Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Diecky Kurniawan Indrapraja, sahabat yang dalam hitungan hari akan pergi ke Pontianak, mewariskan sesuatu untuk Bandung yang sudah ia tinggali lebih dari sepuluh tahun lamanya. Berkunjung ke kontrakannya di Antapani, saya menemukan sembilan puluh persen barang-barangnya sudah masuk dus. "Besok pagi, Satriyo akan membawanya dengan mobil pick-up untuk dibawa ke tempat pengiriman," katanya merujuk pada Satriyo Utomo, murid sekaligus sahabatnya. Apa yang dia wariskan? Sesungguhnya dalam sepuluh tahun kehadirannya di Bandung, sudah banyak. Diecky mengajar, berkomunitas, berkarya, manggung, berkompetisi, menjadi pembicara dalam seminar, menjadi panitia dalam konser-konser, dan kesemuanya dilakukan dengan semangat -meminjam istilah Goenawan Mohamad- "mengikhtiarkan kebenaran". Meski demikian, Diecky tetap ingin meninggalkan satu warisan (lagi) bagi kota yang ia cintai. Inilah dia: 27 keping CD progressive rock mulai dari Genesis, Emerson, Lake & Palmer, Mahavish...