Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Dalam hidup sehari-hari, kita sering mengalami sebuah dilema. Apa itu dilema? Dilema kira-kira adalah dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi yang tidak enak (jika pilihan itu berjumlah tiga, maka menjadi trilema -tapi itu tidak akan dibahas sekarang ini-). Contoh dilema misalnya buah simalakama: Jika dimakan, Bapak yang mati; jika tidak dimakan, Ibu yang mati; maka itu, dimakan atau tidak dimakan, kita akan mengalami kehilangan. Dalam ilmu logika, dilema sering diibaratkan sebagai horns atau tanduk. Dilema bukanlah sesuatu yang mutlak membingungkan dan merugikan. Sebelum memulai membahas trik meloloskan diri dari dilema, mari membuat contohnya terlebih dahulu: Dilema 1 : Jika Ahok tidak dihukum, maka umat Islam akan marah Dilema 2 : Jika Ahok dihukum, maka artinya hukum di Indonesia bisa dipengaruhi oleh orang banyak Kesimpulannya: Ahok dihukum atau tidak dihukum, keduanya akan menimbulkan implikasi negatif pada negeri ini Demikian contohnya, dan ini tiga...