Kumpulan Tulisan Mengenai Yang Ada

Syarif Maulana

Author: Syarif Maulana

Wednesday, January 6, 2021

Catatan Gerilya Filsafat 2020 Edisi Pantura


Catatan Gerilya Filsafat 2020

Entah ide datang dari mana, tapi saya pikir menarik jika bisa pergi ke tempat-tempat tertentu di Indonesia, untuk kemudian diskusi filsafat dengan komunitas setempat. Niatnya, saya ingin punya semacam catatan tentang komunitas-komunitas apa saja yang ada di seluruh Indonesia dan apa fokus kajian yang mereka bahas. Tapi saya tidak ingin hanya berupa biodata-biodata saja, melainkan ingin juga untuk terlibat, merasakan langsung suasana diskusinya, sehingga hasil observasinya lebih lengkap. Walaupun, tentu, ini juga menjadi semacam justifikasi bagi saya yang ingin sekadar jalan-jalan. 

Poster diskusi Gerilya Filsafat di Malang.


Sebenarnya upaya ini sudah dilakukan tahun 2019 lalu, saat saya berkunjung ke Medan. Dengan modal sendiri, saya berdiskusi dengan empat komunitas di sana dan rupanya saya merasa bahwa kegiatan ini "benar", dalam artian: Dengan berkunjung dan berdiskusi langsung, kita bisa melihat betapa beragamnya kondisi, orang-orang, metode, kultur, dan fokus kajian dari masing-masing komunitas. Dengan demikian, berfilsafat tidak cuma tentang kegiatan berpikir saja, melainkan juga perkara bersosialisasi dan memahami kebudayaan. Berfilsafat tidak lagi tentang pengembaraan ide, melainkan juga pengembaraan tubuh dan bagaimana penempatannya dalam konteks historis - kultural. Oia, di Medan waktu itu, saya bercengkerama dengan kawan-kawan dari Komunitas Mikir, Degil House, Literacy Coffee, dan satu lagi, adalah para mahasiswa UNIMED, tapi diskusinya tidak di kampus, melainkan di sebuah mal yang menyewakan co-working space. Menarik!

Poster Gerilya Filsafat di Medan, tahun 2019.

Di akhir tahun 2020, tepatnya pasca Philofest ID, dalam kondisi masih euforia, saya dan istri, terdorong juga untuk jalan-jalan ke Malang, memutuskan untuk melanjutkan program yang bernama Gerilya Filsafat tersebut. Berhari-hari kami memikirkan dengan jalur apa kami akan mencapai Malang dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan mobil saja. Karena menurut sejumlah saran, untuk mencapai Malang, hanya perlu melintasi satu jalan tol (Trans Jawa) melintasi Pantura. Kami berencana untuk mampir ke Cirebon dan Semarang sebelum mencapai Malang dan melalui beberapa kenalan, kami sepakat untuk berdiskusi dengan komunitas setempat yaitu Tjirebon Book Club di Rumah Rengganis, Cirebon (saat jalur pulang) dan LSF Verstehen di Semarang. Sementara di Malang sendiri, kami sudah berkoordinasi dengan LSF Discourse untuk menyelenggarakan diskusi tentang pemikiran Friedrich Engels terkait keluarga monogami.

Perjalanan yang dimulai tanggal 27 Desember tersebut ternyata lebih berat dari yang kami bayangkan. Perjalanan via tol ini terlalu lancar dan lengang sehingga sering membuat saya mengantuk. Kami sering sekali berhenti di rest area untuk sekadar istirahat dan minum kopi untuk mengusir kantuk. Dalam waktu-waktu tertentu, hujan turun cukup deras sehingga menghalangi jarak pandang. Syukurlah kami berhasil mencapai titik perhentian pertama kami yaitu Semarang. Di Semarang, kami istirahat sekitar dua jam sebelum melanjutkan aktivitas bersama LSF Verstehen di sebuah tempat yang ternyata sangat sejuk bernama Kedai Kang Putu. Untuk mencapai kedai tersebut, kami harus menempuh perjalanan ke semacam "hutan", mungkin seperti wilayah Dago Pakar jika di Bandung. Diskusi sendiri berjalan hampir tiga jam dengan pembahasan seputar filsafat modern dan posmodern. Sadar bahwa topik tersebut terlalu padat jika dibahas dalam satu kali pertemuan, akhirnya kami membahas hal-hal lain juga seperti misalnya bagaimana membangun komunitas filsafat dan bagaimana bersikap kritis di kampus. Diskusi malam itu begitu hangat dan menyenangkan, menghapus segala lelah hasil menyetir selama sekitar tujuh jam (iya, saya menyetir dengan kecepatan agak lambat). Sebagai catatan, LSF Verstehen ini sebagian besar diisi oleh kawan-kawan dari UNNES. Kemunculan komunitas filsafat di Semarang, bagi Martin Suryajaya, yang merupakan orang asli Semarang, terasa mengejutkan. "Seumur-umur, aku baru nemu ada orang-orang suka filsafat di Semarang," demikian komentarnya.

Bersama kawan-kawan dari LSF Verstehen.

Esok siangnya, setelah berkunjung ke rumah Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi (kawannya bapak), kami melanjutkan perjalanan ke Malang. Perjalanan ini ternyata malah lebih melelahkan karena hujan yang tidak kunjung berhenti dari sejak kami di Salatiga. Berangkat pukul satu siang, kami akhirnya mencapai Malang pada sekitar pukul setengah sebelas malam dan langsung mampir ke sekretariat LSF Discourse di Merjosari. Kami disambut dengan makanan seperti lontong kari, tapi saya lupa persis namanya apa. Di LSF Discourse, kami berjumpa dengan kawan-kawan yang sudah akrab selama Philofest seperti Dika Sri Pandanari, Firmansyah Sundana, dan R.H. Authonul Muther. Karena sudah terlampau lelah, kami hanya berbincang sebentar saja sebelum akhirnya check in di Tlogomas Guest House.

