Skip to main content

Posts

Showing posts with the label eksistensialisme

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Menari di Dalam dan Bersama Badai

(Tulisan suplemen diskusi Relisiensi dan Eksistensialisme: Bagaimana Berselancar dalam Kekacauan Hidup? , Jumat, 25 Oktober 2024 di Makan di Tebet, Jakarta) “ Kembali bukan sebagai penakluk badai, melainkan menari di dalam dan bersama badai .” - Alex Aur Apelaby  Hal menarik dari hidup adalah kemampuannya untuk memberikan semacam penderitaan, keterpurukan, atau bencana - yang membuat kita tidak hanya merasakan kekecewaan, melainkan sampai pada mempertanyakan keseluruhan kehidupan. Kita bisa kecewa oleh banyak hal: tak kunjung mendapat pekerjaan, ditolak cinta, atau gagal dalam ujian. Namun menganggur terlalu lama, penolakan cinta yang tak berkesudahan, atau kegagalan dalam ujian berulangkali, bisa jadi membuat kita kemudian bertanya-tanya secara lebih mendalam: Apa sebenarnya yang salah? Apakah kehidupan ini adil? Apakah Tuhan adil?  Masalahnya, pertanyaan semacam itu tak ada jawabannya. Hidup diam di hadapan pertanyaan demikian. Itulah yang dimaksud Camus sebagai absurd . Ki...

Kesendirian

Meski aku sering kemana-mana sendiri, konsep kesendirian bukanlah hal yang akrab denganku. Maksudnya, dalam kesendirian, aku selalu terdistraksi, untuk nge- scroll Twitter, cari teman ngobrol di Whatsapp, atau apa sajalah yang penting jangan sampai jatuh pada kesunyian, jangan sampai sendiri banget . Tentu saja, seorang pengkaji filsafat harus punya waktu-waktu sendiri, untuk membaca teks secara intens, untuk berefleksi, aku butuh itu, tetapi sekali lagi, konsepnya bukan dalam kesendirian, tetapi lebih tepatnya: dalam sebuah lingkungan yang aku nyaman di dalamnya. Aku mesti membangun sekelilingku dulu, enjoy dengan itu, baru aku bisa menulis dan membaca dengan khidmat.    Apa bedanya konsep semacam itu dengan kesendirian? Beda. Kesendirian adalah kenyamanan akan diri, dalam diri, tanpa perlu sibuk menyiapkan lingkungan eksternal. Kesendirian adalah buah dari pergulatan batin yang sibuk, untuk kemudian tak lagi menganggap lingkungan eksternal sebagai sesuatu yang krusial, k...

Euthanasia

Beberapa hari belakangan baca-baca tentang euthanasia untuk kepentingan menulis artikel Jurnal Etika Terapan, ternyata banyak hal baru yang saya dapat (selain perasaan yang sangat gloomy ). Jika membaca beberapa artikel (berbahasa Indonesia) hasil googling, pengertian euthanasia seringkali langsung pada "suntik mati". Pengertian ini kurang akurat, karena "suntik mati" hanyalah salah satu metode dalam euthanasia aktif. Setelah membaca beberapa sumber seperti Euthanasia: A Reference Handbook (McDougall & Gorman, 2008), Assisted Suicide and Euthanasia: A Natural Law Ethics Approach (Paterson, 2008), dan The End of Life: Euthanasia and Morality (Rachels, 1986), pandangan saya menjadi lebih luas perkara euthanasia. Euthanasia sendiri terdiri dari beberapa jenis. Euthanasia aktif artinya penghilangan nyawa pasien dilakukan secara langsung melalui tindakan yang disengaja dan mengarah langsung pada kematian orang yang dituju.  Sementara itu, euthanasia pasif adalah t...

