Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Diecky Kurniawan Indrapraja, sahabat yang dalam hitungan hari akan pergi ke Pontianak, mewariskan sesuatu untuk Bandung yang sudah ia tinggali lebih dari sepuluh tahun lamanya. Berkunjung ke kontrakannya di Antapani, saya menemukan sembilan puluh persen barang-barangnya sudah masuk dus. "Besok pagi, Satriyo akan membawanya dengan mobil pick-up untuk dibawa ke tempat pengiriman," katanya merujuk pada Satriyo Utomo, murid sekaligus sahabatnya. Apa yang dia wariskan? Sesungguhnya dalam sepuluh tahun kehadirannya di Bandung, sudah banyak. Diecky mengajar, berkomunitas, berkarya, manggung, berkompetisi, menjadi pembicara dalam seminar, menjadi panitia dalam konser-konser, dan kesemuanya dilakukan dengan semangat -meminjam istilah Goenawan Mohamad- "mengikhtiarkan kebenaran". Meski demikian, Diecky tetap ingin meninggalkan satu warisan (lagi) bagi kota yang ia cintai. Inilah dia: 27 keping CD progressive rock mulai dari Genesis, Emerson, Lake & Palmer, Mahavish...