29 Desember, saya kembali ke sekretariat LSF Discourse untuk berdiskusi tentang pemikiran Friedrich Engels. Diskusi tersebut dibuka untuk umum, baik lewat daring maupun luring dan berlangsung kurang lebih dua jam. Secara luring, orang yang hadir ada sekitar lima belas dan itu tergolong lumayan di masa pandemi. Oia, rekaman diskusinya dapat dilihat di sini ya! Pasca diskusi, kami tinggal di Malang untuk beberapa hari - meski saat itu hampir tidak mungkin mengunjungi tempat umum yang serba ditutup - untuk mengunjungi Dialectic Gallery milik Bambang A.W., pesantren milik Gus Dhofir (Achmad Dhofir Zuhry) dan kediaman Pak Djuli Djati di Batu. 

Diskusi "Keluarga dan Kapitalisme" di sekretariat LSF Discourse.

Tentang LSF Discourse, mungkin catatan saya adalah ini: Mereka adalah kelompok pengkaji filsafat yang serius dengan jadwal belajar bersama yang rutin. Mereka juga dengan ketat membedah teks-teks primer dan mendiskusikannya. LSF Discourse memiliki sejumlah departemen seperti sejarah, logika, politik, dan estetika agar pembahasan bisa lebih fokus. Namun pembawaan orang-orangnya ternyata jauh sekali dari serius! Mereka benar-benar jenaka dan saya bisa semalam suntuk tertawa oleh kawan-kawan ini. 

Tanggal 2 Januari 2021, kami kembali ke Bandung dengan rute yang sama. Kami kembali menginap di Semarang satu malam, tapi kali ini tanpa diskusi filsafat. Esok harinya, kami melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu mampir di Cirebon karena akan berdiskusi dengan kawan-kawan dari Tjirebon Book Club di Rumah Rengganis. Topik yang didiskusikan adalah demotivasi dan audiens yang hadir kurang lebih juga lima belas orang (ada yang datang dari Indramayu juga!). Diskusi berlangsung lancar, meski akhirnya harus diakhiri karena hujan deras disertai angin kencang. Tidak banyak catatan mengenai Tjirebon Book Club dan Rumah Rengganis selain kenyataan bahwa komunitas sejenis ini tergolong jarang di Cirebon. Rupanya mereka cukup militan dalam menjalankan program-program khususnya terkait sastra. Sayang sekali, pandemi kelihatannya membuat aktivitas mereka sedikit turun, meski terus diupayakan untuk bangkit. Kesan khusus tentang Rumah Rengganis: Ini adalah rumah milik Nissa Rengganis yang sebagian areanya diperuntukkan untuk tempat jualan buku dan tempat ngopi. Menariknya, lokasinya benar-benar persis di samping hamparan sawah. Duduk ngopi di sana, dalam bayangan saya, akan sangat tenang dan inspiratif untuk menggali ide-ide (sayangnya, kemarin saya hanya singgah sebentar saja).

Pasca diskusi bersama Tjirebon Book Club di Rumah Rengganis

Perjalanan dari Cirebon ke Bandung, yang harusnya cuma tiga jam lewat tol Cipali, ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan. Hujan sangat deras dan banyak mobil yang slip, sehingga kami memutuskan berhenti terlebih dahulu di rest area selama hampir dua jam. Jam sebelas malam, kami melanjutkan perjalanan dan karena kondisi tidak juga membaik, kami akhirnya keluar tol Subang dan memutuskan melalui jalur biasa. Kami akhirnya tiba di apartemen pukul empat subuh, tanggal empat Januari. Berakhir sudah program Gerilya Filsafat dan betapa kami, sekali lagi, melewati tahun 2020 dengan tidak hanya selamat, tapi juga kaya, secara batiniah. 

Monday, December 21, 2020

Mengenang Romo B. Herry Priyono



Hari ini hati begitu mendung, mendengar kabar Romo Herry Priyono, dosen saya di STF Driyarkara, meninggal dunia. Segalanya begitu mendadak, karena baru saja delapan hari lalu, saya melihat Romo bicara di Philofest ID dan seperti biasa, tampak sangat sehat dan bergairah. Perkenalan saya dengan Romo Herry mungkin baru sekitar dua tahun, dan tentu saja banyak yang sudah lebih lama kenal dengan beliau, terutama mereka yang kuliah di STF Driyarkara sejak S1 dan S2 (saya sendiri baru masuk tahun ini di program S3, meski sudah diajar beliau sejak program Matrikulasi). Meski perkenalannya relatif singkat, namun saya merasakan suatu kesedihan sekaligus kehilangan yang amat besar. Saya bertanya-tanya: mengapa bisa seperti itu?

Padahal, di sisi lain, ada sejumlah kenangan kurang enak berkaitan dengan beliau. Misalnya, di kelas pengantar filsafat yang diampu beliau di program Matrikulasi, saya pernah datang terlambat. Beliau melarang saya masuk kelas, meski saya jelaskan bahwa keterlambatan disebabkan oleh penundaan jadwal kereta api yang saya tumpangi dari Bandung. Beliau tidak menerima alasan apapun: terlambat ya terlambat. Akibat keterlambatan itulah, saya jadi harus mengulang program Matrikulasi di semester depannya, yang artinya menyia-nyiakan waktu studi sekitar enam bulan. 

