Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Bukuku

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Keadilan sebagai Kesetimpalan menurut John Rawls

(Diambil dari buku Pengantar Ilmu Politik untuk Semua Orang [Ultimus, 2024] yang ditulis bersama M. Fauzi A. Rachman)  John Rawls adalah (1921-2002) adalah pemikir Amerika Serikat yang kerap disebut-sebut sebagai filsuf politik paling berpengaruh di abad ke-20 (Williamson, 2012). Dalam bukunya yang berjudul A Theory of Justice (1971), Rawls menawarkan gagasan tentang keadilan sosial yang berangkat dari bayangan akan kondisi asali atau posisi original ( original position ). Posisi original ini mengandaikan bahwa semua orang tidak mempunyai informasi apapun satu sama lain tentang kedudukannya dalam masyarakat, baik posisi kelas atau status sosialnya, juga tiada satupun yang tahu perkara distribusi sumber daya pada setiap orang, dan juga tidak ada yang mengetahui kemampuan seperti kecerdasan, kekuatan, dan semacamnya (Rawls, 1971: 12). Dalam kondisi orang-orang yang berada di balik selubung ketidaktahuan ( veil of ignorance ) seperti ini, Rawls seolah mengajukan pertanyaan, kira-kir...

Tentang Feminisme

  Sampai sebelum masa pandemi tahun 2020, saya tidak pernah merasa benar-benar terkesan dengan feminisme. Pandangan saya tentang feminisme masihlah dicemari obrolan tongkrongan yang mengatakan hal-hal seperti "feminis adalah orang-orang yang kekurangan selera humor" atau "feminis disuruh jadi tukang bangunan juga paling gak mau". Apalagi saya besar dalam lingkungan keluarga yang lumayan patriarkis dengan figur ayah sebagai sentral. Sementara ibu, yang aktif berkarir, memikul beban ganda dengan mengurusi rumah tangga dan anak-anak. Persentuhan saya dengan feminisme yang cukup intens dimulai dari undangan untuk mengisi kegiatan Komunitas Mahasiswa Filsafat (Komafil) Universitas Indonesia secara online di masa pandemi. Waktu itu kalau tidak salah saya diminta membawakan materi tentang gender dan seni. Sungguh undangan yang salah alamat, pikir saya.  Dengan penuh keraguan akhirnya saya menyelami teks Linda Nochlin yang berjudul Why Have There Been No Great Women Artists...

Tentang Demotivasi III

Setelah menulis Demotivasi I (2020) dan Demotivasi II (2021), rasanya saya perlu menggenapkan (atau mengganjilkan) jumlahnya menjadi tiga dengan menulis Demotivasi III - supaya mungkin lebih bagus terdengar sebagai trilogi ketimbang dwilogi (yang mengingatkan saya pada Padang Bulan -nya Andrea Hirata). Namun itu bukan artinya bahwa Demotivasi III adalah penutup. Bisa jadi, saya menulis lagi sampai IV, V, VI, dan seterusnya. Entahlah. Menulis yang pertama saja awalnya cuma sekadar impulsif, mencari cara bertahan hidup di masa pandemi, dan ternyata penjualannya tidak buruk, sehingga saya memutuskan menulis yang kedua, sekalian mengerucutkan renungan tentang demotivasi itu sendiri. Jadi, menulis hingga jilid tiga tidak pernah saya rancang sejak awal dan begitu saja terjadi. Dengan demikian, saya juga tidak berani memprediksi apakah Demotivasi akan ditutup di edisi tiga atau masih akan ada edisi-edisi berikutnya. Untuk jilid ketiga ini, saya mencoba mengambil beberapa jalur yang berbe...

