Skip to main content

Posts

Showing posts with the label romantika

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Tentang Makan Malam Kami

Makan malam kami 9 April kemarin terasa spesial. Selain karena diadakan dalam rangka ulang tahun Nadya, juga karena restorannya istimewa. Namanya AOM Steak House di Pasirkaliki. Bukan tipe restoran dengan harga yang bisa kami jangkau sehari-hari. Saat kami masuk, kami disambut musik live dengan genre jazz. Ada kontrabas di sana, tapi ternyata cuma pajangan karena pemain basnya lebih memilih pake bas elektrik. Saya dan Nadya duduk persis di depan band nya, kami duduk sebelahan karena memang format duduknya seperti itu (hal yang sebenarnya Nadya jarang mau lakukan karena katanya suka kagok kalau makan). Cahayanya temaram, bikin tidak banyak hal yang harus dilihat di tempat itu kecuali antara kita sendiri, meja makan, dan band di hadapan.  Nadya memesankan makanan, dua menu pembuka, saya lupa namanya. Minumnya teh dan jus. Setelah itu menu utama, Nadya steak, saya spaghetti. Sebelum mulai makan menu utama, saya memberikannya rangkaian mawar merah. Dia tahu aku akan memberikan itu, tap...

Menjadi Caregiver

Bulan Juli 2025, Nadya, pasangan saya, divonis mengalami depresi. Klaim ini bukan muncul dari pengakuannya semata, melainkan berdasarkan diagnosis profesional dari psikiater. Sebelumnya saya sempat cukup skeptis terhadap berbagai klaim gangguan kejiwaan, karena tidak jarang orang mengaku mengalami depresi tanpa pemeriksaan ahli (“saya depresi loh”). Menurut saya, pengakuan tanpa dasar medis seperti itulah yang perlahan merusak pemahaman publik tentang depresi. Padahal depresi merupakan persoalan serius dan tidak semestinya diklaim begitu saja hanya berdasarkan gejala yang dirasakan secara subjektif.  Dengan vonis tersebut, akhirnya saya memposisikan diri sebagai caregiver atau orang yang merawat Nadya. Kondisinya itu membuat Nadya belum memungkinkan untuk bekerja kantoran, kena tekanan berat, dan berada dalam kerumunan. Kami akhirnya memutuskan untuk berdagang kuliner (ayam crispy), dengan harapan Nadya sebagai owner bisa mengatur waktu kapanpun untuk beristirahat karena saya yan...

Berdagang Ayam Crispy

Sejak akhir Desember 2025 kemarin, Nadya dan saya memutuskan untuk berdagang. Kapok dengan dagang roti tahun 2024 yang kurang laku, akhirnya kami memutuskan berdagang yang "aman-aman saja" yaitu ayam crispy. Ayam crispy ini kami beli lisensi atau franchise saja supaya tidak ribet. Bahan-bahan sudah ada, kami tinggal masak. Nama produknya Pride Chicken. Setelah survei sana-sini, kami memutuskan untuk menyewa tempat di daerah Ujungberung. Wilayah yang sebenarnya jauh dari lokasi kediaman kami, tetapi tidak apa-apa, siapa tahu hoki kami ada di sana.  Singkat cerita, saya mengikuti training sekitar empat hari sebelum akhirnya pihak Pride Chicken mengirimkan gerobak ke lokasi tempat kami berjualan. Seminggu awal, saya kuat berjualan sendirian. Saya menggoreng ayam, melayani pembeli, dan beres-beres. Namun lama kelamaan, badan ini remuk juga. Apalagi untuk sampai ke lokasi jualan, perlu sambung menyambung ojek baik online maupun offline .  Akhirnya kami memutuskan merekrut pegaw...

Cerita Sahur untuk N #22

Cerita Sahur adalah kumpulan e-mail pribadi yang dikirimkan pada kekasih saya, N, setiap harinya selama Ramadhan 2025. Beberapa diantaranya diunggah di blog atas seizin N.   Selama kamu sakit kemarin-kemarin, aku total tiga kali pulang jalan kaki dari Cilentah ke Rebana selepas antar makanan. Jaraknya lumayan, mungkin hampir dua kilo, tapi entah rasanya ringan saja. Mungkin karena jalurnya lurus-lurus saja, atau karena jalan pulang memang selalu lebih ringan.  Pergi juga dalam waktu-waktu tertentu, sebenarnya ringan-ringan saja. Aku sering jalan kaki dari jam 6-an untuk jemput Baby O alias Si Bocil. Perasaanku juga ringan karena tahu Si Bocil akan mampu menyuntikkan keceriaan dalam waktu singkat perjalanan kami dari Cilentah ke Bhayangkari. Celotehannya yang ajaib selalu mampu meredakan segala keletihan, mengubahnya menjadi kebahagiaan.  Namun perginya aku untuk merawat N sedikit punya perasaan yang berbeda. Ada sense of emergency. Selain memang N yang sehat pun punya na...

