Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
20 Ramadhan 1434 H Terry Gilliam, sutradara film Brazil (1985), adalah anggota grup komedi terkenal asal Inggris bernama Monty Python. Kegilaannya tersebut tidak hanya disalurkan lewat Monty Python, melainkan juga melalui film-film yang ia sutradarai sejak tahun 1975. Hampir keseluruhan filmnya mengambil tema fantasi, futuristik, psikedelik, dan surealistik -tentu saja termasuk Brazil , filmnya yang keempat-. Film yang dibintangi oleh Jonathan Pryce, Robert de Niro, Kim Greist, dan Michael Palin ini mengambil tema masa depan yang distopis. Film Brazil berpusat pada Sam Lowry (Jonathan Price) yang berupaya mencari perempuan yang kerap hadir dalam mimpinya. Mimpinya tersebut menjadi semacam pelarian dari hidupnya yang berat: Bekerja di pangkat rendah, keadaan rumah yang mengkhawatirkan, dan situasi kota yang kompleks. Lowry punya peluang untuk menemukan perempuan dalam mimpinya yang diketahui bernama Jill Layton (Kim Greist), dengan bekerja pada kantor informasi. Lowry, di t...