Tentang Komik Charles Handoyo

Akhir tahun lalu, saya dikontak oleh Penerbit Footnote. Katanya, adakah naskah yang kira-kira bisa diterbitkan, utamanya terkait demotivasi? Saya bilang belum ada, terlebih lagi, Kumpulan Kalimat Demotivasi edisi tiga rencananya akan saya terbitkan kembali di Buruan and Co., seperti dua edisi sebelumnya. Namun saya punya beberapa ide yang mungkin bisa dijalankan. Pertama, ide tentang buku berjudul Sop Kikil , yang menjadi pelesetan Chicken Soup for Soul . Isinya, tentu saja, kisah-kisah tentang kegagalan hidup. Kedua, ide tentang pengembangan tokoh Charles Handoyo, tokoh yang disebut-sebut dalam Kumpulan Kalimat Demotivasi 2 . Siapakah Charles Handoyo? Saya akan menceritakan sedikit asal usul tokoh ini. Sebenarnya tokoh ini adalah rekaan Jason Limanjaya, kawan saya, seorang pianis jazz sangat berbakat, dengan pola pikir yang memang agak unik. Waktu saya mulai membuat instagram @kumpulankalimatdemotivasi, Jason kemudian berkontribusi dalam salah satu konten dan meminta namanya ditulis ...

Hubungan Cinta dan Benci dengan Ilmu Komunikasi

Ilmu komunikasi bukan ilmu favorit saya. Bahkan agak menjadi perdebatan untuk mengatakannya sebagai sebuah ilmu. Maksudnya, pertama, kegiatan komunikasi secara inheren ada pada segala tindakan kita. Bahkan, berbicara dengan diri sendiri pun dapat dikatakan sebagai kegiatan berkomunikasi (sering disebut sebagai komunikasi intrapersonal). Artinya, komunikasi tidak perlu dipelajari secara khusus, atau, kalaupun iya, lebih dekat ke praktik ketimbang teori. Dalam hal tertentu, orang bisa berkomunikasi dengan baik bukan karena memahami teorinya, melainkan karena sering mempraktikannya. Kedua, kalaupun ada yang dinamakan ilmu komunikasi, lebih tepat jika digunakan untuk mengkaji media dan karakteristiknya, sehingga menjadi jelas objek kajiannya, tidak kawin sana-sini, seolah punya justifikasi bahwa "ilmu komunikasi bisa membahas segala hal" seperti komunikasi pemasaran, komunikasi visual, komunikasi kesehatan, dan sebagainya. Padahal, tanpa kata "komunikasi" di depannya, s...

Bergelut dengan Logika Sensasi

Sebenarnya sudah sejak bulan April 2019, saya ditawari oleh Pak Hendro Wiyanto untuk menerjemahkan tulisan Gilles Deleuze yang berjudul Francis Bacon: The Logic of Sensation , yang aslinya ditulis dalam bahasa Prancis dan terbit tahun 1981. Buku yang saya terjemahkan adalah versi Inggris (2003) yang sudah dialihbahasakan oleh Daniel W. Smith.  Saat saya membaca-baca teks ini, sungguh isinya sukar sekali dipahami. Bahkan banyak bagian yang saya bingung: "Deleuze sebenarnya mau membicarakan apa?" Hal yang lebih menyulitkan, Deleuze banyak membicarakan lukisan karya Francis Bacon (Bacon pelukis ya, bukan Bacon filsafat ilmu), tapi lukisan itu sendiri tidak dicantumkan di dalam buku. Artinya, untuk bisa memahami konteks tulisan Deleuze, mesti sering-sering sambil membuka internet dan mencari lukisan yang dimaksud. Bisa dimaklumi, di bagian pengantar penerjemah, disebutkan bahwa jika gambar reproduksi lukisan disertakan, maka bukunya menjadi tebal sekali dan sebaiknya berwarna. Da...

Mengunjungi Hidup Derrida

Sekitar awal menuju pertengahan tahun 2021, saya dikontak oleh seorang kawan, praktisi sekaligus pemikir Buddhisme, Stanley Khu, dan diminta untuk menerjemahkan buku biografi Jacques Derrida. Tentu saja saya menyambut baik tawaran ini, terutama setelah selesai menerjemahkan Logika Sensasi -nya Gilles Deleuze, yang membuat saya agak ketagihan bergelut dengan alam pemikiran filsuf Prancis. Proses penerjemahan Deleuze sangat rumit, butuh dua tahun untuk menyelesaikannya dan sangat dibantu oleh editor yang juga kurator seni rupa, Dwihandono Ahmad, yang menolong saya untuk memahami istilah-istilah dalam seni lukis (termasuk memperbaiki hasil terjemahan yang berantakan). Oh ya, Logika Sensasi kemungkinan baru akan terbit bulan Maret atau April 2022.  Meski lebih ringan ketimbang tulisan Deleuze, buku Derrida: A Biography (2012) yang ditulis oleh Benoit Peeters tetaplah menantang. Terdiri dari sekitar 600-an halaman, buku ini dibagi ke dalam tiga bagian yaitu Jackie , Derrida dan Jacque...