Cerita Sahur untuk N #20

Cerita Sahur adalah kumpulan e-mail pribadi yang dikirimkan pada kekasih saya, N, setiap harinya selama Ramadhan 2025. Beberapa diantaranya  diunggah di blog atas seizin N.   Ini adalah surat imajiner untuk Kang D, mantan suami N: Kang D,  Kalau manggil A, rasanya terlalu akrab ya, soalnya kita belum pernah bertemu. Saya suka kepoin IG Akang, senang sekali melihatnya. Cita-cita saya juga ingin jadi musisi, Kang. Dulu pernah belajar gitar klasik dan jazz, tapi ya manggung seadanya saja, banyak yang jauh lebih jago, terutama anak-anak muda sekarang, hehehe. Jadi pas lihat Akang, wah keren sekali, bisa mengejar passion sampai ke Bali.  Kang D, ini N—yang biasa Akang panggil dengan apa ya—sekarang, Insya Allah, saya yang menjaganya. Akang bisa tenang mengejar cita-cita Akang. Walaupun hati N sudah banyak luka dari masa lalu, saya menerima segala kurang lebihnya. Saya pun bukan tanpa kesalahan. Pernah menikah dua kali, keduanya gagal, jadi sudah pasti pernah punya pengal...

Cerita Sahur untuk N #16

Cerita Sahur adalah kumpulan e-mail pribadi yang dikirimkan pada kekasih saya, N, setiap harinya selama Ramadhan 2025. Beberapa diantaranya diunggah di blog atas seizin N. Percakapan imajiner dengan O, putra N, ceritanya di suatu masa ketika dia mulai dewasa:  "O, gimana, kamu jadi kasih bunga dan kue untuk Haliza?"  "Iya, dia senang sekali! Katanya belum pernah ada laki-laki seperhatian ini sama dia."  "Oh ya?"  "Iya, tapi O gak percaya kata-kata nya. Kan dia habis jalan sama cowok. Mungkin dia katakan juga hal yang sama pada cowok itu."  "Mungkin saja, O, tapi mungkin juga dia sungguh-sungguh mengatakan hal demikian pada O." "Tapi, bagaimana kita tahu mana yang benar mana yang tidak, Om?"  "O, cinta bukan sains, kita tidak bisa membuktikannya secara pasti. Tapi karena tidak bisa dibuktikan sepenuhnya itu, kita kadang cuma bisa meyakininya."  "Gimana maksudnya, Om?"  "Kamu tahu, Mami adalah orang yan...

Cerita Sahur untuk N #3

Cerita Sahur adalah kumpulan e-mail pribadi yang dikirimkan pada kekasih saya, N, setiap harinya selama Ramadhan 2025. Beberapa diantaranya diunggah di blog atas seizin N.   N, kekasihku, Tapi apa itu cinta? Aku gak ngerti. Apa arti "aku mencintaimu"? Aku juga gak ngerti. Mungkin ungkapan2 seperti itu nyaris gak ada maknanya, sama seperti kita mengatakan "semua udah ada yang ngatur" atau "sabar nanti juga ada hikmahnya".  Dalam filsafat, pernyataan semacam demikian disebut pernyataan etis (bermuatan moral) atau bisa disebut juga pernyataan estetis (bermuatan keindahan) yang tidak punya truth value. Beda dengan pernyataan semacam "hari ini hujan" atau "di dompetku ada uang 5000" punya truth value karena bisa dicek kebenarannya.  Tapi, apakah sungguh2 pernyataan "aku mencintaimu" gak punya truth value?  Kita bisa artikan statement itu macam-macam:  aku mencintaimu = aku mau kita saling melengkapi dalam pelanggengan private prop...

