Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
(Diambil dari buku Pengantar Ilmu Politik untuk Semua Orang [Ultimus, 2024] yang ditulis bersama M. Fauzi A. Rachman) John Rawls adalah (1921-2002) adalah pemikir Amerika Serikat yang kerap disebut-sebut sebagai filsuf politik paling berpengaruh di abad ke-20 (Williamson, 2012). Dalam bukunya yang berjudul A Theory of Justice (1971), Rawls menawarkan gagasan tentang keadilan sosial yang berangkat dari bayangan akan kondisi asali atau posisi original ( original position ). Posisi original ini mengandaikan bahwa semua orang tidak mempunyai informasi apapun satu sama lain tentang kedudukannya dalam masyarakat, baik posisi kelas atau status sosialnya, juga tiada satupun yang tahu perkara distribusi sumber daya pada setiap orang, dan juga tidak ada yang mengetahui kemampuan seperti kecerdasan, kekuatan, dan semacamnya (Rawls, 1971: 12). Dalam kondisi orang-orang yang berada di balik selubung ketidaktahuan ( veil of ignorance ) seperti ini, Rawls seolah mengajukan pertanyaan, kira-kir...