Ketika saya sudah lulus program Matrikulasi dan masuk ke studi doktoral, usul saya untuk mengangkat tema demotivasi juga kerap ditanggapi dingin oleh Romo. Romo pernah mengatakan kalau tema demotivasi ini seperti "fiksasi" dalam diri saya, seolah-olah semacam ambisi pribadi yang terbawa-bawa hingga ke toilet dan alam mimpi. Kata Romo, "Ide ini cocoknya untuk pamflet, bukan untuk jadi satu disertasi akademik." Dalam e-mailnya yang terakhir, beliau bahkan mengingatkan secara halus, jika saya meneruskan topik ini, saya bisa jadi bahan tertawaan di antara para ahli. 

Pertanyaan kemudian muncul lagi: dengan serangkaian kenangan buruk semacam itu, mengapa saya bisa begitu sedih dan kehilangan?  

Ternyata kesan-kesan kurang baik di atas, tidak bisa menutupi kekaguman saya pada disiplin dan kecerdasan seorang Romo Herry. Romo Herry punya kedisiplinan soal waktu, itu jelas, tapi tidak hanya itu: beliau juga sangat disiplin dalam hal berpikir. Saat menerangkan suatu gagasan, Romo Herry selalu rapi dalam menyusun premis-premis hingga sampai pada kesimpulan. Ia juga setia pada keketatan teks, yang membuatnya begitu hati-hati untuk mengeluarkan pendapat sendiri. Sungguh suatu sikap yang langka, ketika orang berbondong-bondong mengumbar opini sesuka hati, dan menganggap tidak perlu untuk mengacu pada pemikiran siapapun. Di sinilah saya mendapat pelajaran luar biasa: Belajar filsafat bisa membawa kita pada sikap rendah hati, karena sadar bahwa jangan-jangan segala sesuatunya, sudah pernah dipikirkan oleh orang lain dan kita hanya bisa meneruskan atau mengembangkan saja 

Selain itu, secara personal, saya yakin, Romo Herry juga mengingat saya tidak selalu dalam konteks yang buruk-buruk amat. Saat e-mail saya tidak dibalas lagi oleh beliau, saya curiga Romo sudah bosan berkomunikasi dengan saya yang keras kepala. Ternyata tidak. Di pertemuan kami yang terakhir di kelas Etika Spesialistik, Romo mengatakan begini, "Maaf Syarif, saya tidak membalas e-mail-mu, karena saya memikirkannya sungguh-sungguh. Saya baru mendapatkan insight untuk memberikanmu satu nama pemikir yang mungkin cocok. Namanya, Thomas Lemke, dia orang Jerman dan masih hidup." Saya, yang menggebu-gebu, langsung merespons seperti ini: "Siap, Romo, saya langsung pesan bukunya." Romo langsung mencegah, "Bukan, bukan seperti itu caranya. Silakan baca-baca dulu dari internet secara perlahan, lalu resapi, baru kamu mulai memesan bukunya. Jangan tergesa-gesa." 

Meski perjumpaan kami singkat, masih banyak yang bisa saya ceritakan tentang Romo Herry. Misalnya, saya terkesan dengan gairahnya dalam mengajar. Ia tidak hanya berbicara saja dan diam di satu tempat saat di kelas, melainkan terus bergerak sekaligus bercerita dengan gerak tubuhnya. Romo Herry juga dalam beberapa kesempatan selalu menanyakan apakah saya sudah ada di ruangan Microsoft Teams atau belum - "Apakah si Syarif sudah masuk?" -. Saya tidak tahu mengapa Romo menanyakan saya yang kurang signifikan ini. Mungkin menurut Romo, saya adalah orang yang sangat nakal, yang wajib mendapat tempaan ilmu di kelasnya, agar tidak menjadi pemikir yang salah jalan. Sungguh, apapun maksud beliau menanyakan itu, tidak mencegah saya merenungkan ini: Bahwa kematian seorang manusia yang demikian punya kecintaan total terhadap pengetahuan, adalah kehilangan besar untuk seluruh umat manusia. 

Terakhir, dengan segala duka, saya menutup tulisan ini dengan perkataan Romo Herry sendiri: "Tidak ada yang sempurna, selama segala sesuatu itu masih ada di dunia."

Maka itu, selamat mencapai kesempurnaan, Romo. Terima kasih.   

Sunday, December 13, 2020

Philofest ID, Pencapaian yang Hakiki



Pada tanggal 7 - 13 Desember lalu, kami mengadakan semacam acara. Kami yang dimaksud adalah sejumlah komunitas pengkaji filsafat di Indonesia, dan acara yang dimaksud adalah festival filsafat bernama Philofest ID. Inisiasi ini dilakukan sekitar tiga bulan sebelumnya, dan saya bisa katakan bahwa semuanya berlangsung hampir bersamaan, seolah-olah sudah menjadi kegelisahan bersama. Saat Kelas Isolasi menjelang edisi ke-100, Nino dan saya memutuskan untuk mengisi materi kelas dengan ajakan kolaborasi dengan berbagai komunitas seperti Schole ID, Akademi Aliarcham, Ze-No Centre for Logic and Metaphysics, LSF Discourse, dan Komunitas Mikir. Ide ini kemudian saya bicarakan dengan Martin Suryajaya dan dia menyambut dengan begitu antusias. Katanya, ia juga sudah memikirkan bahwa ekosistem filsafat harus dibenahi dengan saling berkolaborasi. Bahkan alangkah lebih baik jika medan sosial filsafat juga seperti sastra, punya berbagai sayembara, penghargaan, dan festival.

