Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2019

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Tentang Toko Buku Bernama Akasa

Namanya Akasa. Toko buku ini milik kawan saya, Ucrit, Bonil, Alfi dan Widay. Hal yang menarik pertama adalah toko buku ini terletak di sebuah pasar tradisional. Memang konsep semacam ini tidak aneh-aneh amat. Di Pasar Palasari misalnya, ada blok yang khusus jual sayuran, daging, bumbu, sembako, dan semacamnya, tapi ada juga blok khusus yang menjual buku-buku saja. Tapi di Pasar Cihapit, tempat Akasa berada, sedikit berbeda. Tidak ada perbedaan blok antara buku dan non-buku. Mereka dilebur begitu saja, sehingga datang ke Akasa adalah sekaligus juga terjun ke tengah suasana pasar tradisional.  Hal menarik lain, selain menjual buku, yang khas dari Akasa adalah teh. Ini adalah anomali di tengah tren minum kopi. Akasa tidak ada kopi, hanya teh, dan hanya teh panas. Harganya pun sangat aneh, yaitu lima ribu rupiah saja dengan jumlah isi ulang tidak terbatas. Suatu hari saya berkelakar tentang harga super murah ini, "Ini bagus, karena harga tinggi cenderung menuntut pelayan...

Uang dan Nilai Keindahan

Perihal uang, kita kurang lebih bisa memahaminya jika dipertukarkan dengan sesuatu yang fungsional. Misalnya, kurang lebih kita bisa paham mengapa kopi harganya sekian, diukur dari biaya produksi, distribusi dan penyajiannya – meski dalam konteks tertentu, kopi bisa sangat mahal ketika masuk suatu pertambahan nilai yang dinamakan “gaya hidup”-.  Kita bisa mengerti mengapa sebuah mobil harganya sekian, karena misalnya, kenyamanan, dan fasilitasnya dibandingkan dengan mobil yang lain. Kebaruan juga penting, bahwasanya mobil tersebut baru keluar dari pabrik tidak lebih dari setahun terakhir dan belum pernah digunakan oleh orang lain.  Kita bisa mengerti juga kurang lebih mengapa rumah harganya sekian, karena bahan bangunan, lokasi, akses, dan nilai tanah yang memang punya kecenderungan untuk terus meningkat.  Namun bagaimana dengan keindahan?  Keindahan konon sering dikatakan sebagai sesuatu yang subjektif. Ukurannya berbeda-beda bagi setiap orang. Beda...