Memasak dan Memori Tubuh

MEMASAK DAN MEMORI TUBUH Dalam beberapa bulan terakhir, saya intens belajar masak. Alasannya apa? Hanya ingin mencoba saja. Semacam ingin memasuki area lain dalam kehidupan. Kebetulan memang apartemen yang saya tinggali lokasinya sangat dekat dengan pasar. Di pasar, bahan-bahan untuk memasak tidak hanya relatif lengkap, tetapi juga murah. Hampir setiap hari saya mencoba menu-menu baru yang dipelajari dari Youtube, mulai dari masakan keren-kerenan (Jepang, Eropa) sampai yang rumahan. Dari sekian menu yang saya masak, yang membanggakan (sejauh ini) justru yang rumahan itu. Saya mulai bisa memasak perkedel kentang, perkedel jagung, sambal goreng kentang, tempe bacem, sampai tongkol balado. Apa renungan yang saya dapat dari masak memasak ini? Khususnya tentang masakan rumahan, saya tiba-tiba ingat banyak adegan di masa kecil hingga remaja. Percakapan yang saya dengar setiap pagi antara bibi, tante, ataupun mamah, beberapa di antaranya adalah seputar resep dan teknik memasak. Pada masa...

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat...

Pandemi dari Sudut Pandang Filsafat

(Ditulis untuk rubrik Opini Pikiran Rakyat, tapi ditolak) Dalam sejarah peradaban manusia, wabah yang menyerang manusia dalam jumlah banyak semacam pandemi yang sedang kita alami ini tentu bukan yang pertama kali. Misalnya, yang paling terkenal, tentu saja wabah yang menyerang Eropa di abad ke-14, yang diakibatkan oleh bakteri yersinia pestis atau disebut juga dengan pes. Wabah yang berlangsung sekitar tujuh tahun tersebut, membunuh 75 hingga 200 juta orang dan masih dianggap sebagai pandemi terburuk sepanjang sejarah. Pandemi lain, yang muncul dalam dua ratus tahun terakhir, adalah kolera. Pandemi kolera diketahui muncul tujuh kali (salah satunya di Indonesia tahun 1961) dan dianggap masih mengancam hingga hari ini. Pada setiap wabah yang terjadi, tentu saja setiap manusia berhak menafsirnya dari berbagai sudut pandang. Albert Camus (1913 – 1960), filsuf asal Prancis, menuliskan pemikirannya tentang wabah dalam bukunya berjudul La Peste (1947), yang menggambarkan situasi d...

Manusia Paripurna dalam Perspektif Nietzsche

(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Manusia Paripurna", 28 Juli 2019 di Rumah Komuji)  Ketika membicarakan tentang konsep "manusia paripurna", agaknya tidak banyak tokoh dalam filsafat Barat yang membicarakannya secara gamblang. Kebanyakan dari mereka menyisipkannya dalam suatu pemikiran tentang etika, mengenai nilai-nilai yang seyogianya dipegang oleh manusia.  Misalnya, Aristippus menganggap bahwa kebaikan tertinggi dimulai dari kepuasan ragawi. Sementara Diogenes sebaliknya, kebaikan tertinggi adalah penolakan terhadap kemelekatan dan sikap sinis pada dunia. Atau jika melompat ke zaman Pencerahan di abad ke-18, Immanuel Kant mengatakan bahwa kebaikan tertinggi seyogianya mengandaikan bahwa apa yang kita lakukan punya maksim universal.   Namun seorang filsuf di era antara romantik dan modern ada yang dengan berani bicara tentang "manusia paripurna". Namanya Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) dan ia bicara tentang konsep übermensch atau...

Warteg dan Masyarakat

  Hampir setiap pagi, saya punya ritual yang sukar ditinggalkan, yaitu sarapan di warteg Pak Imron. Awalnya, hubungan kami ya transaksional saja. Saya pembeli dan beliau penjual. Namun lama kelamaan, sekitar di hari keempat, Pak Imron mulai bertanya-tanya kegiatan saya, dan saya pun bertanya seputar apa-apa yang dialaminya selama mengelola warteg. Lalu ia cerita, tentang orang-orang yang datang ke warungnya, dari mulai orang gila, gelandangan, mahasiswa belum dapat kiriman uang, orang dengan kemeja rapi tapi enggan bayar, dan ragam lainnya. Di sisi lain, Pak Imron juga berinisiatif, jika kebetulan melihat orang yang belum makan (karena tampak sedang mengais atau menggelandang, misalnya) untuk turun membungkuskan nasi beserta lauk pauk.  Ini saya tidak sedang mengumbar cerita kemanusiaan dalam rangka mempromosikan Pak Imron dan wartegnya. Hal yang lebih pokok adalah ini: tentang warteg sendiri, sebagai suatu tempat yang menjadi solusi paling mendasar bagi persoalan umat man...