Hampir bersamaan dengan itu pula, Romo Albertus Joni mengontak Kelas Isolasi lewat DM Instagram dan mengajak kami untuk bergabung dalam sebuah WA group bernama Mikir-Mikir, yang isinya sudah ada beberapa orang perwakilan dari Schole ID, Logos ID, LSF Discourse, Betang Filsafat, A Being is Asking dan Idesnacks. Semua peristiwa tersebut akhirnya mengerucut pada kesimpulan bahwa kita semua mesti berkolaborasi dan momen pandemi ini adalah saat yang tepat karena acara filsafat dapat digelar secara daring - sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya besar -. Awalnya, kami berencana membuat semacam website terpadu, yang isinya adalah semacam portal informasi terkait dunia filsafat di Indonesia. Namun akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan sebuah festival daring selama seminggu (ide awalnya hanya tiga hari). Nama festivalnya, setelah hasil voting, maka mengerucut pada dua: Philofest ID dan Biennale Filsafat Indonesia. Namun karena Biennale Filsafat Indonesia, dari segi namanya, berimplikasi pada penyelenggaraan dua tahunan, maka forum memutuskan sebagai berikut: tahun 2020 akan diadakan Philofest ID sebagai "pemanasan" dan mulai tahun 2021, akan diselenggarakan Biennale Filsafat Indonesia, begitu seterusnya per dua tahun. Forum juga kemudian mempercayakan saya untuk menjadi ketua panitia Philofest ID 2020, hal yang saya bayangkan akan sangat melelahkan dan menguras tenaga. Saya memutuskan untuk mengemban tugas ini hanya karena saya pikir, tidak ada lagi orang yang akan mau melakukannya.

Komunitas yang terlibat dalam penyelenggaraan ini awalnya ada sebelas komunitas dari sejumlah daerah di Indonesia yaitu Schole ID (Jakarta), Logos ID (Jakarta), Ze-No Centre for Logic and Metaphysics (Yogyakarta), A Being is Asking (Jakarta), Betang Filsafat (Pontianak), Ideasnacks (Jakarta), LSF Discourse (Malang), LSF Cogito (Yogyakarta), Masyarakat Filsafat Indonesia (Jakarta), Antinomi (Yogyakarta) dan Kelas Isolasi (Bandung). Namun pada akhirnya, jumlah penyelenggara menjadi sepuluh karena satu dan lain hal, Ideascnacks tidak lagi terlibat. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah terkait dana. Iya, Philofest ID diselenggarakan tanpa sponsor dan hanya mengandalkan donasi jemaat yang dikumpulkan oleh Romo Albertus Joni. Terkumpul uang sekitar 33 juta rupiah dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan operasional acara seperti misalnya sewa tempat untuk server, transportasi dan akomodasi panitia lapangan, serta honor bagi beberapa pembicara. Saya sendiri, selama penyelenggaraan Philofest ID, tinggal di Jakarta suntuk memudahkan koordinasi dengan kawan-kawan seperti Martin Suryajaya, Samuel Jonathan, Amadea Svastika, Immanuela Chyndi, Yogie Pranowo, Adha Gozali, Nathanael Pribady, Alexander Aur, Harristio Adam, dan lainnya. 

Isi acara Philofest ID, sebagaimana kita ketahui, terdiri dari kuliah umum, debat, bedah karya, diskusi, dan forum yang isinya terdapat berbagai komunitas, penerbit, dan para presenter gagasan. Mungkin, hal yang menarik dari festival ini pertama, kami mengajak sejumlah komunitas filsafat yang selama ini cukup aktif menggelar diskusi, dan hal tersebut menjadi bagian dari perhatian kami terhadap gerakan filsafat di "alam liar" - artinya, filsafat tidak hanya terbatas di kampus-kampus saja -. Kedua, dengan tema yang diusulkan oleh Martin, yaitu "Dunia Setelah Pandemi: Filsafat dari Masa Depan", kami juga mengajak orang-orang untuk merespons wacana tersebut melalui artikel dan presentasi. Ketiga, program Polemik Filsafat, yang berisi debat atau adu gagasan, ternyata begitu digemari. Orang-orang senang melihat bagaimana keilmuan diperdebatkan dan jangan-jangan tradisi semacam itu sudah makin kabur di dunia pendidikan tinggi kita. Oia, saya harus memberi kredit pada Martin yang mampu menyelesaikan puluhan TOR Polemik Filsafat hanya dalam semalam! 

Philofest ID, meski dilakukan dengan cukup berdarah-darah (terutama karena semuanya serba mepet dan diselenggarakan untuk pertama kali), tetapi hasilnya sepertinya lumayan baik untuk sebuah festival filsafat perdana yang melibatkan cukup banyak pengisi acara (jika tidak bisa dikatakan paling banyak dalam sejarah penyelenggaraan kegiatan filsafat di Indonesia). Barometer yang bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan mungkin bisa dengan melihat jumlah penonton di Youtube dan juga kenyataan bahwa kami semua memutuskan Philofest ID diselenggarakan kembali tahun 2021 di Malang. Jadinya, karena sudah terlanjur Philofest ID ini cukup menimbulkan kesan, maka ide tentang Biennale Filsafat Indonesia kelihatannya tidak akan dilanjutkan dan ke depannya, nama Philofest ID saja yang akan dipakai. 