Cerita Sahur untuk N #1

Cerita Sahur adalah kumpulan e-mail pribadi yang dikirimkan pada kekasih saya, N, setiap harinya selama Ramadhan 2025. Beberapa diantaranya diunggah di blog atas seizin N.   Hai, sayang, Ramadhan selalu b ajah buat kita yang enggak puasa, dan malah menyulitkan karena harus susulumputan. Tapi enggak bisa dipungkiri, bagi aku, mungkin bagi kamu juga, bahwa bulan puasa selalu menyimpan cerita, karena ritme hidup yang berbeda, dan ada hal-hal yang dipaksakan untuk menderita bersama (sahur, nahan laper), sehingga dalam arti tertentu yah, menjadi momen kedekatan bersama keluarga.  Tahun ini kita tanpa keluarga yah, kalau keluarga yang dimaksud adalah keluarga batih (nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Bulan puasa lalu aku sama P, tetapi umur pasangannya gak sampe lebaran. Aku menghabiskan malam takbiran di Ult bareng B dan J.  Tahun lalu kamu masih bareng A. Aku bisa membayangkan kamu pergi kerja, pulang langsung nyiapin makan untuk Baby O dan suami, untuk l...

Bahasa

Bahasa, jika dilihat dari permukaan, hanyalah rangkaian bunyi yang keluar dari pita suara. Ia bisa diurai secara teknis: getaran udara, fonem yang diatur dalam sintaks, lalu dirangkai menjadi kalimat. Di atas kertas, bahasa tampak seperti alfabet yang disusun rapi, sebuah kode yang bisa dibaca dan diterjemahkan. Tetapi siapa yang bisa menyangkal bahwa bahasa jauh melampaui sekadar bunyi dan huruf?  Melalui bahasa, aku bisa merawat relasi—mengatakan "aku mencintaimu" yang menumbuhkan rasa hangat dalam dada orang lain. Dengan bahasa pula aku bisa menghancurkan relasi, cukup dengan sebuah kalimat pedas, sebuah fitnah, atau sebuah diam yang disengaja. Bahasa bisa menjadi obat: menenangkan yang resah, menuntun yang hilang arah. Tapi bahasa juga bisa menjadi racun: menusuk yang rapuh, meninggalkan luka yang terus berdarah meski tak terlihat.  Bahasa bukan hanya medium komunikasi, melainkan medium kekuasaan. Lewat bahasa, aku bisa memerintah dan diperintah. Lewat bahasa, orang-orang...

Cemburu

Partner saya hampir tidak pernah menunjukkan rasa cemburu. Aneh memang, kadang hal itu terasa menyenangkan, tapi di sisi lain juga sedikit mengesalkan. Saya jadi berpikir ulang: sebenarnya apa dasar dari perasaan cemburu? Menurut saya, cemburu pada dasarnya lahir dari pengalaman diperlakukan tidak adil. Selama seseorang merasa dirinya diperlakukan secara adil, rasa cemburu seharusnya tidak muncul. Masalahnya, standar “adil” itu tidak pernah universal. Ada kalanya adil berarti perhatian yang dibagi rata, ada kalanya adil berarti eksklusivitas penuh, ada juga yang menoleransi berbagai ruang kebebasan selama kebutuhan dasar emosinya terpenuhi.  Partner saya, misalnya, tidak akan merasa cemburu hanya karena saya ngobrol atau bertemu dengan orang lain. Tetapi situasi berubah ketika perhatian saya mulai condong secara signifikan ke luar—misalnya saya memberi banyak waktu, energi, bahkan sampai memberi hadiah pada orang lain. Hal itu berimplikasi pada berkurangnya perhatian saya kepada di...

Monogami Inklusif

Saya dan NK menjalani sebuah bentuk relasi yang kami sebut sebagai monogami inklusif. Pada dasarnya, hubungan kami berakar pada komitmen monogami—saling mengasihi, merawat hidup satu sama lain, dan menempatkan pasangan sebagai rumah utama dalam perjalanan kehidupan. Namun, kami memberi ruang tertentu di mana masing-masing diperbolehkan untuk berkencan dengan orang lain. Ruang ini bukan berarti membuka ikatan begitu saja, melainkan dirancang dengan kesadaran, aturan, dan saling pengertian. Dalam praktiknya, ada sejumlah syarat yang menjadi pegangan kami. Prinsip pertama adalah keterbukaan: setiap orang yang terlibat dalam relasi ini harus mengetahui keberadaan pihak lain. Tidak ada ruang untuk sembunyi-sembunyi, karena justru kejujuran adalah fondasi yang membuat relasi ini sehat. Kedua, kami menjaga batas-batas. Artinya, meski diperbolehkan berkencan, ada garis yang tidak boleh dilanggar, baik secara emosional maupun fisik, sesuai dengan kesepakatan yang kami bangun bersama. Ketiga, ka...

