Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Jaraknya sudah dua bulan dari pertama buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi , dengan tulisan di blog ini. Saya baru sempat menuliskannya, karena "terganggu" proses jual beli buku yang cukup sibuk dan juga beberapa acara bedah buku (yang sudah dan akan berlangsung). Memang sudah sejak akhir tahun 2019, saya mulai meletupkan ide-ide tentang demotivasi, baik lewat media sosial maupun obrolan-obrolan ringan dalam konteks diskusi santai. Setelah menuliskan dan menerbitkannya ke Buruan and Co. (setelah sempat di-PHP oleh Mizan), saya merasa respons terhadap buku ini cukup baik. Penjualannya lebih baik dari buku-buku yang pernah saya tulis dan itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Tawaran diskusi dan bedah buku pun bermunculan - disertai review buku yang juga cukup ramai -, yang membuat saya berpikir bahwa Kumpulan Kalimat Demotivasi mungkin punya sesuatu yang "baru" untuk ditawarkan (pakai tanda kutip karena saya malu menyebut kata baru, dengan kenyataan ba...