Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Pada tanggal 1 dan 2 Mei kemarin, saya datang ke dua kota secara berurutan yaitu ke Tangerang dan Jakarta. Adapun tujuan kedatangan tersebut adalah terkait keberadaan forum pengkaji filsafat di masing-masing kota: Di Tangerang ada forum Ngobrol Sambil Ngopi yang diselenggarakan di Agano Coffee, sementara itu di Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan, ada forum Diskusi Rabuan yang diinisiasi Gereja Komunitas Anugerah di Diskusi Kopi - Ruang Berbagi. Meski berasal dari dua undangan yang berbeda, namun akibat tanggal diskusi yang berdekatan, saya merangkumnya dalam satu kegiatan bernama "Gerilya Filsafat" - terinspirasi oleh Kang Ary Juliyant, musisi, yang menyebut proyek musik kelilingnya dengan istilah "Gerilya Musik" -. Atas gerilya dua hari yang menyenangkan tersebut, saya akan menuangkannya dalam catatan-catatan berikut ini: Hari Pertama Waktu: Selasa, 1 Mei 2018 Forum: Ngobrol Sambil Ngopi Tema: Kita, Cita, dan Kota Tempat: Agano Coffee, Jalan Daan M...