Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Ulas Musik

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Yang Tuna Nada, Yang Berjaya

(artikel diturunkan dari Pop Hari Ini )    Media sosial adalah tempat orang bisa mengunggah konten apapun untuk dikonsumsi publik. Meski demikian, konten-konten tertentu, yang mengganggu kenyamanan pandangan, sadis, bikin eneg dan risih, tentu bisa dilaporkan ramai-ramai untuk kemudian dihapus oleh admin media sosial. Nah, tapi kenapa yang kerap dilaporkan dan diturunkan itu hanya hal-hal yang mengganggu pandangan mata? Bagaimana dengan konten yang mengganggu pendengaran alias bikin telinga tidak nyaman? Rasanya jarang orang melakukan report ramai-ramai hanya karena mereka tidak suka pada aspek audio dari suatu konten. Alasannya mungkin sederhana: Kalau tidak suka suaranya, tinggal di- skip saja kontennya, atau di- mute saja audionya. Menariknya, alasan yang sama belum tentu bisa diterapkan pada konten visual (hal yang mengganggu mata kadangkala tidak hanya di- skip , tapi juga sekaligus di- report ).  Salah satu conton konten yang mengganggu pendengaran adalah orang m...

Musik Latar di Kafe: Gangguan Menyenangkan dan Pemecah Keheningan

(artikel diturunkan dari Pop Hari Ini )  Sebagai orang yang mencari nafkah dari menulis, faktor suasana merupakan hal yang krusial dalam membangun mood agar bisa menuangkan kata-kata ke dalam tulisan dengan lancar. Atas dasar itu, saya sering mencari kafe yang nyaman dengan pertimbangan tidak hanya makanan dan kopinya yang enak ataupun suasananya yang tenang, melainkan juga musik apa yang biasa diputar. Musik ini, bagi saya, sangat mempengaruhi mood dan konsentrasi.  Kafe yang memutar musik populer seperti misalnya Tulus atau Adhitia Sofyan tentu bagus dan membuat suasana menjadi hidup. Namun hati-hati dengan popularitas sebuah lagu, yang bisa jadi malah menghanyutkan kita untuk ikut bernyanyi, alih-alih berkonsentrasi memeras gagasan. Menulis melibatkan proses berpikir dan proses berpikir tidak jarang dilakukan dengan cara “berdialog dengan diri sendiri”. Bagaimana mungkin bisa berdialog dengan lancar jika ada “gangguan menyenangkan” berupa nyanyian misalnya: “ Ku percaya s...

Apa itu Kritik Musik?

  (Respons atas tulisan Aris Setyawan) (Artikel yang diturunkan dari Pop Hari Ini) Pada tanggal 27 Juli 2023, terbit tulisan berjudul Ketika Kritik Musik Merambah Media Sosial di situs Pop Hari Ini yang ditulis oleh Aris Setyawan. Dalam teksnya tersebut, Aris mengritik komentar-komentar tentang musik yang muncul di media sosial seperti Twitter, yang biasanya hanya berupa umpatan tidak berargumen.  Bagi Aris, secara historis, kritik musik yang kredibel muncul dari media massa besar seperti Rolling Stone , The Guardian , New York Times , Pitchfork , atau Jakartabeat.net untuk konteks Indonesia. Alasannya, mengutip Idhar Resmadi dalam bukunya yang berjudul Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya , kritikus musik kerap nyambi bekerja sebagai jurnalis. Dengan demikian, kritik musik dan media massa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.  Kalaupun terdapat kritikus musik yang muncul dari luar sirkel jurnalis, hanya segelintir yang punya kapasitas mumpuni. Aris kemudia...

Hal-Hal yang Dirindukan dari Rilisan Fisik

Kemunculan rilisan musik dalam bentuk digital yang kian marak dalam dekade terakhir ini tidak hanya pelan-pelan menggantikan popularitas rilisan fisik, tapi juga menggantikan cara-cara kita dalam menyimpan dan mendengarkan musik. Memang rilisan digital, dalam banyak hal, memiliki keunggulan seperti misalnya praktis, tidak banyak menyita ruang (bandingkan dengan mereka yang mengoleksi banyak kaset atau CD yang bisa jadi memerlukan rak khusus) dan secara umum lebih ekonomis. Jika kita membeli paket Spotify Premium misalnya, kita sudah dapat mendengarkan ribuan lagu. Bandingkan dengan masa-masa kita harus membeli rilisan fisik, yang untuk mendengarkan satu album, kita harus membeli album kaset atau CD di toko musik, yang satunya hanya berisi sekitar delapan hingga dua belas lagu-an.  Sebagian generasi yang lahir tahun 2000-an bisa jadi tidak terlalu mempunyai pengalaman intens dengan yang namanya kaset atau CD, apalagi piringan hitam. Bahkan bagi generasi Z tertentu, rupa dari benda-b...

