Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
PEDAGOGI LITERASI DI ERA POSMODERNISME 1) Syarif Maulana 2) Pada tahun 1996, seorang profesor matematika bernama Alan Sokal dari New York University memublikasikan artikel berjudul “ Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity ” di jurnal ilmiah bernama Social Text yang fokus pada hal-hal terkait kajian budaya ( cultural studies ) dan posmodernisme. Setelah dipublikasikan, Sokal kemudian mengakui, “Artikel tersebut adalah mélange (percampuradukan) dari kebenaran, semi-kebenaran, seperempat-kebenaran, kebohongan, pernyataan-pernyataan tidak relevan, dan kalimat-kalimat tidak bermakna.” 3) Apa tujuan sang profesor melakukan hal tersebut? Katanya, kira-kira, sekadar menunjukkan bahwa posmodernisme menjadi istilah yang kerap menunjuk pada segala sesuatu yang tampak keren, tampak berbudaya, tampak ilmiah, padahal tidak ada maknanya sama sekali. Ia juga sekaligus menyerang para pemikir posmodern seperti Jacques Derrida, Jean-Fran...