Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Ekologi

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Tentang Hewan

Saya tidak pernah merasa diri seorang penyayang binatang, karena apa yang saya suka hanya satu jenis binatang yaitu kucing. Dari kecil, saya selalu suka kucing dan hanya karena dalam dua tahun belakangan ini saya memutuskan tinggal di apartemen, kucing-kucing tersebut akhirnya ditinggal di rumah orangtua. Saya merasa sebutan "penyayang binatang" itu terlalu berat karena artinya saya tidak hanya harus suka kucing, tapi juga anjing, burung, kecoa, cicak, semut, dan lainnya. Harus diakui, saya memang "penyayang binatang tertentu yang saya anggap lucu dan membuat saya terhibur". Sejak tahun 2019, saya dan istri (dulu masih pacar) memelihara kucing bernama Eman yang diberikan oleh seorang teman namanya Gloria. Tidak perlu saya ceritakan bagaimana lengkapnya kami memelihara Eman tapi pada saat saya menulis tulisan ini, atau saat usia Eman hampir empat tahun, dia tengah dalam kondisi sakit serius. Sudah kami bawa ke dokter, Eman dinyatakan mengidap virus yang sukar sembuh,...

Kepungan Antroposentrisme

Masa Renaisans sering ditandai sebagai perubahan cara pandang dari teosentrisme menjadi antroposentrisme. Singkatnya, teosentrisme adalah aliran pemikiran yang menjadikan Tuhan sebagai pusat, sementara antroposentrisme menjadikan manusia sebagai pusat. Pertanyaannya, mungkinkah teosentrisme juga adalah sebentuk antroposentrisme? Karena bukannya Tuhan yang sebenarnya menjadi pusat, tetapi tafsir manusia itu sendiri yang mengatasnamakan Tuhan. "Teosentrisme" Abad Pertengahan, misalnya, dua di antaranya, menghasilkan perang besar atas nama agama dan praktik inkuisisi yang sukar dipercaya bahwa keduanya dilakukan murni "atas kehendak Tuhan". Periode Pasca Abad Pertengahan, dari mulai Renaisans hingga Pencerahan, pelan-pelan kian menganggap bahwa segala-galanya bisa dijelaskan lewat metode ilmu pengetahuan yang mengantarkan pada kepastian. Tuhan mungkin ada, tetapi tidak digunakan untuk menjelaskan segala fenomena. Bahkan bagi para saintis di zaman itu, Tuhan lebih sepe...