggal 29 Mei 2025 kemarin, saya mengikuti ibadah Gereja Anglikan yang diadakan di sebuah apartemen di kawasan Pluit. Barangkali sebagian orang akan bertanya, “Kenapa ikut ibadah?” Jawaban saya sederhana: karena saya senang mempelajari keberagaman. Selain itu, beberapa waktu lalu saya sempat diusulkan untuk mengajar di sebuah sekolah tinggi yang didirikan oleh komunitas Anglikan di Cimahi. Jadi ada semacam dorongan, bukan hanya rasa ingin tahu, tapi juga keterkaitan praktis dengan kehidupan saya belakangan ini.  Sedikit sejarah: Gereja Anglikan lahir di Inggris pada abad ke-16, ketika Raja Henry VIII berselisih dengan Paus Roma. Dari sana, lahirlah sebuah gereja yang unik, yang di satu sisi masih mempertahankan banyak tradisi Katolik, namun di sisi lain juga menyerap semangat Reformasi Protestan. Anglikanisme kemudian berkembang luas, terutama di wilayah-wilayah bekas jajahan Inggris. Kini, komunitas Anglikan ada di berbagai negara, termasuk di Indonesia, meski jumlahnya tidak ter...

Tentang Jiwa-Jiwa yang Indah

Setelah melihat lebih banyak jenis manusia dalam hidup ini, saya semakin yakin tentang satu kategori bernama manusia dengan "jiwa yang indah" ( beautiful soul ). Manusia dengan jiwa yang indah ini cenderung Kantian, dalam artian patuh mengikuti aturan atas kesadaran dan hati nuraninya sendiri, bukan atas desakan atau mempertimbangkan keuntungan tertentu. Seseorang dengan jiwa yang indah tidak akan mencari profit dengan cara yang problematik seperti korupsi, menerima suap, atau memakan riba. Orang dengan jiwa yang indah merasa tenang dengan berpegang pada prinsip yang diyakininya, meski prinsip tersebut membuatnya miskin dan sengsara. Hal yang agak mencolok pada orang dengan jiwa yang indah ini - dan menjadi alasan mengapa ia dikatakan demikian - adalah keengganannya untuk bergulat dengan persoalan struktural yang kompleks karena yang menjadi pegangan utamanya adalah keluhuran moral. Terhadap nasib-nasib yang buruk, orang-orang dengan jiwa yang indah akan menilainya sebagai ke...

Pejalan (7)

  Hampir tiga bulan saya menjadi pejalan. Mengarungi satu per satu peristiwa untuk memahami maksudnya. Sebenarnya mungkin saja segalanya terjadi tanpa suatu maksud. Namun dengan menerka-nerka maksud, setidaknya peristiwa seburuk apapun tak menjadi terlampau mengecewakan. Jika kematian tak memiliki maksud apa-apa kecuali semata-mata keniscayaan biologis, maka narasi hidup bisa kehilangan maknanya. Bahkan usaha para nihilis untuk menganggap kematian sebagai semata-mata ketiadaan juga adalah semacam usaha menemukan maksud.  Terlebih lagi dalam suatu peristiwa yang katakanlah penderitaan, memberi maksud memang terkesan eskapis, tapi setelah dipikir-pikir: apa salahnya bersikap eskapis? Sama saja, seseorang belajar, bekerja, berkeluarga, dalam arti tertentu juga menjadi eskapis, bentuk pelarian dari kecemasan eksistensinya. Jadi tak melulu hal-hal "abstrak" seperti "hikmah", "makna", atau bahkan "kehendak Tuhan" bisa dituding sebagai eskapis, karena d...

Uzlah

Belakangan saya baru dengar istilah "uzlah" yang kurang lebih diartikan sebagai "pengasingan diri" atau "pemisahan diri". Dalam analisis saya yang tak paham agama, uzlah berbeda dengan hijrah. Meski sama-sama "berpindah", hijrah tak mensyaratkan pengasingan dari orang-orang. Dalam hijrah fisik, misalnya, saya bisa saja berpindah dari kota A ke kota B, tetapi saya tak harus kehilangan pergaulan di kota B, meski bersama orang yang benar-benar baru. Begitupun dalam hijrah batin, saya bisa meninggalkan kebiasaan lama, beralih menuju kebiasaan baru, dengan sirkel baru, tetapi tetap saja tak harus menjauh dari manusia.  Sementara dari ceramah-ceramah yang saya tonton, uzlah punya kecenderungan menjauh dari kehidupan sosial atau bisa juga: membatasi diri dari pergaulan. Kita tentu perlu manusia lain, tetapi dalam uzlah, semuanya sangat dibatasi. Tak usah bergaul kalau tidak perlu-perlu amat. Dalam sejumlah peristiwa, bahkan uzlah ini bisa dilakukan dala...