Terakhir, saya akan menuliskan kesan-kesan saya dalam "mengatur" para filsuf (sebut saja begitu, untuk memudahkan). Saya kira ini pengalaman luar biasa karena para filsuf ini tentulah orang-orang kritis yang tidak bisa begitu saja diinstruksikan macam-macam. Hal terpenting adalah senantiasa melakukan adaptasi dalam berkomunikasi: Bicara dengan Banin Diar Sukmono, tentu berbeda dengan Amadea Svastika; bicara dengan Martin Suryajaya, tentu berbeda dengan Nathanael Pribady, dan seterusnya. Mereka harus dibiarkan untuk aktif berkontribusi sesuai dengan porsinya saja - tidak perlu dipaksakan harus sesuai job description -. Jika yang bisa dilakukannya hanya mengontak pengisi acara, maka biarkan itu dilakukan dengan sebaik-baiknya dan beri mereka rasa nyaman untuk mengerjakannya. Karena ini hal yang positif dari para filsuf saat mereka menjadi panitia: Mereka setidaknya punya semacam tanggung jawab etis, bahwa semua ini mesti dilakukan demi suatu kebaikan yang lebih besar, yaitu agar filsafat diterima publik lebih luas. Artinya, para filsuf ini tidak akan berlaku curang atau tiba-tiba meninggalkan tanggung jawab, karena ada ikatan kuat terhadap filsafat yang "membesarkan" kita semua. 

Saya pribadi senang sekali. Sudah lama memang saya ketagihan membuat acara, yang sebagian besar di antaranya adalah acara musik klasik. Tidak jarang saya mengerjakan konser-konser itu dengan tenaga bantuan yang minim, dan ruang lingkupnya luas dari mulai mengerjakan poster, menjadi MC, mengantar jemput pengisi acara, mencari sponsor, hingga dalam beberapa konser malah saya mesti ikutan tampil! Hal-hal yang saya kira tidak akan pernah menjadi apa-apa, kecuali hanya kesenangan (dan kelelahan) pribadi itu, akhirnya menemukan jalannya. Philofest ID bagi saya sendiri, merupakan pencapaian yang hakiki: akumulasi dari berbagai kegiatan yang seringkali dikerjakan dengan susah payah, entah untuk apa, yang penting terus dilakukan saja. 
   

Monday, October 12, 2020

Ulas Buku: Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21



Kata “politik” itu memang terdengar seperti sesuatu yang kotor, penuh intrik, dan urusannya selalu soal kekuasaan dan kekuasaan saja. Dengan citranya yang demikian buruk, ramai-ramai orang menghindari berurusan dengan politik, seolah-olah ada kehidupan manusia di luar sana yang tidak terhubung dengan politik. Padahal, Pericles, negarawan Yunani Kuno, sudah mengingatkan, “Hanya karena kita tidak punya minat dengan politik, bukan berarti politik tidak punya minat terhadap kita.” 

Prof. Budiono Kusumohamidjojo, lewat bukunya yang berjudul “Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21”, menunjukkan bahwa politik secara hakikat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah peradaban manusia. Bagaimana bisa menghindari politik, jika hidup dalam entitas bernama negara? Bagaimana bisa menghindari politik, jika membenci kekuasaan tertentu, tapi diam-diam mendambakan kekuasaan jenis lainnya? Bagaimana bisa menghindari politik, jika senantiasa membentuk ragam kategori dalam masyarakat, yang kemudian lewat kategori tersebut, kita bisa melihat bahwa masing-masingnya punya kepentingan yang berbeda? Dengan demikian, jelas mengapa Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politikon”. 

Istilah “filsafat politik”, dalam buku ini, diuraikan dengan jelas – termasuk perbedaannya dengan ilmu politik -, yang seolah menjawab pertanyaan, “Politik kan ‘gitu-gitu aja’, untuk apa difilsafatkan lagi?” Filsafat politik menunjukkan bahwa politik tidak “gitu-gitu aja” dalam arti, mengandung kompleksitas yang menyertakan renungan tentang apa itu negara, apa itu kekuasaan, apa itu idelogi, apa itu konstitusi, hingga apa itu hak asasi manusia. Namun di sisi lain, filsafat politik juga ingin memperlihatkan bahwa di sisi lain, politik adalah “gitu-gitu aja” karena dalam rentang sejarah peradaban manusia, yang dibicarakan adalah perkara yang kurang lebih sama, namun dalam konteks historis yang berbeda – bukankah demikian hakikat mempelajari filsafat: mempelajari pemikiran lampau untuk dicari benang merahnya dengan masa sekarang? -. 

Ke-masa-sekarang-an tersebut ditunjukkan penulis dengan tidak hanya berusaha merangkum pemikiran politik dari masa Yunani Kuno hingga masa modern, melainkan juga meletakkan kontekstualisasinya dengan persoalan kontemporer di abad ke-21. Sehingga dengan demikian, buku ini terasa lengkap dan bergizi, oleh sebab kita tidak dibiarkan hidup dalam bayangan romantisme politik di masa silam (yang cukup komprehensif disajikan), melainkan ditarik untuk berdiskusi perihal hakikat masyarakat yang semakin tidak terikat secara spasial dan temporal, kemajuan teknologi informasi yang memberi keuntungan tapi sekaligus juga persoalan baru, serta kemungkinan berakhirnya globalisasi dalam waktu dekat. 

Meski demikian, dengan segala kelengkapan isinya yang memukau, buku yang diterbitkan bulan Agustus 2020 ini (yang dengan begitu, sedang berada di masa pandemi Covid-19), akan lebih dahsyat jika turut menyertakan sebuah analisis tentang kondisi politik dan masyarakat pasca pandemi, yang kemungkinan besar akan mengalami perubahan drastis pada kondisi yang sukar dibayangkan. Penulis beberapa kali menyebut perihal pandemi Covid-19 ini dalam beberapa kesempatan dalam buku, tapi kelihatannya tidak sempat membuat analisis tajam dan serius tentang kondisi yang diakibatkannya. Tentu saja, pemikiran yang bertalian dengan hal tersebut sangat dinanti, meski pada tulisan profesor Budiono yang lain.

SONTAK dan Harapan Bagi Ekosistem Perbunyian di Bandung


sontak
Poster SONTAK, diambil tanpa izin dari Facebook Page.


Mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan pergi meninggalkan Bandung, namanya Diecky Kurniawan Indrapraja. Apa yang diwariskan Diecky ini cukup penting, hingga mengundang tanya bagi saya pribadi, “Adakah (orang di Bandung) yang sanggup menggantikan Diecky?” Mungkin yang membaca tulisan ini bertanya-tanya: Lah, Diecky ini memangnya siapa? Apa yang sudah ia lakukan? 

Diecky adalah komponis asal Surabaya yang lama tinggal di Bandung untuk studi. Saya tidak punya data akurat tentang berapa lama ia tinggal di Bandung, tapi jika dihitung dari kapan ia masuk kuliah, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Diecky tidak hanya mengomposisi karya, ia juga mengajar, baik formal maupun non-formal. Salah satu tempat mengajar non-formalnya adalah di garasi rumah saya, Garasi10. Di sana ia, di hadapan belasan muridnya (termasuk saya), menyebarkan suatu paham yang menurut kami semua begitu aneh, yaitu tentang musik kontemporer, avant-garde, dengan segala bebunyiannya yang begitu asing di kuping. 

Ada perasaan yang aneh setiap Diecky “berkhotbah” tentang avant-garde-isme ini. Kami kesal karena bebunyian tersebut terasa tidak enak, tapi kami bertahan mendengarkannya dari malam hingga adzan subuh, dan itu berlangsung berbulan-bulan. 

Hingga akhirnya waktu itu datang. Kalau tidak salah di bulan September 2012, Diecky pamit meninggalkan Bandung untuk mengadu nasib di Pontianak. Pertanyaan besar di atas adalah tentang siapa yang bisa menggantikan Diecky perihal militansinya dalam menjadi “misionaris avant-garde-isme” di kota ini, yang kelihatannya masih berputar di wilayah musik dalam konteks nada yang harmonis, performansi yang menghibur, dan soal yang ini, bolehlah, tentang relasinya dengan subkultur dan gaya hidup masyarakat urban. Pertanyaan tersebut benar-benar tidak terjawab, hingga hadirnya kegiatan bernama SONTAK. 
 
SONTAK adalah kegiatan musik yang digelar pada awal September lalu, yang diinisiasi oleh Robi Rusdiana, Dody Satya Ekagustdiman, dan Daniel Hueleflores. Namun kegiatan musik ini bukan kegiatan musik yang tipikal digelar di Kota Bandung. Ini adalah festival “improvisasi bebas” yang masuk hingga ke urusan musik sebagai bunyi, dan tidak melulu urusan nada-nada yang harmonis. 

Jujur, karena selalu bentrok dengan jadwal webinar dan agak khawatir juga berkumpul di keramaian di masa pandemi (karena SONTAK digelar secara luring), saya tidak hadir di satupun acara SONTAK. Meski demikian, saya rajin melihat video-videonya lewat media sosial dan sempat ngobrol-ngobrol dengan Robi dan beberapa pengisi acara yang tampil di sana. Maka dari itu, tulisan ini bukan hendak mendeskripsikan kegiatan secara detail dengan berbagai analisa fenomenologis, melainkan lebih ke melihatnya dari jauh, menempatkannya pada peta besar “perjalanan bebunyian” di Bandung. 

Sebenarnya sebelum ada SONTAK, fenomena sound art juga merebak di kota ini, dengan Bob Edrian sebagai salah satu punggawanya. Sependek pengetahuan saya, Bob bermain musik, tapi ia lebih memposisikan diri sebagai kurator dalam pergerakan sound art. Sound art adalah juga tentang bebunyian, namun inilah yang menarik: genealoginya lebih tepat dikatakan berasal dari jalur seni rupa. Mungkin agak usang juga membicarakan genealogi, karena toh, sejarah bisa diklaim siapa saja (mau seni rupa atau seni musik, sebenarnya tidak jadi soal). Tapi setidaknya begini, bahwa kelihatannya bagi medan sosial seni rupa, sound art bukanlah suatu eksperimen yang mengejutkan, karena dunia seni rupa sering tampak lebih unggul dalam merespons keadaan untuk dituangkan pada medium-medium “baru”. Dalam dunia seni rupa, beralih medium pada tingkat ekstrem itu lebih lumrah – misalnya, menjadikan tubuh sebagai medium, atau merespons kota dan lingkungan hidup dengan menjadikannya juga sebagai medium -. 

Sound art tentu bagian dari peta besar “perjalanan bebunyian” ini, yang masih eksis dan terus diperhitungkan. Tapi dari “jalur” seni musik, sependek pengamatan, kelihatannya memang belum ada terobosan dalam beberapa tahun belakangan. Saya bisa saja salah, karena misalnya, kurang bergaul. Saya akan mencoba berargumentasi sedikit: Sejauh ini ada nama yang bisa ditonjolkan seperti Haryo “Yose” Soejoto, seorang jenius yang punya pengalaman panjang dengan bebunyian dan tinggal di Bandung (dulunya di Yogyakarta, sarangnya musik eksperimental). Kemampuan musiknya tidak usah diragukan lagi, kapasitas mengomposisinya pun luar biasa. Beliau mendirikan dan memimpin sebuah orkestra yang cukup terkenal yaitu Anime String Orchestra. Dalam tahun-tahun belakangan, Anime pasti mengadakan konser rutin, biasanya lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu The Beatles dan sejumlah karya dari band rock progresif 70-an. Bagaimana aransemennya? Dahsyat sekali. Bagi yang paham teori musik dengan segala harmoninya, Yose adalah manusia istimewa. Bagi yang tidak paham teori-teori tersebut pun, musik yang dipresentasikan oleh Anime tetap menawan dan sedap didengarkan.

