Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Tulisan suplemen untuk acara Pesta Pinggiran di Taman Ismail Marzuki, 25 November 2023 Tesis pertama: Filsafat Melahirkan Orang-Orang Menyebalkan Dalam Apology , disebutkan bahwa tugas filsafat adalah “menyengat kuda besar yang pemalas”. Sengatan Sokrates itulah yang membuat dirinya dibenci oleh sebagian warga Athena. Alasan Sokrates dihukum mati memang karena “menyebarkan pengaruh buruk bagi generasi muda”, tetapi mengacu pada perilakunya yang sering kepo pada orang-orang, sangat mungkin Sokrates dilaporkan karena “menyebalkan”. Cara Sokrates mengajukan pertanyaan memang di satu sisi, kelihatan berpura-pura tidak tahu, tetapi di sisi lain, ada unsur jebakan: membuat lawan bicaranya terpojok pada maksud yang diinginkan oleh Sokrates. Masih dari skena Yunani Kuno, nama Aristoteles tentu sangat familiar. Terdapat pernyataan terkenal Aristoteles yang diparafrasekan dari Nichomachean Ethics yang bunyinya seperti ini: Amicus Plato, sed magis amica veritas (Plato ad...