Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
23 Mei kemarin Persib juara liga untuk ketiga kalinya berturut-turut dan belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya di Indonesia. Saya tentu senang, tapi tidak segembira ketika Persib juara Liga Dunhill tahun 1995 tatkala menumbangkan Petrokimia Putra yang diperkuat Jacksen F. Tiago dan Widodo C. Putro. Tahun 1995 itu saya masih SD tapi euforianya masih terbayang. Mungkin karena skuad Maung Bandung diisi oleh pemain lokal 100 persen, juga karena Liga Dunhill adalah liga profesional pertama di Indonesia yang menggabungkan kompetisi Perserikatan dan Galatama, sehingga tampak begitu prestisius saat itu (meski saya gak tahu-tahu amat bagaimana jalannya kompetisi Perserikatan dan Galatama). Mungkin saja terjebak pada romantisme kelokalan itu, sehingga agak asing dengan skuad Persib belakangan yang kelihatannya cukup glamor dan tak lagi terjebak pada latar belakang kedaerahan. Secara umum, saya memang kian asing dengan sepakbola kekinian, mungkin karena era kebintangan indivi...