Musik yang Bercakap-Cakap di Taman Ria Szikofrenia

Tanggapan atas album Lunar (2021) oleh Blue Ocean Project    Albumini. Boleh-saja memberikansuatu. Narasi. Untuk. Mem. Bantu-kitame. Mahami. Ten-tang-mu. Sik. Nya. Tapinarasiitubisajaditidaksedemikiansignifikanka. Rena tanpa ce. Rita tersebut – tentang Stephangelie yang. Skizofrenik dan. Teman imajiner. Nyaberna. Ma Lunar, kitabisatetapmen. Dalami musikdariBlue. Ocean Project (BOP). Ini. Tapi jikapuningin te. Tap me-ngacu-pa-da-narasinya-, yang. Da. Lam. titiktertentuwajarsekaliuntukkitaselami, lebih. Menarik jika-ki-ta mencari-carihub-ungan. Antara. Teks ten-tang. Stephangeliedenganmu. Sik yang hendakdi. Sajikan. Setelah mende. Ngarkan sembi-lan lagu di dal-am album. Ini, kita mungkin men. Coba me-ner-kabagaimana hubungan. Antara musikdan narasi. Hubungan yang bersifat. Sinestesia. tentusaja a-dalah. yangpalingmungkin: membuat kitamendengarkanmu. Sikseperti mem-ba-ca. Teksnya. – sepertiyangdilakukanWassily Kan-dinsy dalam karya-rupa-nya. Yang. Ter-pe-nga-ruholehmusikatau. Bis...

SONTAK dan Harapan Bagi Ekosistem Perbunyian di Bandung

Poster SONTAK, diambil tanpa izin dari Facebook Page. Mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan pergi meninggalkan Bandung, namanya Diecky Kurniawan Indrapraja. Apa yang diwariskan Diecky ini cukup penting, hingga mengundang tanya bagi saya pribadi, “Adakah (orang di Bandung) yang sanggup menggantikan Diecky?” Mungkin yang membaca tulisan ini bertanya-tanya: Lah, Diecky ini memangnya siapa? Apa yang sudah ia lakukan?  Diecky adalah komponis asal Surabaya yang lama tinggal di Bandung untuk studi. Saya tidak punya data akurat tentang berapa lama ia tinggal di Bandung, tapi jika dihitung dari kapan ia masuk kuliah, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Diecky tidak hanya mengomposisi karya, ia juga mengajar, baik formal maupun non-formal. Salah satu tempat mengajar non-formalnya adalah di garasi rumah saya, Garasi10. Di sana ia, di hadapan belasan muridnya (termasuk saya), menyebarkan suatu paham yang menurut kami semua begitu aneh, yaitu tentang musik kontemporer, ...

Jangan Tumbuh: Musik Sureal yang Menyakitkan

Ditulis dalam rangka acara TAWURAN (Tanya Jawab Ulas Rancangan) Jangan Tumbuh tentang peluncuran video klip Dhira Bongs di The Silk Hotel, Kamis, 26 Juli 2018. Membicarakan musik adalah sesuatu yang mudah sekaligus sukar. Mudah karena musik amat kuat menimbulkan suatu kesan - Bambang Sugiharto menyebut musik sebagai seni yang paling “langsung” dan “dalam” -. Musik tertentu dapat membuat kita ingat pantai, berduaan bersama kekasih, galau mengenang kematian, marah terhadap otoritas, dan lain sebagainya. Sehingga membicarakan musik menjadi mudah karena hanya tinggal membicarakan impresi-impresi apa yang terbangkitkan dari rangsangan audial itu sendiri. Membicarakan musik tapi juga sesuatu yang sukar. Alasannya, jika musik menimbulkan suatu impresi dan kemudian kita malah membicarakan impresi itu, lantas apakah kita menjadi membicarakan sesuatu di luar musik? Sebaliknya, jika kita membicarakan musik dalam konteks dirinya sendiri - dalam hal ini, misal, progresi akor, harmon...

