Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Saya agak heran saat bisa menamatkan Nyanyi Sunyi (Cantrik Pustaka, 2023) karya Uly Siregar dalam sekali duduk. Cara berceritanya begitu mengalir, pemilihan katanya lincah, dan topik-topiknya menggoda. Jujur, tadinya saya tidak berharap banyak pada tulisan-tulisan berisi kisah pribadi. Dalam bayangan saya, itu kan catatan personal , mungkin berharga untuk si penulis sendiri, tapi mungkin kurang relevan bagi orang lain. Namun pikiran tersebut terbantahkan oleh perjalanan menulis saya sendiri. Saya menerjemahkan biografi Jacques Derrida (Puruṣa, 2022). Pada teks yang ditulis oleh Benoît Peeters tersebut, apa yang dipikirkan Derrida tidaklah seberapa menjadi titik berat. Hal yang lebih ditekankan adalah pergulatannya dengan masalah mental, perjumpaan pertamanya dengan calon istri di masa depan, Marguerite Aucotourier; kegalauannya saat dipanggil untuk wajib militer, hingga perjalanannya ke Amerika Serikat dengan kapal laut. Poin berharga dari sebuah catatan personal justru bukan per...