Skip to main content

Posts

Showing posts with the label filsafat pendidikan

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Guru yang Tidak Tahu: Pendidikan yang Mengemansipasi Versi Jacques Rancière

  Mengajar dan mendidik adalah dua konsep yang bisa dibedakan. Terence W. Moore dalam bukunya yang berjudul Philosophy of Education menuliskan bahwa pendidikan adalah konsep yang melibatkan kegiatan mengajar yang lebih spesifik pada apa yang layak untuk diketahui dan sikap yang secara moral diterima (Moore, 2010: 33). Mengacu pada pengertian Moore tersebut, kita bisa saja menjadi guru yang mengajarkan cara untuk mencopet, misalnya, tetapi hal demikian bukanlah sesuatu yang mendidik.  Pengertian pendidikan sebagaimana dituliskan oleh Moore tersebut dapat dikritisi. Menurut siapa sesuatu itu layak diketahui? Dari sudut pandang siapa suatu sikap dapat dikatakan bermoral atau tidak? Tanpa perlu menjawabnya, kita dapat melihat bahwa Moore secara tidak langsung telah menempatkan guru atau pengajar dalam posisi “si paling tahu” - yang memutuskan mana ilmu yang layak diketahui dan mana sikap yang dianggap bermoral.  Pandangan Moore menjadi pandangan yang cukup umum dalam dunia p...

Mengajar Filsafat Pendidikan

Beberapa kali memberi materi tentang filsafat pendidikan, membuat saya semakin bingung tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu dilakukan (tipikal belajar filsafat, semakin dipelajari semakin bingung). Awalnya, saya mudah untuk mengatakan bahwa pendidikan yang bersifat perenialistik dan esensialistik itu "berbahaya". Perenialisme, secara sederhana, diartikan sebagai pendidikan yang mengacu pada "teks-teks babon", belajar dari yang lampau, klasik, dan terbukti "abadi" (seperti arti kata "perenial" itu sendiri). Dalam satu kalimat, kita bisa mengartikan perenialisme seperti apa yang dikatakan oleh Isaac Newton: " Standing on the shoulders of giant ". Esensialisme kurang lebih mirip, tetapi dalam konteks pengetahuan atau skill tertentu yang dianggap lebih "mendasar", seperti yang dipraktikkan dalam artes liberales di Abad Pertengahan atau mungkin jika diilustrasikan di masa sekarang lebih seperti "MKU". Bedanya, ese...

Mengajar dengan Cara Freire dan Sokrates

  Dalam kegiatan belajar mengajar, sering kita dapati guru yang terus menerus mendikte muridnya. Guru diposisikan sebagai orang serba tahu dan murid sebagai kumpulan orang tidak tahu. Hal semacam ini disebut oleh pedagog Paulo Freire (1921 - 1997) sebagai " banking education " atau pendidikan a la bank. Artinya, murid-murid dianggap sebagai rekening kosong, dan guru pada posisi ini hanya berperan untuk melakukan deposit saja. Secara lebih jauh, Freire menganggap model pendidikan " banking education " hanya meneguhkan posisi guru sebagai "penindas" ( oppressor ) dan murid sebagai "yang ditindas" ( oppressed ). Freire menyatakan dalam bukunya yang berjudul Pedagogy of The Oppressed (1970), bahwa murid-murid harus terbebaskan dari gaya pendidikan yang demikian. Tidak hanya "banking education" yang mesti dilawan, tapi juga " culture of silence ". Menurut Freire, kebudayaan diam inilah yang menjadi dasar mengapa murid selalu a...