Hati

Membicarakan "hati" memang mudah untuk dituding sebagai romantisme, semacam bahasa batiniah yang dibentuk akibat ketidakmampuan menghadapi sesuatu secara rasional sehingga mengalihkannya pada hal-hal abstrak yang tak bisa diverifikasi dan difalsifikasi. "Hatiku mengatakan ada yang salah dengan semua ini", pernyataan semacam itu dipandang tak punya arti dalam ranah argumentasi, apalagi kala ditanya, "Alasannya kenapa?" Hati seringkali tak punya justifikasi, tak butuh justifikasi.  Saat beberapa waktu lalu berangkat ke Kabupaten P, saya belajar banyak tentang mengasah hati melalui berbagai ritual keagamaan yang sebelumnya tak rutin saya lakukan. Tujuan ritual-ritual semacam itu, salah satunya, adalah merawat hati, membuatnya lebih terdengar, tanpa mesti dibarengi justifikasi. Sang Guru beberapa kali bicara tentang hati beserta penyakit-penyakit yang menyertainya - hal-hal yang sering saya dapati ketika belajar agama di usia SD atau SMP: iri, dengki, sombong,...

Bacalah

  "Jadi, Stad, tentang surat ini, apakah saya ngaji atau baca tafsirnya?"  "Terserah maumu, salah satunya oke. Ngajinya akan memberi energi pembebasan. Tafsirnya bisa membuatmu tercerahkan."  Menarik obrolan dengan guruku ini. Soal tafsir saya bisa paham mengapa dia mengatakan demikian, tetapi kenapa "ngaji akan memberi energi pembebasan"? Padahal dalam mengaji, saya hanya membaca huruf-huruf Arab saja tanpa mengerti artinya. Namun saya mencoba memahami maksud perkataan tersebut: tanpa mengetahui arti, tanpa memahami makna, kita merengkuh peristiwa sepenuhnya. Arti dan makna kerap memerlukan bahasa (seperti yang sedang saya tuliskan sekarang), sementara saat merengkuh peristiwa, yang diperlukan terkadang hanyalah penghayatan, yang masuk ke dalam hati .  "Ngaji memberi energi pembebasan" ini juga mengingatkan saya pada bagaimana mengapresiasi seni. Sebelum atau pada saat kita berinteraksi dengan karya seni, seringkali kita terdorong untuk mengajuk...

Isyarat Kebajikan

  Apakah isyarat kebajikan ( virtue signaling ) sama dengan kebajikan ( virtue ) itu sendiri? Agak sukar menakarnya. Sebelumnya, mari ketahui apa yang dimaksud dengan isyarat kebajikan. Sesuai istilahnya, isyarat kebajikan adalah kebajikan yang diisyaratkan, yang dalam hal ini dilakukan sedemikian rupa sehingga orang lain mengetahuinya. Persoalannya, kebajikan yang diisyaratkan bisa jadi berbeda dengan kebajikan yang dipegang sebenar-benarnya dalam diri seseorang itu. Apa yang diisyaratkan bisa jadi mengandung suatu kepentingan tertentu yang tak hanya bersifat pragmatis, melainkan bisa juga oportunistis. Sebagai contoh, saya tidak biasa memberi uang pada orang yang meminta-minta. Namun saat saya tahu bahwa perbuatan saya bisa direkam dan diunggah di media sosial, saya mulai memberi uang pada orang yang meminta-minta asalkan orang-orang di media sosial bisa melihatnya. Tanpa diisyaratkan, saya tak akan melakukan kebajikan itu.  Isyarat kebajikan memang terkesan buruk, tetapi bi...

