Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
(Respons atas tulisan Aris Setyawan) (Artikel yang diturunkan dari Pop Hari Ini) Pada tanggal 27 Juli 2023, terbit tulisan berjudul Ketika Kritik Musik Merambah Media Sosial di situs Pop Hari Ini yang ditulis oleh Aris Setyawan. Dalam teksnya tersebut, Aris mengritik komentar-komentar tentang musik yang muncul di media sosial seperti Twitter, yang biasanya hanya berupa umpatan tidak berargumen. Bagi Aris, secara historis, kritik musik yang kredibel muncul dari media massa besar seperti Rolling Stone , The Guardian , New York Times , Pitchfork , atau Jakartabeat.net untuk konteks Indonesia. Alasannya, mengutip Idhar Resmadi dalam bukunya yang berjudul Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya , kritikus musik kerap nyambi bekerja sebagai jurnalis. Dengan demikian, kritik musik dan media massa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kalaupun terdapat kritikus musik yang muncul dari luar sirkel jurnalis, hanya segelintir yang punya kapasitas mumpuni. Aris kemudia...