Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2018

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Mengapresiasi Mercusuar Merah: Ikhtiar akan Teater Perubahan

Di sebuah acara bernama Malam Ide yang diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan Prancis di Bandung, saya dengan semangat mengundang Mercusuar Merah untuk mengisi salah satu mata acara dengan menampilkan teater. Teaternya seperti apa, saya tidak benar-benar tahu. Saya hanya kenal baik sosok di baliknya: Mohamad Chandra Irfan, pribadi yang progresif, revolusioner, dan kritis terhadap bentuk-bentuk teater yang terlampau konvensional.  Lalu saya, kami semua, pengunjung Malam Ide, benar-benar menantikan apa yang akan ditampilkan Chandra dan kawan-kawan. Properti mereka sederhana sekali: hanya kursi-kursi yang memang sudah ada, baju-baju yang digantung, serta mikrofon. Lalu lagu berjudul Internationale diputar pertanda pertunjukan dimulai. Para pemain tidak langsung tampil di atas panggung. Mereka menyalami semua hadirin dulu dengan berkeliling seperti sedang halal bi halal.  Chandra kemudian mengendalikan mikrofon. Ia bicara tidak dengan dramatisasi vokal yang biasa...

Kelas Kajian Eksistensialisme: Nietzsche Ya Nietzsche

*) Ditulis sebagai pengantar Kelas Kajian Eksistensialisme: Friedrich Nietzsche di Garasi10, 8 Januari 2018. Nietzsche dan Eksistensialisme  Ketika membicarakan para pemikir eksistensialisme, nama Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) tidak selalu secara otomatis dikait-kaitkan. Alasannya, kemungkinan, selain dia tidak sering membawa-bawa kata “eksistensi” dalam tulisan-tulisannya, Nietzsche juga tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari di tengah sejarah pemikiran - artinya, ia tidak mudah digolongkan pada “isme-isme” apapun. Nietzsche ya Nietzche-.  Pertanyaannya, mengapa ia tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari? Ada beberapa penyebab: Pertama, Nietzsche benar-benar otentik. Ia menulis dalam suatu rasa muak yang kuat terhadap zaman, sehingga kita yang membacanya, turut merasakan mual di perut. Tulisannya benar-benar mencerminkan suatu kemarahan yang hebat dan merusak - yang membuat siapapun rasanya tidak mungkin membaca Nietzsche dalam seka...