Persoalannya, jika ini dapat dikatakan persoalan, kemungkinan ada kompromi antara Yose dengan publik Bandung pada umumnya, yang belum tentu dapat menerima idealisme beliau tentang bebunyian. Saya yakin, Yose bisa saja mengeluarkan seluruh pengetahuan dan kemampuannya terkait bebunyian yang eksperimental dan penuh improvisasi bebas, tapi pertanyaannya, apakah pendengar di kota ini, yang notabene lebih sering “cari aman”, mau menerimanya? Selain Yose, tentu saja ada pendekar eksperimental lainnya, sebut saja, Iwan Gunawan dengan ensembel Kyai Fatahillah-nya, Ismet Ruchimat dengan Sambasunda-nya, Dodong Kodir dengan Lungsuran Daur-nya dan tentu saja, Robi Rusdiana sendiri dengan Ensembel Tikoro-nya. Jika melihat ke belakang lagi, pendekar eksperimental itu juga ada, meski tidak banyak, misalnya, dalam sosok Harry Roesli. 

Meski deretan nama besar itu ada, namun SONTAK tetaplah kegiatan monumental yang patut dicatat dalam sejarah “perjalanan bebunyian” di kota ini. Penyelenggaraannya, dengar-dengar, memang mendapat sejumlah hambatan, terutama karena digelar di masa pandemi, yang menjadi rumit karena salah satunya, urusan perizinan. Namun ini bukanlah pokok persoalannya. Kita tidak sedang bicara apakah acara SONTAK itu berhasil atau tidak secara penyelenggaraan, melainkan soal keberanian trio Robi, Dody, dan Daniel, untuk menggelar suatu kegiatan yang aneh, yang bagi penikmat musik pun, belum tentu dapat diterima. Melalui keberadaan SONTAK, para pendekar eksperimental keluar dari laboratorium isolasinya, dan mempresentasikan karyanya dengan gembira – karena selain mendapat panggung, mereka juga punya hal yang tak kalah penting, yaitu jaringan -. Kemungkinannya, dari tadinya para komposer dan pemusik tersebut berjuang masing-masing, lewat SONTAK, mereka dikumpulkan, ditempatkan dalam satu medan sosial, yang bukan tidak mungkin, jika dilakukan secara konsisten, akan menumbuhkan suatu ekosistem penting dalam wacana perbunyian di Indonesia. 

Salut bagi trio penggagas yang menggelar kegiatan yang pastinya asing bagi orang-orang di Bandung. Untuk menggelar SONTAK, tidak hanya memerlukan pengetahuan dan pengalaman berkesenian saja, tapi juga semacam keimanan! Iman ini bukan dibangun dalam satu atau dua tahun, tapi melalui konsistensi berkarya yang tidak sebentar, yang mungkin melalui proses dikritik, digugat, dan dicela, akibat terlalu setia pada sebuah idealisme musik yang sunyi dan jauh dari hiruk pikuk pasar. Orang-orang di Bandung, terutama para apresiator seni, harus disuguhi musik yang sampai pada batas-batas terjauhnya, dan tidak berkutat pada wilayah-wilayah yang nyaman saja. Pada bebunyian eksperimental sebagaimana yang tersaji pada SONTAK, mungkin ada perasaan yang tidak nyaman ketika mengapresiasi, tapi bisa jadi membuat kita bertahan karena penasaran, persis seperti para murid Diecky saat sang guru berkhotbah. Semoga SONTAK dapat digelar secara rutin, untuk memberi wacana tandingan bagi dunia musik yang “itu-itu saja” dan terlalu membuai sampai tidak yakin bahwa di luar sana ada musik yang menjelajah hingga ke area sublim, mempertanyakan hakikat keindahan sampai ke dasar-dasarnya.

Thursday, September 24, 2020

Paku dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Kita Ketahui Tentangnya


(Ditulis sebagai pengantar pameran Ridwan S. Iwonk di Festival Merawat Beda yang diselenggarakan oleh Komuji Indonesia, 22 September – 6 Oktober 2020 di Rumah Komuji, Bandung)




Mari membicarakan paku dari berbagai perspektif. Misalnya, kondisi negeri kita sekarang ini, punya andil benda bernama paku di dalamnya. Iya, kita mencoblos gambar para wakil rakyat, dengan paku yang tajam, seolah-olah kita tancapkan harapan ke dada mereka. Selain itu, jangan lupakan juga dunia klenik di Indonesia, yang menjadikan paku sebagai benda penting untuk dimasukkan pada tubuh orang yang disantet (kelihatannya belum ada perkakas lain yang lebih seram untuk menggantikan paku).

Lebih serius lagi, spiritualitas umat Kristiani dibangun salah satunya oleh benda bernama paku, yang digunakan sedemikian kejamnya, sehingga meneteskan begitu banyak darah Sang Mesias yang bersimbah di sepanjang Via Dolorosa. Darah itu bukan sembarang darah, melainkan darah yang menebus dosa umat manusia. 

Kita paksakan untuk membicarakannya di area yang lebih akademis juga bisa. Pada tahun 1950-an, pemikir dan peneliti asal Rumania, Mircea Eliade, mengajukan ide tentang axis mundi, yaitu semacam “pusat” yang menghubungkan dunia manusia dengan “surga” atau “dunia atas” atau apapun namanya yang sekiranya sepadan dengan wilayah transenden. Axis mundi ini dapat berupa gunung, pohon, atau produk-produk manusia seperti menara, pilar, totem, dan sebagainya. Kebudayaan manapun, kata pemikir lainnya, Claude Lévi-Strauss, selalu punya axis mundi ini, dalam berbagai bentuknya. 