Demotivasi dan Anjing

Dalam beberapa hari ini, Demotivasi 2 sedang dikirim-kirimkan pada mereka yang memesan sejak sebelum buku dicetak atau biasa disebut pre-order . Buku-buku ini rata-rata dikirimkan melalui jasa ekspedisi dan pada jarak dekat sekalipun, biasanya perlu minimal satu hari hingga sampai ke tangan penerima (jika dikirim hari ini, maka setidaknya besok baru sampai). Salah seorang pembeli, teman saya, Pangestu Hning Bhawana atau biasa dipanggil Estu, bertanya-tanya mengapa pesanannya tidak kunjung tiba padahal ia telah menunggu tiga hari. Pada keluhan-keluhan semacam itu saya hanya bisa mengatakan, "Tunggu saja."  Di hari keempat, Estu mengirim pesan berupa gambar bahwa bukunya telah sampai, tetapi dalam keadaan rusak. Rusak kenapa? Rupanya kurir ekspedisi melemparkan buku tersebut dan jatuh di kandang anjing. Si anjing mengoyak-ngoyak si buku hingga sebagian besar isinya tidak bisa dibaca. Saya turut sedih dengan kejadian itu dan mengirimkan buku yang baru sebagai pengganti. Di waktu...

Menjelang Terbitnya Demotivasi 2

Kumpulan Kalimat Demotivasi 2: Panduan Hidup Bahagia untuk Medioker   Sudah lama saya bercita-cita menulis Demotivasi jilid dua, tetapi baru benar-benar menuliskannya pada akhir Juni 2021, tepatnya di masa-masa terkena virus Covid. Waktu itu, suasananya memang mendukung: saya tidak punya banyak opsi dalam berkegiatan dan memang kondisi terkena Covid membuat suasana hidup terasa lebih muram — mood yang cocok untuk menulis sesuatu yang demotivasional. Entah kenapa, Demotivasi 2 ini rasanya lebih serius dan juga kelam. Mungkin dalam rentang waktu antara Demotivasi 1 dan Demotivasi 2 saya ada waktu memikirkan ulang tentang ide tersebut dan terinspirasi dari beberapa diskusi tentang demotivasi itu sendiri.  Awalnya demotivasi ditulis untuk senang-senang saja. Isinya tidak terlalu diatur harus bagaimana dan yang penting berisi olok-olok terhadap motivator beserta kata-kata motivasionalnya. Namun pada Demotivasi 2 ini, saya memikirkan beberapa hal, misalnya soal paradigma motivasion...

Tekad Menyebarkan Demotivasi

Jaraknya sudah dua bulan dari pertama buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi , dengan tulisan di blog ini. Saya baru sempat menuliskannya, karena "terganggu" proses jual beli buku yang cukup sibuk dan juga beberapa acara bedah buku (yang sudah dan akan berlangsung). Memang sudah sejak akhir tahun 2019, saya mulai meletupkan ide-ide tentang demotivasi, baik lewat media sosial maupun obrolan-obrolan ringan dalam konteks diskusi santai. Setelah menuliskan dan menerbitkannya ke Buruan and Co. (setelah sempat di-PHP oleh Mizan), saya merasa respons terhadap buku ini cukup baik. Penjualannya lebih baik dari buku-buku yang pernah saya tulis dan itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Tawaran diskusi dan bedah buku pun bermunculan - disertai review buku yang juga cukup ramai -, yang membuat saya berpikir bahwa Kumpulan Kalimat Demotivasi mungkin punya sesuatu yang "baru" untuk ditawarkan (pakai tanda kutip karena saya malu menyebut kata baru, dengan kenyataan ba...

Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates hingga Buddhisme Zen

Judul Buku: Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates hingga Buddhisme Zen Genre: Filsafat Penulis: Syarif Maulana Penerbit: Publika Edu Media ISBN: 978-602-71415-2-0 Tahun Terbit: 2015 Jumlah Halaman: 134 Harga: Rp. 45.000 Ulasan: Ilmu komunikasi, meski relatif baru mengemuka sebagai wacana akademik -posisinya sering tenggelam oleh reputasi ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial-, namun sebenarnya ia sudah dipelajari jauh ratusan tahun sebelum masehi. Para filsuf dari Yunani dan Romawi seperti Sokrates, Aristoteles, hingga Cicero, masing-masing mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang seputar penyampaian pesan. Dalam buku ini, kita akan berpetualang menjelajahi khazanah pemikiran mulai dari zaman kuno, modern, hingga ke Timur. Ziarah ini akan membawa kita pada suatu kesadaran bahwa komunikasi bukan sekadar suatu ilmu tempelan yang bisa dipelajari dalam hitungan bulan. Komunikasi punya filsafatnya sendiri. Tajam dan menukik hingga ke kedalaman. Testimoni: Buku ini c...

Mimpi yang Aneh

Mungkin ini adalah periode terlama saya tidak menulis blog. Sepanjang bulan November, saya sama sekali tidak punya waktu (atau tidak punya ide) untuk menerbitkan posting-posting baru. Padahal, sejak punya blog lima tahun silam, saya selalu bisa mengisi minimal dua kali dalam sebulan. Jujur memang ketiadaan posting tersebut adalah karena sesuatu yang sedang saya kerjakan, dan barangkali dapat dikatakan sebagai "mimpi yang aneh". Mengapa? Begini ceritanya: Selesai menggarap buku Nasib Manusia , saya tiba-tiba bersemangat untuk menulis buku yang lain, berjudul Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates Hingga Buddhisme Zen . Karena memang suka dan mendalami filsafat sudah sejak lama, maka bagi saya sendiri, tidak susah untuk menuliskannya. Dalam waktu hampir sebulan setengah, saya sudah merampungkan enam dari sepuluh bab yang direncanakan. Proses menulis saya tersebut ternyata tercium oleh kawan saya, seorang direktur penerbitan yang bernaung di bawah sebuah perusahaan telekomunik...

Nasib Manusia

Judul Buku : Nasib Manusia Genre : Biografi Objek Kajian : Kisah hidup Awal Uzhara Penulis : Syarif Maulana Penerbit : Publika Edu Media ISBN : 978 - 602 - 14138 - 6 - 9 Tahun Terbit : 2014 Jumlah Halaman : 120 Harga :  Rp. 40.000 Ulasan Awal Uzhara adalah orang besar sekaligus bukan siapa-siapa. Orang besar karena ia adalah satu dari sedikit penerima beasiswa untuk bersekolah di VGIK, Moskow yang merupakan institut sinematografi tertua di dunia. Selain aktivitasnya di dunia akting dan penyutradaraan, Awal Uzhara juga turut berjasa menyebarkan kebudayaan Indonesia di Rusia lewat kegiatan mengajarnya di Universitas Negeri Moskow. Awal Uzhara adalah juga sekaligus bukan siapa-siapa oleh sebab nasibnya yang terkatung-katung di negeri orang. Kewarganegaraannya dicabut oleh pemerintah Indonesia sehingga lebih dari lima puluh tahun tidak bisa pulang ke Indonesia. Buku ini memuat seluruh kisah hidupnya yang penuh paradoks. Ia adalah orang yang diingat sekaligus dilupa...

Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey

Judul Buku           : Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey Genre                  : Filsafat, Film Studies Objek Kajian       : 2001: A Space Odyssey (1968) karya Stanley Kubrick Penulis                 : Syarif Maulana Penerbit               : Garasi10 Tahun Terbit        : 2013 Jumlah Halaman   : 113 Harga                  : Rp. 40.000 Ulasan Tahun 2001 sudah lewat. Ramalan Kubrick tentang superkomputer semacam HAL 9000, perjalanan ke Yupiter, hingga tegaknya monolit di sejumlah tempat tidak sepenuhnya terbukti. Namun keakurasian ramalan Kubrick bukanlah sesuatu yang patut dipersoalkan. Kita tahu bahwa ada akurasi yang jauh lebih bisa diambil relevansinya, yaitu pertanyaan tentang paradoks dunia manusia kontemporer:...