Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2017

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Jantan: Antara Adu Domba, Maskulinitas, dan Manifestasi Digital

(Ditulis sebagai pengantar kuratorial untuk pameran Aci Andryana di Sekolah Tinggi Desain Indonesia, 29 Agustus 2017) Dalam esai berjudul Cock Fight and The Balinese Male Psyche yang ditulis oleh Arthur Asa Berger pada tahun 2007, disebutkan bahwa aktivitas adu ayam di Bali tidak hanya mempunyai aspek hiburan saja. Bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pertunjukkan tersebut, terdapat dimensi lain seperti sosial, religius, hingga seksualitas yang juga turut berperan. Terkait dengan yang disebutkan terakhir, dalam penelitian Berger, secara spesifik disebutkan bahwa adu ayam secara tersirat mengandung glorifikasi atas maskulinitas. Ada kebanggaan yang besar bagi pemilik ayam, ketika ayamnya dielu-elukan oleh para penonton. Pun ketika darah mulai bermuncratan dalam pertarungan, ada semacam kepuasan yang disebut Berger sebagai “orgasme psikologis”.  Adu ayam dengan adu domba tentu tidak sedemikian jauh berbeda. Pada dasarnya, keduanya punya fungsi yang sama dalam menyalurkan h...

Museum, Komunitas, dan Ranah Publik

*) Dipresentasikan di acara "Seminar 128: Bersama Museum Rekatkan Kebhinekaan", Museum Geologi Bandung, 12 Agustus 2017.  Mari memulai tulisan ini dengan sesuatu yang jauh dari perbincangan tentang museum. Para penggemar sepakbola tentu tahu Arsene Wenger, pelatih tim sepakbola Liga Inggris, Arsenal. Di masa mudanya, ia adalah orang yang kerap menyempatkan diri untuk pergi ke bar dan menonton sepakbola di sana bersama banyak orang (istilah zaman sekarang mungkin “nobar”). Seperti biasa kita dapati ketika nobar Persib misalnya, masing-masing bobotoh tentu berkomentar, meski hanya berupa celetukan, tentang bagaimana harusnya tim kesayangannya bermain. “Harusnya dia bermain di sayap!”, “Harusnya penyerang itu diganti!”, “Harusnya pemain lawan itu dijaga lebih ketat!” begitu mungkin ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar ketika nobar. Lalu Wenger mengatakan dengan jujur, “Saya belajar dari celetukan-celetukan orang di bar tentang taktik sepakbola.”  Pengakuan te...

Masa Depan dan L'Avenir

Gambar diambil dari sini . Dalam film dokumenter tentang Jacques Derrida, pemikir kontemporer Prancis tersebut mengungkapkan pikirannya mengenai masa depan di bagian pembuka film:  “ In general, I try and distinguish between what one calls the Future and “l’avenir” [the ‘to come]. The future is that which – tomorrow, later, next century – will be. There is a future which is predictable, programmed, scheduled, foreseeable. But there is a future, l’avenir (to come) which refers to someone who comes whose arrival is totally unexpected. For me, that is the real future. That which is totally unpredictable. The Other who comes without my being able to anticipate their arrival. So if there is a real future, beyond the other known future, it is l’avenir in that it is the coming of the Other when I am completely unable to foresee their arrival. ” Saya tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakan Derrida, hingga sejak tiga bulan terakhir ini mulai menjalani hidup serabutan....