Saya ingat pertama kali memutuskan suka sepakbola adalah pas Euro '96 dan memilih Itali sebagai tim favorit hingga hari ini. Namun saya baru sadar ada tim yang memainkan sepakbola indah itu ketika nonton pertandingan persahabatan Brasil lawan Denmark masih di tahun yang sama. Brasil menang 5-1 sebagai pemanasan menjelang Olimpiade Atlanta. Tadinya nonton sepakbola ya seru saja, bola ditendang ke sana ke mari, ada yang lari, ada yang mencetak gol. Tapi melihat Brasil, saya baru tahu: oh, main sepakbola ini bisa seperti menari-nari ya . Tim olimpiade Brasil waktu itu diperkuat pemain seperti Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, Juninho dan Bebeto. Brasil memang tidak meraih medali emas di Olimpiade Atlanta '96. Juaranya adalah Nigeria dengan tim muda yang brilian, mengalahkan Argentina yang di dalamnya ada Simeone, Crespo, dan Zanetti. Brasil sendiri tunduk dramatis di tangan tim Elang Super setelah sempat unggul 3-1, sebelum dibalikkan oleh gol-gol dari Ikpeba dan Kanu. Selecao ti...
Piala Dunia 2026 sudah separuh jalan dan saya baru bisa menuliskan ini. Piala Dunia selalu menjadi warna dari kehidupan saya. Saya ingat pengalaman paling pertama adalah ketika diajak Papap nonton final Piala Dunia 1994 yang ditayangkan di TVRI. Bukan nobar rame-rame, karena saya tahu Papap juga tidak suka-suka amat dengan sepakbola. Hanya nonton depan televisi dan kami berdua terlelap, bangun-bangun, Brazil dikabarkan juara, gara-gara penalti Roberto Baggio melambung ke angkasa. Saya tidak mengerti sepakbola saat itu, sampai mulai menggandrungi dua tahun kemudian, tepatnya Euro '96 dan entah kenapa, menjatuhkan pilihan tim favorit pada Itali. Dari sejak itu, hingga hari ini (bukankah tidak benar-benar ada alasan rasional di balik kenapa kita menjadi fanatik terhadap suatu tim sepakbola?). Piala Dunia 2006 tentu menjadi yang paling berkesan, karena Itali menjadi juara di sana, di Jerman. Pertandingan semifinal melawan tuan rumah lebih berkesan ketimbang finalnya sendiri melawan Pra...