Skip to main content

Posts

Showing posts with the label media sosial

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Tentang Gus Miftah dan Reaksi Publik

Ramai soal Gus Miftah. Tak perlu diceritakan detailnya di sini. Lagipula, saya tak merasa harus mengomentari kata-kata Gus Miftah terhadap pedagang es teh. Bagi saya, hal yang lebih menarik adalah reaksi publik yang begitu masif, diantaranya dengan menyebarkan konten bertuliskan "lebih baik jualan es teh, daripada jualan agama". Selain itu, ada juga petisi yang berisi tuntutan kepada Presiden untuk mencopot jabatan Gus Miftah dari posisinya sebagai utusan khusus. Apapun itu, saya menilainya sebagai bentuk isyarat kebajikan atau virtue signaling .  Tak ada yang benar-benar peduli pada Gus Miftah atau tukang es teh. Masing-masing hanya memperagakan suatu sikap yang sejalan dengan apa yang sedang ramai. Jika benar-benar ditanya apakah Anda bersedia jualan es teh? Saya yakin sebagian besar menjawab tidak, bahkan dalam hatinya mungkin merasa lebih baik jualan agama karena sudah pasti lebih menguntungkan.  Dalam pandangan publik, pergulatannya sederhana sekali: mereka membangun per...

Honest Review

Istilah " honest review " atau "ulasan jujur/ apa adanya" adalah demikian adanya: ulasan dari seseorang (hampir pasti netizen dalam konteks ini) tentang suatu produk entah itu kuliner, buku/ tulisan, film, dan lain-lain, yang disampaikan secara "jujur". Hal yang umumnya terjadi, "jujur" ini lebih condong pada "kalau jelek bilang jelek" atau semacam "kenyataan pahit". Sebagai contoh, jika saya menganggap sebuah rasa sebuah makanan di restoran A itu buruk, saya akan mengklaim diri saya telah melakukan " honest review " jika kemudian dalam membuat ulasan, benar-benar mengatakan bahwa makanan tersebut rasanya buruk. Mengatakan bahwa sebuah makanan itu enak dan memang benar-benar enak, memang juga semacam " honest review ", tapi biasanya bisa dicurigai sebagai bentuk dukungan, promosi, atau endorsement . Jadi, saat seorang pengulas berani mengatakan bahwa makanan ini "tidak enak", fenomena semacam itu ...

Sasaran

Tidak berapa lama setelah saya mengetikkan kata "makanan kucing" di pesan WhatsApp untuk istri, di YouTube tiba-tiba muncul iklan Whiskas. Tidak berapa lama saya membicarakan soal pizza bersama teman lewat WhatsApp, di YouTube muncul juga iklan pizza. Di kendaraan saat mendengarkan Spotify, sedang asyik-asyiknya mendengarkan albumnya Michael Franks, iklan selalu menyela, yang mengarahkan kita pada playlist atau siaran lain (maklum, bukan premium). Saya tidak tahu, tapi pastilah dunia algoritma ini sudah canggih, mereka sudah mencatat tempat-tempat yang sering saya kunjungi di GMaps sehingga iklan-iklannya pun pasti menyesuaikan. Iya, iklan kopi.  Hampir setiap saat kita dibombardir iklan. Iklan-iklan tersebut tidak lagi seperti era media massa yang tembakannya membabibuta seperti machine gun . Iklan-iklan hari ini menembakkan sasarannya seperti sniper. Mengeceng dengan hati-hati, tapi tembakannya diusahakan langsung sekali mati. Lucunya, kita bukan benar-benar dicari oleh sni...

