Karena sedang tak ada kendaraan dan alasan kesehatan, hampir dua tahun belakangan ini saya kemana-mana berjalan kaki. Diusahakan minimal empat kilometer. Rute tetap biasanya PP rumah saya dan rumah Nadya yang memang pas segitu jaraknya. Selain itu, akibat kena cancel dan banyak kehilangan kesibukan lama, saya gak merasa perlu kendaraan karena mobilitas pun menurun drastis. Sehari-hari paling cari kafe untuk nulis, ngopi-ngopi, di rumah dengerin musik dan tiduran, pergi kirim makanan buat Nadya, beli rokok dan ke warteg, nge- date . Repeat . Jalan kaki menjadi semacam aktivitas yang dibuat-buat, setidaknya supaya hidup tak sekadar boboan di kamar. Lama kelamaan, kebiasaan jalan kaki menjadi tidak sekadar menyusuri rute yang itu-itu saja. Belakangan, saya mulai mencari jarak yang lebih jauh. Misalnya, ngafe nya tak lagi di sekitaran rumah, tapi coba ke kafe di toko roti Djie Seng di Astana Anyar yang jaraknya tiga kilometer lebih. Awalnya melelahkan, kadang di tengah-tengah saya me...
Beberapa hari lalu, pasca tersingkirnya Portugal di tangan Spanyol pada babak perdelapan besar, Cristiano Ronaldo menyatakan diri pensiun dari sepakbola internasional. Usianya 41. Banyak pemain sudah gantung sepatu jauh sebelum mencapai angka itu. Sementara itu Ronaldo malah jadi striker utama di level dunia. Jika dihadap-hadapkan dengan Messi, saya bukanlah penggemar Ronaldo. Selain itu, saya juga kurang suka pemain ini karena apa ya, kelihatannya belagu aja wkwk Saya pertama lihat permainan Ronaldo itu ketika direkrut awal-awal oleh Manchester United dari Sporting Lisbon. Waktu itu dia masih diplot di sayap kanan dan penilaian saya: Ini orang footwork oke, trik dahsyat, terus? Iya, Ronaldo muda memang banyak gaya. Namun dari musim ke musim, ketika ia mulai digeser ke posisi sayap kiri supaya bisa cut-inside dan menendang dengan kaki kanan favoritnya, permainannya tampak lebih efektif. Berbeda dengan posisi pertamanya yang membuat Ronaldo mesti menari-nari untuk melewati bek sayap la...