Kelas Kajian Eksistensialisme: Nietzsche Ya Nietzsche

*) Ditulis sebagai pengantar Kelas Kajian Eksistensialisme: Friedrich Nietzsche di Garasi10, 8 Januari 2018. Nietzsche dan Eksistensialisme  Ketika membicarakan para pemikir eksistensialisme, nama Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) tidak selalu secara otomatis dikait-kaitkan. Alasannya, kemungkinan, selain dia tidak sering membawa-bawa kata “eksistensi” dalam tulisan-tulisannya, Nietzsche juga tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari di tengah sejarah pemikiran - artinya, ia tidak mudah digolongkan pada “isme-isme” apapun. Nietzsche ya Nietzche-.  Pertanyaannya, mengapa ia tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari? Ada beberapa penyebab: Pertama, Nietzsche benar-benar otentik. Ia menulis dalam suatu rasa muak yang kuat terhadap zaman, sehingga kita yang membacanya, turut merasakan mual di perut. Tulisannya benar-benar mencerminkan suatu kemarahan yang hebat dan merusak - yang membuat siapapun rasanya tidak mungkin membaca Nietzsche dalam seka...

Pertaruhan dan Hukuman Seumur Hidup

  Perdebatan tentang mana yang lebih baik antara hukuman mati dan hukuman seumur hidup memang kerap pelik. Ada versi yang mengatakan bahwa hukuman mati lebih manusiawi karena tidak memperlama penderitaan dan menimbulkan efek jera bagi yang mengetahuinya. Sementara itu hukuman seumur hidup, di sisi lain, dianggap lebih baik karena negara sebenarnya tidak mempunyai wewenang mencabut nyawa warga negara. Akhirnya saya cukup tercerahkan tentang perdebatan ini setelah membaca cerpen Anton Chekhov yang berjudul Pertaruhan .  Cerpen yang ditulis tahun 1889 tersebut berkisah tentang perdebatan antara bankir dan yuris (ahli hukum). Kata bankir, "Hukuman mati langsung membunuh, sedangkan hukuman kurungan selama hidup membunuh secara perlahan-lahan. Manakah algojo yang lebih berperikemanusiaan? Yang membunuh dalam beberapa menit, atau yang menarik-ulur nyawa Tuan selama bertahun-tahun?" Yuris berpendapat lain, "Hukuman mati dan hukuman kurungan seumur hidup sama-sama tidak bermo...

Rahim dan Alam Semesta

  Ditulis tahun 2013 untuk buku bunga rampai berjudul Mom, The First God that I Knew. Istri, saat saya tengah menuliskan ini, sedang dalam perjalanannya untuk menjadi seorang ibu. Ia tengah dalam masa hamil dan memasuki bulan ke sembilan. Namun jika ditanya, sudah siapkah menjadi ibu? Ia selalu menjawab sudah, karena saya sudah menjadi ibu. Sejak kapan? Anaknya saja belum lahir. Oh, tidak, kamu salah, saya sudah jadi ibu sejak anak itu berada dalam kandungan.   Mungkin tidak rasional sama sekali jika saya jelaskan pada kamu bagaimana istri saya selalu bicara dengan jabang bayi di perutnya hampir dalam setiap gerak-geriknya. Ia bicara dengan nada suara penuh kasih sayang yang biasa kita dengarkan dari seorang ibu pada anaknya. Meski belum bertemu, ia sering mengusapi perutnya dengan halus dan berkata, Mami kangen, ingin jumpa.  Saya kadang-kadang sering ketus dengannya dengan mengatakan, Memang dia bisa dengar? Tapi dunia ini menjadi bengis oleh berbagai ras...