Tentang Viral

Sejak kembali main Twitter awal tahun 2021, saya mengalami beberapa kali pengalaman di-viral-kan. Ada yang dianggap baik, ada yang dianggap blunder, sehingga banjir hujatan. Anehnya, apa yang viral ini benar-benar tidak bisa diprediksi. Kadang saya menyiapkan tweet sekeren mungkin, eh reaksinya biasa saja. Di sisi lain, tweet "seadanya" justru bisa menjadi liar dan menyebar luas. Fenomena viral secara sederhana dapat diartikan sebagai fenomena menyebarnya sebuah konten secara organik. Istilah "viral" ini diambil dari "virus" sehingga seperti halnya virus, penyebaran konten secara viral tidak dapat sepenuhnya dikendalikan dan sifat penularannya yang relatif cepat. Mungkin fenomena konten media sosial yang viral awal-awal bisa kita lacak dari video Gangnam Style tahun 2012 yang ditonton hingga sembilan juta orang per hari hanya dalam waktu dua bulan setelah rilisnya. Jika diperhatikan, tidak ada hal yang benar-benar istimewa dari video orang berjoget selama ...

Tentang Buruh Digital

Pembahasan ini sebenarnya adalah tema disertasi yang tengah saya garap, yang entah kenapa begitu sulit untuk dikerjakan secara intens, kemungkinan karena terlalu banyak distraksi pekerjaan lain (padahal memang alasannya cuma itu, plus malas). Awalnya saya mengajukan topik tentang demotivasi, tetapi terang-terangan ditolak oleh almarhum Romo Herry. Akhirnya saya memutuskan untuk mengkaji gagasan Christian Fuchs dari salah satu bukunya yang berjudul Digital Labour and Karl Marx (2014). Mengapa memilih pemikirannya Fuchs? Alasan pertama, pemikirnya masih hidup, topiknya sangat kekinian, sehingga kurang lebih dapat dikategorikan sebagai pemikir/ pemikiran kontemporer. Alasan kedua, adalah alasan yang lebih praktis, yaitu karena teks primernya berbahasa Inggris (di STF Driyarkara, jika kami membaca teks primer, harus dalam bahasa aslinya, sehingga jika teks aslinya berbahasa Jerman, maka harus menguasai bahasa Jerman juga). Alasan terakhir, yang mungkin lebih serius, adalah ketertarikan un...

Autocorrects

Sejak tiga bulan belakangan saya mengikuti akun twitter seorang komedian ber- username autocorrects . Pengikut ia pun tidak sedikit, mencapai lebih dari dua juta orang. Dalam sehari, autocorrects bisa berkicau lebih dari dua puluh kali dan rata-rata ratusan orang melakukan re-tweet pertanda setuju atau suka. Saya sendiri termasuk orang yang menyukainya. Ini beberapa contoh tweet -nya: Starting a blog, making a few posts, then ending up forgetting about it. I speak a language that is universally known. It’s called Fuck You. I Love finding money in my clothes. It’s like gift to me.. from me. I always find myself thinking about what some random celebrity is doing at this moment. Lazy rule: can’t reach it, don’t need it. Kicauannya nampak tidak istimewa, atau setidaknya: tidak filosofis atau tidak saintifik sekalipun. Tapi itu bukan sama dengan kita tidak menemukan kebenaran di dalamnya. Pada umumnya, twitter sendiri memang berisikan soal “ucapan-...

Berdoa di Facebook

Bagi pengguna jaringan sosial, tentu saja bukan hal yang sulit menemukan kawan-kawan yang kerap berdoa di statusnya sendiri. Misalnya, "Bismillah, semoga hari ini lancar. Amin!" atau "Alhamdulillah ya Allah, urusan hari ini selesai juga." Segala doa yang kiranya positif, jelas menyenangkan dan menyejukkan kala dibaca. Walhasil, status-status seperti ini biasanya menjadi sasaran empuk jempol dan komentar. Berdoa, jika kita sama-sama telusuri dengan mengira-ngira, barangkali sebuah kegiatan yang lebih purba dari agama. Jika bicara agama, maka tidak bisa lepas dari sistem. Agama adalah sistem kepercayaan. Di dalamnya terkandung jalinan rapi antara kitab suci, pengikut, ritual, orang suci, dan Tuhan itu sendiri. Maka tentu, agama barangkali tidak turun satu paket sekaligus. Kristen misalnya, pernyataan tentang apakah Yesus sendiri adalah seorang Kristiani atau bukan selalu mengemuka. Ini disebabkan oleh tiadanya pernyataan dari dirinya bahwa ia adalah seorang Kristen. I...