Agama dan Pengalaman Psikedelik

Pengalaman psikedelik rasa-rasanya mesti dialami setiap orang, minimal sekali seumur hidup. Saya pernah merasakannya lewat "jamur ajaib". Meski hanya beberapa kali saja (dapat dihitung jari), pengalaman semacam itu adalah pengalaman yang selalu saya kenang: tentang realitas yang tampil dengan cara yang lain, tentang kesadaran yang dilampaui. Saya banyak tersenyum ketika menonton film dokumenter berjudul Have a Good Trip: Adventures in Pyschedelics (2020) di Netflix. Alasannya, saya betul-betul relate dengan pengalaman visual mereka yang diwawancarai dalam film tersebut seperti Sting, Carrie Fisher, Anthony Bourdain, dan Sarah Silverman. Orang-orang itu bercerita tentang benda yang mendadak bisa menari-nari dan bahkan bisa berbicara pada mereka, hidup dalam kartun tiga dimensi, pengalaman masuk pada dimensi lain, dan visual-visual khas lainnya sebagai efek yang muncul dari konsumsi LSD, peyote, "jamur ajaib", atau ayahuasca.  Have a Good Trip adalah dokumenter yan...

Pejalan (6)

Kata kedua orang tua saya (yang telah wafat), Syarif Maulana artinya "pemimpin yang bijaksana". Meski menyukai nama tersebut, saya tak terlalu peduli pada artinya. Saya kira, makna semacam itu hanya sugesti saja, tidak mencerminkan suatu karakter atau nasib tertentu. Sampai suatu ketika, saya berjumpa dengan seseorang yang saya anggap sebagai pembimbing spiritual. "Saya mau membimbingmu," katanya kira-kira, "karena namamu Maulana." Alasan yang aneh dan tidak rasional, tetapi sekurang-kurangnya memperlihatkan bahwa nama ternyata punya tuah juga.  Sampai suatu ketika pula, setelah berbagai kejadian belakangan ini, Guru di kabupaten P2 kemudian mengungkapkan pendapatnya tentang nama saya, "Namamu itu maknanya lumayan berat. Artinya kira-kira setara raja, tetapi bukan cuma raja, melainkan raja para raja, alias raja diraja." Guru lalu melanjutkan, "Karena nama itu, kau menjadi seseorang dengan ego yang tinggi." Agak sedih mendengarnya, karen...

Pejalan (5)

  Kemampuan berimajinasi membuat kita mampu membayangkan tempat manapun tanpa harus pernah benar-benar ke sana. Kita bisa membayangkan berada di puncak gunung, berpindah sejauh ribuan kilometer, hingga mengkonstruksi dalam pikiran: suatu tempat di masa lalu atau masa yang akan datang. Imajinasi membuat manusia bisa jauh mengembara melampaui dirinya. Meski usia seseorang katakanlah, hingga sampai tujuh puluhan tahun, imajinasi bisa membuat siapapun mampu merenungkan waktu-waktu yang lebih panjang dari masa hidupnya, bahkan bisa sampai jutaan kali lipat. Imajinasi bahkan bisa sampai pada merenungkan: keabadian.  Pengetahuan adalah modal lain yang kita punya. Melalui pengetahuan, kita bisa menguasai suatu perkara dan mencari jalan keluar tentangnya. Mirip dengan imajinasi, pengetahuan juga bisa berupa sesuatu yang tak perlu kita alami langsung. Pengetahuan tentang hukum, misalnya, tidak mensyaratkan kita mesti menjalani proses hukum. Pengetahuan tentang suatu penyakit bukan artin...

Pejalan (4)

  Suatu waktu saya berjanji dalam hati, untuk tidak kembali ke dunia itu lagi. Namun setelah dipikir-pikir, kenapa saya harus menggunakan kata "kembali"? Selama ini saya berjalan terus, membawa dunia saya sendiri: untuk orang-orang mendekat, menjauh, tinggal, nongkrong, check in , check out , di dalam dunia yang saya bawa. Seorang pejalan semestinya tak pernah " stuck " dalam suatu perhentian dan bermukim untuk waktu yang terlalu lama. Pejalan selalu bergerak, menanggalkan perasaan nyamannya karena sekaligus tahu, kenyamanan dapat membunuh kepenasaranan, keinginan untuk terus mencari.  Pertanyaannya, sampai kapan harus terus mencari? Sampai kapan muncul perasaan untuk tak harus bermukim di suatu tempat? Bukankah jiwa ini bisa kelelahan jika terus-terusan mencari? Sejujurnya, saya juga tak tahu hingga entah kapan. Hanya saja saya merasa tak sanggup lagi berpegang pada yang sudah-sudah. Hubungan dengan manusia begitu rapuh. Seseorang bisa jadi kawan dekat bertahun-tah...