Jumat Apresiasi Musik: Bereksplorasi Bersama Tesla Manaf

Pada hari Jumat, 16 Februari itu, saya diminta oleh Kang Djaelani untuk mengisi forum bernama Jurasik atau Jumat Apresiasi Musik. Acara yang katanya diadakan setiap bulan di minggu ketiga tersebut diadakan di Jendela Ide, Sasana Budaya Ganesha. Secara umum, Jurasik merupakan forum yang menampilkan berbagai musisi atau kelompok musik untuk kemudian diapresiasi sekaligus ditanggapi.  Pada Jurasik kemarin itu, yang tampil adalah musisi yang lebih dikenal sebagai gitaris jazz, Tesla Manaf. Acara dimulai cukup ngaret karena seperti biasa, menunggu lebih banyak audiens untuk hadir. Setelah acara dibuka oleh Kang Djaelani selaku inisiator dan juga salah satu penanggap, Tesla langsung tampil memainkan bebunyian, berduet dengan pemain drum Rio Abror.  Iya, Tesla tidak bermain gitar. Ia memainkan seperangkat alat yang menghasilkan bunyi-bunyi yang jauh dari kenyamanan. Kita bisa katakan, Tesla tengah memainkan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Dari seperangkat alat yang d...

Let's Play Violin: Mendengarkan Perjalanan Hidup Ammy Kurniawan

Menuliskan ulasan tentang album perdana violinis Ammy Kurniawan adalah sesuatu yang cukup rumit. Selain musiknya yang memang tergolong tidak sederhana, juga karena posisi saya yang begitu campur aduk baik sebagai pendengar musik, produser eksekutif, pemain yang mengiringi Ammy, murid, bahkan juga sahabat. Intinya: Harus sebagai apa saya memposisikan diri dalam tulisan ini? Tentu saja, agar para pembaca punya pengetahuan yang lengkap tentang si album, saya harus mengulasnya dengan analisis yang baik. Namun kenyataan bahwa saya punya hubungan sangat baik dengan sang solois, membuat saya juga kemudian akan memberikan pandangan-pandangan subjektif -untuk memberikan pengetahuan tentang siapa Ammy Kurniawan yang selama ini bukan cuma menghasilkan notasi demi notasi, tapi juga gagasan dan inspirasi-. Let's Play Violin adalah album yang terbilang telat dihasilkan oleh pemain sekawakan Ammy. Padahal, karirnya di dunia musik sudah merentang begitu panjang. Selama menekuni bidang...

Victorian - The Journey: Symphonic Metal Bernuansa Religi

Tanggal 24 Maret kemarin, di sebuah kafe yang sedang mengadakan acara musik jazz, saya disodori sebuah album CD dengan deskripsi sebagai berikut: Sampulnya bergambar perempuan bermain biola, mengenakan gaun hitam, dengan latar belakang kastil. Melihat tipografi yang digunakan untuk menuliskan nama band ini, yaitu Victorian, sudah dapat diperkirakan bahwa jenis musik yang diusungnya adalah metal. Pun jika melihat judul-judul lagunya yang mengandung kata-kata seperti " sorrow ", " lie ", " enemy ", " weak ", kita bisa tahu bahwa kemungkinan besar memang metal-lah musik yang dibawakannya. Singkat cerita, saya diminta untuk me- review album berjudul The Journey ini. Makan waktu lebih dari satu bulan untuk me- review album ini. Bukan semata-mata karena saya sok sibuk, melainkan kenyataan bahwa referensi saya tentang musik metal ini biasa-biasa saja. Mungkin iya sedari kecil saya suka Metallica dan pernah menyaksikan langsung pertunjukkan li...

Musik 15

Beberapa bulan ke belakang, Kang Ammy (Ammy Kurniawan, pemain biola), mengontak saya via Whatsapp. Katanya, “Saya ingin membuat pertunjukkan rutin di kafe, tapi hanya lima belas menit saja per penampilan.” Waktu itu, saya tidak begitu menggubris ide tersebut. Apa yang bisa diharapkan dari pertunjukkan cuma lima belas menit? Tidakkah orang-orang yang datang ke sebuah kafe, berharap ada live music yang durasinya cukup panjang untuk menemani mereka berbicang-bincang sambil bersantai?  Lima belas menit tentu saja terlalu pendek. Lima belas menit adalah durasi yang dibutuhkan bagi orang untuk menunggu pesanannya datang. Setelah pesanan itu datang, mereka akan bersantap kurang lebih setengah jam. Kemudian, sehabisnya hidangan, orang-orang di kafe akan mengobrol hingga lama, tergantung suasana sekitar yang mendukung. Artinya, live music yang “ideal” tentu saja tidak kurang dari satu setengah jam.  Namun, Kang Ammy tetap bersikeras akan ide pertunjukkan berdurasi l...