Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Usia saya tahun ini empat puluh. Angka yang, entah kenapa, membuat saya mulai memikirkan jejak. Jejak yang sudah ditinggalkan pada tanah kehidupan, tapi terutama jejak di hati orang lain. Baik atau buruk, halus atau dalam, sebagian jejak itu pasti ada. Hanya saja, siapa yang bisa memastikan bentuknya? Kita jarang benar-benar tahu, langkah mana yang menorehkan luka, dan langkah mana yang meninggalkan kesan indah. Ada jejak yang menimbulkan marah, kecewa, bahkan dendam. Ada juga jejak yang entah bagaimana, menjadi kenangan hangat bagi seseorang. Masalahnya, kita nyaris tak pernah memegang peta yang menunjukkan di mana semua jejak itu berada. Kita berjalan, berbicara, bertindak, lalu berlalu, sementara di belakang, tanah itu merekam. Dan suatu hari, orang lain menemukan jejak kita di sana untuk lalu memutuskan apakah itu sesuatu yang layak disimpan atau dilupakan. Tahun lalu, hidup memberi saya pelajaran keras ketika saya terseret gelombang cancel culture . Dalam badai itu, say...