Skip to main content

Posts

Showing posts with the label filsafat pendidikan

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Guru yang Tidak Tahu: Pendidikan yang Mengemansipasi Versi Jacques Rancière

  Mengajar dan mendidik adalah dua konsep yang bisa dibedakan. Terence W. Moore dalam bukunya yang berjudul Philosophy of Education menuliskan bahwa pendidikan adalah konsep yang melibatkan kegiatan mengajar yang lebih spesifik pada apa yang layak untuk diketahui dan sikap yang secara moral diterima (Moore, 2010: 33). Mengacu pada pengertian Moore tersebut, kita bisa saja menjadi guru yang mengajarkan cara untuk mencopet, misalnya, tetapi hal demikian bukanlah sesuatu yang mendidik.  Pengertian pendidikan sebagaimana dituliskan oleh Moore tersebut dapat dikritisi. Menurut siapa sesuatu itu layak diketahui? Dari sudut pandang siapa suatu sikap dapat dikatakan bermoral atau tidak? Tanpa perlu menjawabnya, kita dapat melihat bahwa Moore secara tidak langsung telah menempatkan guru atau pengajar dalam posisi “si paling tahu” - yang memutuskan mana ilmu yang layak diketahui dan mana sikap yang dianggap bermoral.  Pandangan Moore menjadi pandangan yang cukup umum dalam dunia p...

Mengajar Filsafat Pendidikan

Beberapa kali memberi materi tentang filsafat pendidikan, membuat saya semakin bingung tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu dilakukan (tipikal belajar filsafat, semakin dipelajari semakin bingung). Awalnya, saya mudah untuk mengatakan bahwa pendidikan yang bersifat perenialistik dan esensialistik itu "berbahaya". Perenialisme, secara sederhana, diartikan sebagai pendidikan yang mengacu pada "teks-teks babon", belajar dari yang lampau, klasik, dan terbukti "abadi" (seperti arti kata "perenial" itu sendiri). Dalam satu kalimat, kita bisa mengartikan perenialisme seperti apa yang dikatakan oleh Isaac Newton: " Standing on the shoulders of giant ". Esensialisme kurang lebih mirip, tetapi dalam konteks pengetahuan atau skill tertentu yang dianggap lebih "mendasar", seperti yang dipraktikkan dalam artes liberales di Abad Pertengahan atau mungkin jika diilustrasikan di masa sekarang lebih seperti "MKU". Bedanya, ese...

Mengajar dengan Cara Freire dan Sokrates

  Dalam kegiatan belajar mengajar, sering kita dapati guru yang terus menerus mendikte muridnya. Guru diposisikan sebagai orang serba tahu dan murid sebagai kumpulan orang tidak tahu. Hal semacam ini disebut oleh pedagog Paulo Freire (1921 - 1997) sebagai " banking education " atau pendidikan a la bank. Artinya, murid-murid dianggap sebagai rekening kosong, dan guru pada posisi ini hanya berperan untuk melakukan deposit saja. Secara lebih jauh, Freire menganggap model pendidikan " banking education " hanya meneguhkan posisi guru sebagai "penindas" ( oppressor ) dan murid sebagai "yang ditindas" ( oppressed ). Freire menyatakan dalam bukunya yang berjudul Pedagogy of The Oppressed (1970), bahwa murid-murid harus terbebaskan dari gaya pendidikan yang demikian. Tidak hanya "banking education" yang mesti dilawan, tapi juga " culture of silence ". Menurut Freire, kebudayaan diam inilah yang menjadi dasar mengapa murid selalu a...