Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2019

Melewatkan Final Piala Dunia

Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak.  Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...

Ludwig dan Keluarga Wittgenstein

Gambar diambil dari sini . Ludwig Wittgenstein adalah filsuf asal Wina dari awal abad ke-20 yang pemikirannya bertalian dengan bahasa dan dituangkan dalam dua bukunya yaitu Tractatus Logico Philosophicus (1921) dan Philosophical Investigations (1953). Buku kedua berjarak 22 tahun dari buku pertama dan isinya justru merevisi pemikirannya terdahulu. Di buku pertama, Wittgenstein mengatakan bahwa bahasa adalah "gambar fakta". Artinya, jika ada gambar, atau kata, maka ada faktanya. Jika sebuah gambar tidak memiliki basis fakta, maka itu omong kosong, atau lebih baik dikatakan nilai kebenarannya hanyalah psikologis ketimbang logis. Di buku kedua, Wittgenstein mengakui bahwa dulu dia sangat kaku dalam memahami bahasa. Ia lebih setuju kalau bahasa bukan perkara benar atau tidaknya, melainkan bagaimana penempatannya dalam satu konteks permainan ( language game ). Jadi kalau kita bilang "Cus!", meski tidak ada relasi logisnya, tapi punya nilai kebenaran dalam pe...