Perbaikan yang Tidak Adil

Ada hal yang sering saya pikirkan belakangan ini: mengapa kesalahan yang kita lakukan pada satu orang, justru baru bisa kita perbaiki pada orang yang lain? Mengapa introspeksi tidak langsung menghasilkan perubahan di tempat yang sama, tetapi justru menjelma menjadi versi yang lebih baik… untuk orang berikutnya?  Dalam hidup saya, ini bukan sekadar renungan, tapi kenyataan. Dalam dua pernikahan sebelumnya, saya punya kekurangan—kadang dalam cara mendengar, kadang dalam memberi waktu, kadang dalam menahan ego. Hubungan itu pun tidak berlanjut. Tapi setelah semua itu, barulah saya benar-benar belajar. Barulah saya mulai memahami apa artinya hadir, apa artinya memberi ruang, apa artinya tidak selalu ingin benar. Sayangnya, dua perempuan yang pernah menjadi pasangan hidup saya tidak menikmati versi saya yang ini. Justru partner saya yang sekarang, yang datang belakangan, yang menerima saya setelah semua luka dan pelajaran itu, yang akhirnya mendapat "versi upgrade"-nya saya. Hidup...

Tentang Kompleksitas Masa Lalu

Di permukaan, pasangan saya adalah perempuan yang cantik dan supel. Senyumnya hangat, pembawaannya luwes, dan ia tahu cara menempatkan diri dalam berbagai situasi. Tapi seperti banyak orang yang tampak “baik-baik saja”, ada lapisan yang tidak mudah dilihat. Luka-luka yang tak berbentuk, tapi terasa. Trauma yang tidak selalu muncul sebagai tangis, tapi terkadang menyusup lewat kemarahan kecil, atau jarak yang tiba-tiba hadir di antara kami.  Dalam sebelas tahun hubungannya dengan mantan suami, partner saya itu mengalami banyak hal yang tidak semua orang sanggup ceritakan ulang. Dan sering kali, luka itu tidak perlu diceritakan untuk bisa hidup kembali—cukup satu gestur saya yang keliru, satu kalimat yang tak sengaja menyinggung, atau bahkan satu momen yang mirip dengan masa lalunya, dan semuanya seperti terulang. Bukan salahnya, bukan sepenuhnya salah saya juga. Tetapi itulah hidup bersama seseorang yang membawa masa lalu yang belum selesai: kita belajar bahwa cinta tidak hanya soal...

Tentang Hari Valentine

Hari valentine bukanlah hari yang penting bagi saya. Namun sesekali tidak ada salahnya dirayakan, hanya sebagai lucu-lucuan, sebagai cara untuk memanifestasikan cinta dalam bentuk benda-benda. Valentine 2025 ini saya sedikit merayakan bersama pasangan, dengan memberikan hal-hal mainstream yaitu kue dan bunga. Dia terlihat senang sekali. Bukan semata-mata karena kue dan bunganya, tapi karena perayaan semacam itu tidak pernah terjadi selama sebelas tahun pernikahannya. Bunga dan kue memang begitu standar, bahkan cenderung dikomodifikasi berlebihan, tetapi secara fenomenologis bisa berarti, meski menye-menye.  Tetapi apakah cinta itu, sehingga begitu penting diwujudkan dalam benda-benda? Mengapa benda itu menjadi bunga, menjadi coklat, menjadi kue? Bunga mungkin diasosiasikan dengan keindahan alamiah yang muncul sebagai momentum, yang kelak mati, tapi tetap terkenang untuk waktu yang panjang. Coklat dan kue mungkin karena rasanya yang manis, seperti perasaan cinta itu sendiri. Tentu ...

Tentang Perempuan Bernama NK

Pada tanggal 21 Agustus 2024, seorang perempuan, mantan mahasiswi, menjangkau saya via DM Instagram untuk mengucapkan simpati atas hal yang menimpa saya. Singkat cerita, kami berbincang di Whatsapp dan janjian untuk berjumpa tanggal 6 September 2024 di Jalan Braga. Tidak ada hal yang istimewa. Dia sudah punya pacar dan juga memiliki mungkin belasan teman kencan hasil bermain dating apps .  NK baru saja bercerai dengan membawa satu anak lelaki. Dia adalah mahasiswi yang saya ajar pada sekitar tahun 2016 di sebuah kampus swasta. Dulu saya tidak punya perhatian khusus pada NK karena ya saya anggap seperti mahasiswa yang lainnya saja. Namun belakangan memang dia tampak lebih bersinar karena perawatan diri yang sepertinya intensif. Selain itu, bubarnya pernikahan selama sebelas tahun membuatnya lebih bebas dan bahagia. Sejak pertemuan di Jalan Braga itu, saya tertarik pada NK. Tentu saja NK tidak tertarik pada saya, yang di bulan-bulan itu masih tampak berantakan dan tak stabil (fisik, ...