Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Ulas Buku

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...

Merenungkan Hidup Versi Frank Martela

Buku Frank Martela yang berjudul Hidup Ini Indah (Gramedia Pustaka Utama, 2023) bisa dikatakan sebagai buku filsafat dengan gaya populer. Buku ini lebih tepatnya membahas tema eksistensialisme, tetapi tidak seperti umumnya teks-teks dengan tema tersebut yang cenderung murung (Kierkegaard, Camus, Dostoyevsky), nuansa tulisan Martela ini cukup terang dan malah berbau self-help . Tawaran Martela sederhana saja, bahwa makna dalam hidup tidak perlu dicari, karena hidup sudah bermakna dengan sendirinya. Di halaman 157, Martela menuliskan, "Kebermaknaan bukan sesuatu yang langka atau jarang. Itu adalah pengalaman yang ada dalam banyak momen sehari-hari kita dalam bentuk yang kuat maupun lemah." Hal ini dijustifikasi dalam tulisannya di website:  " My key message in the book is that meaningfulness is not something grand and given to you from above. It is something happening within your life, and typically what makes your life meaningful are very mundane things like spending ti...

Jalan Naluri Nan Sunyi Uly Siregar

Saya agak heran saat bisa menamatkan Nyanyi Sunyi (Cantrik Pustaka, 2023) karya Uly Siregar dalam sekali duduk. Cara berceritanya begitu mengalir, pemilihan katanya lincah, dan topik-topiknya menggoda. Jujur, tadinya saya tidak berharap banyak pada tulisan-tulisan berisi kisah pribadi. Dalam bayangan saya, itu kan catatan personal , mungkin berharga untuk si penulis sendiri, tapi mungkin kurang relevan bagi orang lain. Namun pikiran tersebut terbantahkan oleh perjalanan menulis saya sendiri. Saya menerjemahkan biografi Jacques Derrida (Puruá¹£a, 2022). Pada teks yang ditulis oleh Benoît Peeters tersebut, apa yang dipikirkan Derrida tidaklah seberapa menjadi titik berat. Hal yang lebih ditekankan adalah pergulatannya dengan masalah mental, perjumpaan pertamanya dengan calon istri di masa depan, Marguerite Aucotourier; kegalauannya saat dipanggil untuk wajib militer, hingga perjalanannya ke Amerika Serikat dengan kapal laut.  Poin berharga dari sebuah catatan personal justru bukan per...

Love is the Answer (2022) - Mengembalikan Agape dalam Masyarakat Transaksional

Sebagai orang yang mengklaim diri sebagai "demotivator", nyaris setiap malam saya menyempatkan diri untuk menonton ceramah para motivator via Youtube. Supaya apa? Supaya mengetahui apa yang mereka katakan bersama problem yang dibawanya. Intinya, saya mengumpulkan bahan untuk mengkritik para motivator. Sebagai contoh, terdapat motivator yang kerap mengatakan, "Apakah harus ada orang yang miskin? Harus, yang penting bukan kita." Bagi saya ungkapan tersebut bermasalah, karena menjustifikasi individualisme atau komunalisme sempit, sekaligus meneguhkan paradigma motivasional sebagai agen neoliberal yang mendewakan persaingan dalam konteks zero-sum game - bahwa kemenangan kita adalah sekaligus kekalahan bagi yang lain.  Di tengah keasyikan saya dalam membongkar modus para motivator ini, tiba-tiba seorang kawan mengirimkan buku motivasi dengan dilampiri surat langsung dari penulisnya. Katanya, silakan dibaca, dan mudah-mudahan bisa diulas. Tentu saja hal ini mengejutkan. ...

Hidup Bukanlah Permainan

Dalam bukunya yang berjudul Games: Agency as Art (2020), C. Thi Nguyen mengurai tentang hakikat game, kegunaan-kegunaannya, termasuk juga problem yang ditimbulkannya. Sebagai permulaan, C. Thi Nguyen membandingkan antara game dan kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pada umumnya mencari sarana demi mencapai sebuah tujuan. Sebaliknya, dalam game, kita justru menikmati sarananya. Dengan demikian, terjadi motivasi yang berkebalikan ( motivational inversion ) antara game dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, kita mesti terus menyesuaikan dengan apapun bentuk ketidakpastian atau kemungkinan yang dilemparkan pada kita. Sementara pada game, kita tinggal menyesuaikan dengan aturan yang dirancang oleh desainer. Dalam kehidupan sehari-hari, lanjut C. Thi Nguyen, prinsip-prinsip tertentu sukar diubah (seperti misalnya fokus saya terhadap filsafat dan seni), sementara dalam game, segala sesuatu berlangsung lebih cair, kita cenderung dapat menjadi ...

Merenungkan Cyborg Manifesto

Cyborg Manifesto adalah esai karya Donna Haraway yang dirilis tahun 1985 dengan tebal sekitar delapan puluh halaman. Dalam tulisannya ini, Haraway, pemikir asal Amerika kelahiran tahun 1944, mengajak kita mempertanyakan ulang batas-batas antara konsep manusia, hewan, mesin, fisikal - non fisikal, hingga sampai pada renungan tentang persoalan identitas yang disematkan oleh pemikiran gender tradisional. Haraway melakukan itu semua lewat presentasinya mengenai cyborg sebagai fenomena pascahumanisme. Cyborg sendiri didefinisikan oleh Haraway sebagai organisme sibernetik, percangkokan antara mesin dan organisme, makhluk yang berasal dari realitas sosial sekaligus fiksi. Haraway memperhatikan dunia di sekelilingnya, bahwa pada masa itu, literatur fiksi ilmiah dipenuhi konsepsi tentang cyborg - makhluk yang sekaligus hewan dan mesin, yang membuat ambigu gagasan tentang natur dan kultur. Cyborg, lanjutnya, telah mengubah apa yang disebut dengan "pengalaman perempuan" pada akhir abad...