Pejalan (3)

  Seorang pejalan tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pejalan adalah orang yang menghayati perpindahan tersebut. "Saya akan pergi ke minimarket yang jaraknya seratus meter," seseorang bisa mengatakan demikian, tetapi tak bisa dikatakan pejalan jika seratus meter dipandang sebagai jarak yang menghalangi dirinya dan tujuannya. Bagi sang pejalan, minimarket itu tentu penting, tetapi lebih penting lagi: seratus meter yang diarunginya. Seorang juru sampan bernama Vasudeva dalam novel Siddhartha karya Herman Hesse pernah membicarakan tentang "jarak yang memisahkan". Saya lupa persisnya, tetapi kira-kira Vasudeva mengatakan semacam ini, "Banyak orang menganggap sungai hanyalah penghalang bagi tujuannya, padahal kita bisa dengarkan banyak suara dari sungai ini."  Selama ini saya tak paham apa arti menjadi pejalan. Alasannya, sebagai orang yang pernah begitu aktif bermedia sosial, perjalanan adalah sekaligus kesempatan untuk membuat konten. Saya...

Pejalan (2)

  Setelah perjalanan bus kurang lebih tiga belas jam, saya tiba di kabupaten P2 sekitar pukul enam pagi. Jarak ke lokasi ternyata masih cukup jauh sehingga saya memutuskan untuk ngopi-ngopi di sebuah warung. Saya ngobrol dengan warga lokal sambil menyantap makanan khas di sana. Kesan saya, warga lokal ini sangat ramah dan senang sekali bercerita. Saya akhirnya diminta naik becak ke lokasi sambil menikmati pemandangan sawah dan menghirup udara segar. Sungguh lingkungan yang nyaman, jauh dari hiruk pikuk perkotaan beserta segala konfliknya yang kadang dibuat-buat saja.  Lokasi yang akan saya kunjungi adalah sebuah pesantren. Tempat yang tidak pernah akrab bagi saya, meskipun punya beberapa teman yang berasal dari lingkungan tersebut. Saya diundang oleh orang penting di pesantren itu, atau bisa dikatakan juga semacam pimpinannya. Mungkin pimpinan ini juga ada banyak dan berhierarki, tapi yang pasti orang tersebut, yang berikutnya saya sebut saja sebagai Guru, adalah salah satu ya...

Pejalan (1)

  Suatu sore, seorang kawan menelpon, katanya datang saja ke kota P1. Saya tanya, apakah datang saja, atau menginap beberapa hari, atau bagaimana? Katanya, tinggal di sini saja, untuk waktu yang tidak ditentukan. Saya kaget mendengar tawaran tersebut, tapi juga sekaligus memikirkannya. Bagi saya yang seumur hidup tinggal di kota B1, pindah ke kota lain bukanlah sesuatu yang mudah. Meski demikian, saya lumayan mempertimbangkan, meski entah kapan akan berangkat dan tinggal di sana.  Hampir di waktu bersamaan, saya mengirim pesan pada seseorang yang nomornya saya dapat di internet. Intinya, saya bertanya apakah ada pekerjaan untuk saya? Dia menjawab ada. "Tapi," katanya, "Sebelum membahas soal pekerjaan, ikut yuk ke kota B2." Oh, ada apa? Tanya saya. Halaqah dzikir, katanya, pengajian tasawuf. Saya terkaget lagi. Saya tidak kenal siapa orang yang saya kirimi pesan tersebut, tetapi kenapa dia tiba-tiba ajak saya ke kota B2 untuk ikut pengajian? Menariknya, saya tidak pi...

