Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Politik

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Tentang Jiwa-Jiwa yang Indah

Setelah melihat lebih banyak jenis manusia dalam hidup ini, saya semakin yakin tentang satu kategori bernama manusia dengan "jiwa yang indah" ( beautiful soul ). Manusia dengan jiwa yang indah ini cenderung Kantian, dalam artian patuh mengikuti aturan atas kesadaran dan hati nuraninya sendiri, bukan atas desakan atau mempertimbangkan keuntungan tertentu. Seseorang dengan jiwa yang indah tidak akan mencari profit dengan cara yang problematik seperti korupsi, menerima suap, atau memakan riba. Orang dengan jiwa yang indah merasa tenang dengan berpegang pada prinsip yang diyakininya, meski prinsip tersebut membuatnya miskin dan sengsara. Hal yang agak mencolok pada orang dengan jiwa yang indah ini - dan menjadi alasan mengapa ia dikatakan demikian - adalah keengganannya untuk bergulat dengan persoalan struktural yang kompleks karena yang menjadi pegangan utamanya adalah keluhuran moral. Terhadap nasib-nasib yang buruk, orang-orang dengan jiwa yang indah akan menilainya sebagai ke...

Apa itu Demokrasi? (Bagian 4 dari 4)

Gagasan demokrasi penting lainnya adalah demokrasi liberal atau kerap disebut juga dengan demokrasi Barat (He, 2022). Untuk memahami demokrasi liberal, kita perlu menelusuri terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan liberalisme. Pemikiran liberalisme dapat dilacak asal-usulnya pada teks John Locke berjudul Two Treatises of Government (1689). Dalam bagian kedua ( Second Treatise ) buku tersebut, Locke menuliskan bahwa “... tiada satupun yang boleh menyakiti orang lain dalam hidupnya, kesehatannya, kebebasannya, dan kepemilikannya” (Locke, 1999).  Locke menawarkan gagasan tentang “properti” yang mengacu pada kehidupan, kebebasan, dan aset. Properti ini bukan milik negara atau raja, melainkan milik setiap individu. Jika demikian, bagaimana menentukan individu mana yang berhak atas suatu barang, kita ambil contoh saja, apel? Bukankah jika apel dibolehkan menjadi milik individu, maka setiap orang kemudian merasa berhak untuk mengambil apel dari pohon manapun yang ditemuinya? Menurut Lock...

Apa itu Demokrasi? (Bagian 3 dari 4)

Selain pengkategorian demokrasi yang mengacu pada pandangan Crick dan Hendriks, berikut ini akan dipaparkan bentuk demokrasi berdasarkan cara pengambilan keputusan dengan membaginya pada tiga bentuk yaitu demokrasi Athenian, demokrasi konsensus, dan demokrasi radikal.  Demokrasi Athenian  Demokrasi Athenian berkembang pada sekitar abad ke-6 sebelum masehi di negara-kota Yunani Kuno (atau biasa disebut polis), tepatnya di Athena, dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Sebelum menjalankan demokrasi, Athena dipimpin oleh sekelompok archon atau semacam pemerintahan yang dipimpin oleh para aristokrat. Pemerintahan aristokrasi ini lama kelamaan dirasa merugikan karena hanya mengandalkan aturan lisan dari para archon, sehingga muncul desakan dari rakyat untuk membuat aturan tertulis (Thorley, 2005). Aturan tertulis mula-mula yang diberlakukan di wilayah Athena adalah Konstitusi Draconian pada abad ke-7 sebelum masehi. Konstitusi Draconian dianggap sebagai cikal bakal demokrasi Athenian...

