Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Usia saya tahun ini empat puluh. Angka yang, entah kenapa, membuat saya mulai memikirkan jejak. Jejak yang sudah ditinggalkan pada tanah kehidupan, tapi terutama jejak di hati orang lain. Baik atau buruk, halus atau dalam, sebagian jejak itu pasti ada. Hanya saja, siapa yang bisa memastikan bentuknya? Kita jarang benar-benar tahu, langkah mana yang menorehkan luka, dan langkah mana yang meninggalkan kesan indah. Ada jejak yang menimbulkan marah, kecewa, bahkan dendam. Ada juga jejak yang entah bagaimana, menjadi kenangan hangat bagi seseorang. Masalahnya, kita nyaris tak pernah memegang peta yang menunjukkan di mana semua jejak itu berada. Kita berjalan, berbicara, bertindak, lalu berlalu, sementara di belakang, tanah itu merekam. Dan suatu hari, orang lain menemukan jejak kita di sana untuk lalu memutuskan apakah itu sesuatu yang layak disimpan atau dilupakan. Tahun lalu, hidup memberi saya pelajaran keras ketika saya terseret gelombang cancel culture . Dalam badai itu, say...