Mendaki Bukit Usia dan Tulisan Pak Tuba yang Musikal

Jika kita mengetik kata kunci "Tuba bin Abdurahim" di Google, informasi mengenai nama tersebut sudah cukup ramai, sehingga kiranya tidak perlu lagi di dalam tulisan ini, untuk menceritakan kembali siapa gerangan Pak Tuba. Saya akan lebih menuliskan tentang kesan-kesan saat membaca tulisannya yang bagi saya, jenaka oleh entah apa. Tentu saya punya perbandingan, setidaknya berdasarkan biografi yang saya pernah tuliskan yaitu tentang Pak Awal dalam buku berjudul Nasib Manusia: Kisah Awal Uzhara , Eksil di Rusia (Ultimus, 2021) yang diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan buku Mendaki Bukit Usia (2022) yang merupakan memoar Pak Tuba ini. Keduanya menceritakan sosok pria yang sama-sama menjadi korban tragedi 1965. Bedanya, Pak Awal tidak bisa pulang selama hampir enam puluh tahun di Uni Soviet, sementara Pak Tuba dijadikan tahanan di Pulau Buru. Bedanya lagi, Pak Awal dapat dikatakan berkuliah hingga hampir S3 di Moskow - seorang yang katakanlah, terdidik secara formal -, semen...

Trocoh dan Semesta Pengalaman yang Selalu Irelevan, tapi Pasti

Meski menerimanya di waktu hampir berjauhan, kebetulan saya membaca dua buku ini di waktu nyaris bersamaan: Seni sebagai Pembebasan -nya Syakieb Sungkar dan Trocoh -nya Budi Warsito. Walaupun sama-sama menyinggung soal seni, keduanya melakukan pendekatan yang sangat berbeda. Di sini justru saya menemukan jukstaposisi yang menarik: Apa yang dibahas oleh Pak Syakieb, yang berkenaan dengan estetika Theodor Adorno, justru dengan "jenaka", secara tidak langsung, dibatalkan oleh tulisan Mas Budi. Gagasan Adorno, sebagaimana dibahas oleh Pak Syakieb dan saya ulas di tulisan sebelum ini , secara umum menolak musik pop karena sifat fabrikasinya yang mengarah pada pembentukan masyarakat yang homogen - sebagaimana dicita-citakan oleh fasisme. Trocoh -nya Mas Budi justru hendak menunjukkan: musik pop tidak sefabrikatif itu. Sebaliknya, kesadaran-kesadaran kritis justru bisa muncul melalui budaya populer, sebagaimana diperlihatkan oleh Mas Budi, misalnya, dalam tulisan mengenai Senam Kese...

Seni Sebagai Pembebasan: Menegasi Usaha Adorno dalam Menegasi

Kelihatannya memang belum ada buku yang membahas gagasan Theodor Adorno tentang seni dalam bahasa Indonesia, sampai akhirnya saya membaca karya berjudul Seni sebagai Pembebasan: Sebuah Telaah tentang Estetika Adorno (Circa, 2022) yang ditulis oleh Syakieb Sungkar ini. Tulisannya lugas dan mengalir (seperti yang disebutkan dalam kata pengantar yang ditulis oleh Simon Lili Tjahjadi), sehingga tidak perlu waktu panjang untuk menamatkan karya dengan tebal 200-an halaman tersebut. Meski demikian, perlu diakui bahwa untuk memahami tulisan Pak Syakieb ini, perlu sejumlah pengertian terkait gagasan dan istilah dari para pemikir sebelumnya, termasuk secara umum berkenaan dengan "gaya berpikir filsafat" itu sendiri. Misalnya, Pak Syakieb tidak banyak menerangkan gagasan Marx (padahal gagasan Adorno banyak dibangun oleh pemikiran Marx, termasuk soal alienasi, fetisisme komoditas dan kritiknya atas dialektika Roh Hegelian), sehingga pembaca diasumsikan sudah paham sejumlah kata kunci da...

Tentang Keramahan

Bagaimana menerjemahkan hospitality ? Keramahan mungkin bisa, meski tidak persis menggambarkannya, tapi kita anggap saja kata "keramahan" yang dimaksud dalam tulisan ini, merupakan terjemahan dari hospitality . Filsuf Prancis, Jacques Derrida, pernah menulis gagasannya tentang keramahan dalam buku berjudul Of Hospitality yang isinya terdiri dari dua tulisan yang diambil dari kuliahnya, yang satu berjudul Foreigner Question dan lainnya bertajuk Step of Hospitality/ No Hospitality . Dalam tulisannya tersebut, Derrida berangkat dari pernyataan Kant tentang " universal hospitality " yang diartikan sebagai: “(…) the right of a stranger not to be treated as an enemy when he arrives in the land of another. One may refuse to receive him when this can be done without causing his destruction; but, so long as he peacefully occupies his place. one may not treat him with hostility .” Derrida mengritik pandangan Kant dalam Perpetual Peace tersebut sebagai "keramahan bersy...