Apa itu Demokrasi? (Bagian 2 dari 4)

Paparan yang diambil dari teks Crick tersebut memperlihatkan evolusi pengertian demokrasi berdasarkan pembabakan sejarah. Dalam buku berjudul Vital Democracy: A Theory of Democracy in Action (2010), Frank Hendriks mengurai pengertian demokrasi dengan cara lain, yakni dengan terlebih dahulu menjernihkan empat model yakni langsung ( direct ), tidak langsung ( indirect ), agregatif ( aggregative ), dan integratif ( integrative ) (Hendriks, 2010).  Untuk memudahkan kita memahami model demokrasi ini, Hendriks mengajukan pertanyaan: Bagaimana keputusan demokratis diambil? Apakah berdasarkan suara mayoritas? Atau dilakukan berdasarkan diskusi yang menghasilkan semacam kesepakatan? Apakah pemenang akan “mengambil semua” atau terdapat usaha membangun konsensus? Jika keputusan demokratis diambil berdasarkan suara mayoritas dan pemenang “mengambil semua”, maka demokrasi tersebut masuk ke dalam model agregatif. Sedangkan jika keputusan demokratis diambil berdasarkan diskusi untuk menghasilka...

Apa itu Demokrasi? (Bagian 1 dari 4)

Istilah “demokrasi” berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu dÄ“mos yang artinya rakyat dan kratos yang artinya pemerintahan atau kekuasaan. Karl Popper, pemikir asal Austria, menyebutkan demokrasi sebagai kekuasaan oleh rakyat, dan maka itu rakyat memiliki hak untuk berkuasa (Popper, 1988). Dalam situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa, demokrasi diartikan sebagai “penyediaan lingkungan yang berisi penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasariah, yang di dalamnya kehendak bebas dari rakyat mampu diungkapkan dan dapat diwujudkan” (United Nations, 2015). Meski dapat diartikan secara sederhana sebagai “pemerintahan rakyat”, tapi dalam praktiknya, demokrasi adalah konsep yang amat luas. Bahkan sebuah riset dari Jean-Paul Gagnon menyebutkan bahwa terdapat 2.234 kata sifat dalam bahasa Inggris untuk mendefinisikan demokrasi (Gagnon, 2018).  Bernard Crick dalam bukunya yang berjudul Democracy: A Very Short Introduction (2003) menyadari bahwa istilah demokrasi, dalam...

Hak Minoritas menurut Will Kymlicka

(Artikel diturunkan dari Bandung Bergerak)  Salah satu kenyataan yang sukar ditolak dalam kehidupan bernegara adalah fenomena multikulturalisme. Secara sederhana, suatu negara dapat dikatakan memiliki aspek multikultural jika penduduknya memiliki latar belakang kebudayaan berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat melingkupi suku bangsa, ras, etnis, agama, adat istiadat, dan ragam lainnya. Perbedaan semacam itu, jika tidak dikelola dengan baik, akan menjadi sumber konflik yang serius dan berkepanjangan. Pertanyaannya, bagaimana cara mengelola multikulturalisme dalam suatu negara?  Will Kymlicka (lahir tahun 1962) adalah pemikir asal Kanada yang memfokuskan gagasannya pada multikulturalisme, terutama hak-hak minoritas. Kymlicka menuliskan dalam bukunya yang judulnya Multicultural Citizenship (1995) bahwa demokrasi liberal berupaya membela hak dan kemerdekaan individu, dengan harapan bahwa usaha tersebut dengan sendirinya bisa sekaligus menyelesaikan problem multikulturalisme dan p...

Keadilan sebagai Kesetimpalan menurut John Rawls

(Diambil dari buku Pengantar Ilmu Politik untuk Semua Orang [Ultimus, 2024] yang ditulis bersama M. Fauzi A. Rachman)  John Rawls adalah (1921-2002) adalah pemikir Amerika Serikat yang kerap disebut-sebut sebagai filsuf politik paling berpengaruh di abad ke-20 (Williamson, 2012). Dalam bukunya yang berjudul A Theory of Justice (1971), Rawls menawarkan gagasan tentang keadilan sosial yang berangkat dari bayangan akan kondisi asali atau posisi original ( original position ). Posisi original ini mengandaikan bahwa semua orang tidak mempunyai informasi apapun satu sama lain tentang kedudukannya dalam masyarakat, baik posisi kelas atau status sosialnya, juga tiada satupun yang tahu perkara distribusi sumber daya pada setiap orang, dan juga tidak ada yang mengetahui kemampuan seperti kecerdasan, kekuatan, dan semacamnya (Rawls, 1971: 12). Dalam kondisi orang-orang yang berada di balik selubung ketidaktahuan ( veil of ignorance ) seperti ini, Rawls seolah mengajukan pertanyaan, kira-kir...