Masih Adakah Nuansa Personal Dalam Pusaran Digitalisasi Maaf-Maafan?

Lebaran tahun 1438 Hijriah ini, dunia digital masih dan semakin berkuasa. Nyaris setiap menit (atau bahkan detik), pesan demi pesan masuk ke Whatsapp saya, yang kadang saya baca, tapi umumnya tidak. Kenapa tidak dibaca? Tentu saja, karena pesan itu semua terlihat sama saja. Mungkin ada beberapa yang kreatif - yang menimbulkan senyum kecil, yang membuat saya ingin meneruskan pesan itu - tapi sayang sekali, tidak orisinil. Ia yang saya pikir kreatif itu, juga meniru dari yang lain.  Tapi dalam dunia kontemporer ini, mungkin orisinalitas adalah isu yang ketinggalan. Semua memproduksi, semua mengonsumsi. Di masa lebaran, kita berada dalam pusaran "digitalisasi maaf-maafan" yang sangat masif, sehingga semua bisa kreatif, semua bisa inovatif, semua bisa merajut kata-kata indah, semua bisa menyuguhkan ragam visual yang estetis, tapi sekaligus: semua menjadi tidak bermakna. Pada titik ini, kita sudah sulit berbicara " medium is the message "-nya Marshall McLuhan ya...

Menjadi Manusia Merdeka di Hadapan Absurditas (Bahasan Eksistensialisme tentang Tokoh Meursault, Bernard Rieux, dan Sisifus)

*) Ditulis dalam rangka Diskusi Rabuan di Common Room Thamrin Residence Lantai 5, Jakarta, 20 Mei 2015. Ada perasaan gembira dan juga cemas, ketika saya dihubungi untuk membicarakan hal ikhwal Albert Camus, dalam kesempatan kali ini. Mengapa? Gembira karena tentu saja, Camus adalah filsuf besar. Pikiran-pikiran dia begitu penting bagi perkembangan kehidupan Barat pada umumnya. Camus menawarkan solusi bagaimana untuk tetap hidup berbahagia di tengah kekosongan batin yang hadir akibat konsekuensi logis dari modernitas. Selain itu, tulisan-tulisannya juga amat memikat dan mempunyai nilai sastra tinggi –bandingkan dengan Descartes, Kant, atau Hegel, yang tulisannya begitu menyebalkan untuk dibaca-.  Selain itu, ada perasaan cemas karena kenyataan bahwa membicarakan pemikiran seseorang adalah kegiatan yang tidak mudah. Kita tidak bisa begitu saja memeras pemikiran Camus lewat satu dua tagline yang sudah ia lontarkan. Mau tidak mau, saya mesti membaca hampir seluruh tulisan...

Ateisme Sebagai Sikap Kemanusiaan Baru

*) Ditulis sebagai suplemen diskusi mengenai ateisme di Gallery Cafe, Taman Ismail Marzuki, atas prakarsa Lembaga Bhinneka hari Sabtu, 30 Agustus 2014. Sumber gambar: http://bsnscb.com/atheism-wallpapers/27216671.html 1. Mengapa Ateisme Muncul?  Tentu saja kita bisa mengira bahwa sebelum abad ke-20, sudah terdapat orang-orang yang dalam hidupnya tidak meyakini keberadaan Tuhan. Namun perlu diakui bahwa sikap semacam itu baru disuarakan secara lantang ketika dunia memasuki abad ke-20. Paham ateisme, atau sebuah aliran yang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, menjadi tren yang berkembang di era modern. Perkembangannya sangat ditopang oleh berbagai hal yang akan kita bahas bersama-sama.  a. Perkembangan Sains dan Teknologi  Ketika Eropa memasuki periode Zaman Pencerahan pada sekitar abad ke-17 dan abad ke-18, terdapat sikap percaya Tuhan yang berbeda sama sekali. Seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, Tuhan yang dipercayai oleh –umumnya- p...