Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
28 Ramadhan 1433 H
Jika mengenal tokoh anak-anak seperti Astérix ataupun Lucky Luke, maka ketahuilah bahwa Nicolas ini adalah juga tokoh yang diciptakan oleh René Goscinny. Diluncurkan pertama kali tahun 1959 dalam bentuk buku serial untuk anak, Nicolas langsung populer di kalangan anak-anak Prancis masa itu. Meski sudah dibuat buku dalam versi Inggris dari sejak tahun 1962, namun kisah mengenai Nicolas ini baru diangkat ke layar lebar maupun layar televisi pada tahun 2009.
Le Petit Nicolas, yang disutradarai oleh Laurent Tirard, berkisah tentang anak bernama Nicolas (Maxime Godart) diantara dua dunia yang mendominasi kehidupannya: keluarga dan sekolah. Di keluarga, dia adalah anak satu-satunya dari ayah yang ambisius di dunia kerja (Kad Merad) dan ibu yang sedemikian menghayati perannya di rumah (Valérie Lemercier). Sedangkan di sekolah, Nicolas punya teman-teman kelas yang dinamis seperti Geoffroy si anak orang kaya, Alceste yang gendut dan selalu makan, Clotaire yang selalu dihukum karena malas dan kurang pandai, Eudes yang nakal, dan Rufus si anak polisi.
Dunia sekolah dan dunia keluarga ini menjadi terkoneksikan oleh sebab suatu percakapan antara orangtua Nicolas yang tanpa sengaja terdengar si anak. Percakapan tersebut disalahartikan oleh Nicolas sebagai bentuk kehadiran calon adik yang akan mengancam keberadaan dirinya. Teman-teman sekelas Nicolas pun menunjukkan kesetiakawanannya dengan membantu agar Nicolas tetap eksis di tengah keluarganya -tentunya dengan cara-cara yang menggelikan-.
Film Le Petit Nicolas adalah film yang amat menyegarkan. Tingkah laku Nicolas dan kawan-kawannya begitu lugu dan mengundang tawa. Namun tidak hanya sisi itu saja yang bisa dilihat dari film Le Petit Nicolas, melainkan kenyataan bahwa dunia orang dewasa begitu rumit dan terlalu mengada-ada. Le Petit Nicolas ini punya kemiripan dengan buku karya Antoine de Saint-Exupéry berjudul Le Petit Prince. Keduanya punya kesamaan, yaitu tentang bagaimana mengajak apresiator untuk merenungkan dunia keseharian orang dewasa dari sudut pandang anak kecil yang seringkali tidak melihat kehidupan sebagai sesuatu yang harus dikotak-kotakkan atau dikuasai. Anak kecil selalu punya keajaibannya sendiri, atau jika mengacu kata Picasso, "Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up."
Rekomendasi: Bintang Empat

Comments
Post a Comment