Spiritualitas dalam Joged Gemoy

  (Ini adalah teks Filtum [Filsafat Tujuh Menit] yang dibacakan pada live IG Kelas Isolasi, 12 Maret 2024) Ya, kita tahu siapa yang pasti menang pada pilpres tahun ini. Orang yang dalam kampanyenya mengandalkan suatu gerakan tari yang dilabeli sebagai joged gemoy. Meskipun cerita tentang ini sudah beredar luas, saya harus ulas sedikit tentang darimana asal usul joged gemoy ini berdasarkan pengakuan Prabowo sendiri dalam podcast Deddy Corbuzier. Menurut Prabowo, gaya joged tersebut terinspirasi dari joged spontan yang dilakukan kakeknya, Pak Margono. Usut punya usut, ternyata gaya tersebut masih ada kaitannya dengan kisah pewayangan, "Kakek saya orang Jawa dari Banyumas, zaman itu belum ada televisi, jadi hiburannya wayang," kata Prabowo mulai bercerita. Dalam sebuah cerita wayang (yang diperagakan wayang orang itu), sang kakek merasa senang dengan sosok tokoh Pandawa dan Kurawa di mana gerakannya seperti orang yang sedang melakukan pencak silat. "Pandawa dan Kurawa, p...

Hidup yang (Tidak) Dilindungi

Setiap hari kita bertemu macam-macam orang tak dikenal. Kita tidak tahu apakah orang-orang tersebut baik atau jahat. Mereka bisa saja tiba-tiba memukul atau bahkan saling menusuk satu sama lain. Kita tidak pernah tahu. Bahkan pada orang yang dikenal pun, kita tidak pernah tahu kalau ternyata tetangga kita, misalnya, sudah merencanakan sejak lama untuk menggarong rumah kita (padahal sehari-harinya tetangga tersebut tampak sangat ramah). Manusia kemudian berandai-andai, bahwa terdapat semacam aturan yang membuat orang tidak bisa serta merta berbuat semaunya terhadap sesama. Misalnya, aturan persaudaraan (dia itu adikku, masa tiba-tiba memukul?), aturan yang diberlakukan oleh agama (menjadi berdosa jika seseorang menyakiti orang lain), atau aturan masyarakat (memukul orang yang tidak bersalah itu tidak baik). Aturan lainnya adalah hukum dan tadinya saya tidak pernah benar-benar memikirkan faktor ikatan semacam ini.   Mengapa saya tiba-tiba memikirkan perkara aturan hukum ini? S...

Pemilu

Apa pilihan kalian untuk pemilu yang akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi? Saya sudah memutuskan untuk memberikan suara bagi Partai Buruh pada pemilihan umum legislatif (pileg), sementara untuk pemilihan umum presiden (pilpres) saya belum punya pilihan atau bisa saja tidak memilih. Tidakkah menarik andaikata saya tidak memilih siapapun atau ternyata pilihan saya kalah, saya mesti dipimpin oleh pemimpin hasil pilihan orang lain? Sebaliknya, jika pemimpin yang menang adalah hasil pilihan saya, tidakkah ada orang lain yang mesti rela dipimpin oleh orang yang tidak dipilihnya? Padahal bukankah mandat seorang pemimpin dari sebuah sistem bernama demokrasi mestilah berasal dari rakyatnya? Inilah hal yang unik dari demokrasi agregatif sebagaimana diterapkan oleh pemilu kita, dan juga pada banyak pemilu di negara-negara lain. Demokrasi agregatif mendasarkan pengambilan keputusan pada aspek kuantitatif. Dalam konteks pemilihan umum, suatu kontestan dikatakan menang jika mendapatkan suara...