Lebaran

Lebaran adalah momen menghitung. Menghitung uang untuk jadi perbekalan, menghitung jumlah makanan, menghitung sanak saudara yang harus dikunjungi, menghitung durasi perjalanan mudik, serta menghitung siapa yang masih tinggal dan siapa yang telah pergi. Lebaran punya nilai religius, tentu saja, sebagai suatu ujung dari perjuangan sebulan penuh dalam menahan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Meskipun soal hawa nafsu ini kadang dikekang sementara saja, semacam formalitas, yang membenarkan kita untuk melakukan "kompensasi" dalam bentuk konsumerisme gila-gilaan. Kapitalisme "memberi jalan" bagi orang-orang yang kesulitan untuk mengartikan konsep fitrah, agar diwujudkan dalam bentuk-bentuk barang atau momen yang merepresentasikan hal itu, yang membuat konsep fitrah menjadi "tampak", misalnya: baju baru, hidangan yang berbeda dari hari-hari biasanya, atau halal bi halal dengan menyewa ruang pertemuan atau restoran. Lagi-lagi, lebaran adalah soal menghitung.  Bagi tok...

Tentang Sedekah dan Zakat

Ilmu agama saya, terus terang, tidak terlalu bagus. Lebih tepatnya, apa yang saya dapatkan selama ini tentang Islam, berasal dari dogma-dogma dan ajaran yang ditanamkan sejak kecil. Saya tidak pernah belajar agama secara formal atau mendalaminya dengan ilmu yang memadai. Modal saya ya hanya filsafat inilah, yang membuat saya berani mengorek-ngorek secara kritis perihal agama, terutama agama yang saya anut. Selama ini, saya menganggap sedekah adalah sesuatu yang mulia dan memang benar, mulia. Ibu mengajarkan untuk bersedekah sambil berpesan: jangan takut harta berkurang, karena sebaliknya, justru akan bertambah . Jika kita berhenti sampai di sana, tentu segalanya aman dan sentosa, tetapi, sialnya, nalar filsafati ini ingin saja mengejar dan mempertanyakan: apakah benar sesederhana itu?  Kunci sedekah adalah "seikhlasnya". Setahu saya, tidak ada keharusan untuk memberikan sedekah sebanyak sekian persen dari harta yang dimiliki atau penghasilan rutin. Seikhlasnya berarti ada pra...

Dosa Struktural dan Individual

Konsep dosa memang sekilas mudah sekali ditujukan bagi individu yang melakukan suatu tindakan langsung. Misalnya, lalai beribadah, mabuk, judi, zina, itu semua mudah dibebankan pada perorangan. Kalau saya berzina, misalnya, itu dosa saya pribadi, saya yang menanggungnya, atau, termasuk juga, orang yang saya ajak berzina dan ia setuju. Jika saya seorang tentara, saya memang melaksanakan perintah atasan untuk membunuh lawan. Mungkin atasan saya berdosa karena memerintahkan demikian, tapi peluru yang saya tembakkan, yang membunuh orang di hadapan secara langsung, itulah yang membuat saya menjadi merasa lebih berdosa, mungkin, ketimbang atasan saya. Namun dalam suatu tindakan yang tidak langsung, atau bersembunyi di balik kerumitan yang bersifat struktural, yang membuat seseorang bisa "menghilang" di balik birokrasi, bagaimana dosa bisa tetap menyasar orang secara individual? Ini menjadi pertanyaan saya belakangan, saat melihat misalnya, presiden yang membuat keputusan perang den...

Anarkisme dan Kristianitas Menurut Jacques Ellul

  Jacques Ellul (1912 – 1994) adalah pemikir Prancis yang banyak memfokuskan gagasannya pada teknologi, media dan anarkisme. Sebagai seorang Kristiani, ia kerap mendasarkan berbagai argumennya pada Alkitab, termasuk yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu terkait anarkisme. Dalam bukunya yang berjudul Anarchism and Christianity , Ellul mengurai bahwa anarkisme tidak hanya kompatibel dengan Kristianitas melainkan lebih dari itu, di dalam Kristianitas, sudah terkandung secara inheren gagasan-gagasan anarkisme.  Anarkisme, singkatnya, adalah aliran pemikiran yang menghendaki penghapusan otoritas dan hierarki. Dalam mencapai tujuannya tersebut, para pemikir anarkisme punya pandangan yang berbeda-beda. Ellul sendiri memilih untuk setia pada jalur non-kekerasan sebagai jalur yang dianggap sejalan dengan ajaran Yesus. 1 Koheren dengan pandangan anti-otoritas dan anti-hierarki-nya anarkisme, Ellul dengan tegas menolak partisipasi politik dalam bentuk apapun. 2 Namun ia sendiri mene...