Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
29 Ramadhan 1434 H Barry Lyndon (1975) adalah film yang disutradarai oleh Stanley Kubrick, yang mengadaptasi novel berjudul The Luck of Barry Lyndon tahun 1844 dan ditulis oleh William Makepeace Thackeray. Barry Lyndon adalah filmnya yang kesepuluh dari total tiga belas film yang ia sutradarai sepanjang hidupnya. Berdurasi 184 menit, Barry Lyndon dibintangi oleh Ryan O'Neal, Marisa Berenson, dan Patrick Magee. Salah satu yang terkenal dari Barry Lyndon adalah visualisasi memukau yang ditampilkan oleh Kubrick. Pencahayaan alami, pemilihan kostum, interior ruangan, hingga pemajangan lukisan, membuat film yang mengambil latar di abad ke-18 ini tampak sangat artistik. Barry Lyndon bercerita tentang seorang pria bernama Redmond Barry (Ryan O'Neal) yang melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan status sosialnya. Perbuatannya ini bukannya tanpa dasar. Sedari kecil, ia sudah ditinggal ayahnya yang meninggal akibat duel pistol. Pada masa remaja, ia menyukai saudara se...