Konsep axis mundi ini terlihat seperti sebuah paku, yang mana gunung dan pohon tidak hanya yang tampak pada permukaannya saja, melainkan juga tentang apa yang “menghujam ke bumi” untuk menghubungkan “dunia sini” dan “dunia sana”. Kapan-kapan bisa coba berselancar mencari kata kunci “Yggdrasil” dan melihat bahwa axis mundi yang dibayangkan oleh mitologi orang-orang Nordik, adalah begitu menyerupai paku. 

Mungkin tidak semua orang senang membicarakan ini, tapi harus dibayangkan bahwa Sigmund Freud pasti akan senang dengan pembicaraan tentang paku. Sebagai seorang psikoanalis yang menganggap bahwa segala tindakan kita dipengaruhi nyaris seluruhnya oleh alam bawah sadar – yang bernuansa hasrat dan insting seksual -, maka ia akan berteriak kencang dan yakin ketika kita berdiskusi tentang paku, “Itu phallus, paku itu phallus!” 

Tapi Ridwan S. Iwonk bukan sedang membicarakan paku seperti Eliade, Lévi-Strauss, Freud, atau pemaknaan kita tentang Yesus di Via Dolorosa. Iwonk – begitu ia biasa dipanggil – sebenarnya sedang mengembalikan paku pada dirinya sendiri, yang jika paku itu disuruh bicara, mungkin akan curhat seperti ini: “Selama ini aku dimaknai begitu mendalam oleh para filsuf, politisi, ahli sejarah, dan bahkan ahli nujum. Aku ingin dipandang sebagai diriku sendiri saja, boleh tidak?” 

Bahasa kerennya, Iwonk tengah melakukan suatu praktik intersubjektif, dengan melihat paku tidak lagi sebagai objek, melainkan subjek. Iwonk memandangi paku-paku itu setiap saat dan berdialog dengan mereka, “Kenapa kok kamu bentuknya agak bengkok?”, “Kenapa kok kamu agak karatan?”, “Kenapa kok kamu kelihatannya lebih kokoh dan tegar dibanding yang lain?”, dan seterusnya, yang mungkin bukan dilakukan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan, melainkan tahunan! 

Begitu seringnya Iwonk bercengkerama dengan paku-paku ini, hingga ia merasa bahwa kita semua di sini, harus turut merasakan keintiman Iwonk, yang mungkin terasa ganjil tapi juga “sublim”. Untuk memahami kesubliman tersebut, mau tidak mau kita harus pinjam pemikiran orang lain lagi, yaitu Immanuel Kant. Kant, dalam tulisannya yang berjudul Observations on The Feeling of the Beautiful and Sublime, menggambarkan “yang sublim” sebagai sesuatu yang berbeda dengan “yang indah”. Perbedaan yang Kant berikan ini, mungkin bisa membantu kita untuk turut merasakan apa yang sedang dipresentasikan oleh Iwonk, “’Yang indah’ dirasakan sebagai sensasi menyenangkan yang membuat kita gembira dan tersenyum, sementara di sisi lain ‘yang sublim’ adalah sesuatu yang menimbulkan gairah, rangsangan, tapi mengandung semacam horor juga di dalamnya.” 

Iya, bagi yang berharap pameran karya rupa yang ditampilkan Iwonk ini akan menyenangkan hati dan menimbulkan kegembiraan, sebaiknya pergi saja ke taman dan melihat bunga-bunga, atau pergi ke gunung dan melihat kota dari kejauhan (itu juga kalau kotanya tidak tampak kumuh). Sekali lagi, Iwonk tidak mengajak kita pada keindahan, tapi pada kesubliman: Tentang paku yang berbahaya karena ujungnya begitu tajam, yang bentuknya aneh dan sering bengkok-bengkok, yang pada bagian tubuh tertentunya muncul karatan, yang sekaligus perannya begitu besar dalam sejarah, meski kerap dinihilkan, karena itu kan, cuma paku. Iwonk mengajak kita melihat lebih dalam: “Saudara-saudara, tidakkah paku ini indah? Tidakkah ia begitu mengagumkan? Tidakkah ia begitu kecil tapi krusial dalam kehidupan? Perhatikan betapa jeleknya wujud si paku, tapi bisa mengubah peradaban lebih besar daripada kalian yang rajin mematut-matut diri!” 

Kerja kesenian Iwonk tidak berupaya menyenangkan hati dan memanjakan mata kita – seni retinal, jika meminjam kata Marcel Duchamp -, tapi masuk pada upaya membangkitkan kesadaran. Iwonk bekerja di wilayah fenomenologis, dengan membangun konstitusi makna yang baru tentang paku, yang selama ini dianggap orang sebagai “ah, paku doang!”. Karya instalasinya juga tidak diposisikan sebagai altar penyembahan yang seolah mesti steril dari tangan manusia – karena terlalu ilahiah -. Kata Iwonk, “Silakan saja sentuh instalasi ini, jangan ragu-ragu, justru itulah yang diinginkan!” Bahkan jikapun ada orang yang merusak karya Iwonk ini, mungkin Iwonk tidak akan bete-bete amat, karena toh, selama ini, imej tentang paku memang sudah dipandang sebelah mata dalam peradaban, biarkan saja mereka yang masih berpendapat demikian.  

Namun pasti ada suatu maksud mengapa Iwonk berani memajang karya-karya pakunya ini di suatu tema berjudul “Merawat Beda” yang diusung oleh Komuji Indonesia. Memangnya nyambung? Bukankah konsepsi “Merawat Beda” akan lebih indah jika dipadupadankan dengan karya yang harmonis, cenderung matematis, dan menimbulkan perasaan damai? Pada titik ini, Iwonk secara jeli menempatkan “yang sublim” sebagai interpretasi terhadap “Merawat Beda”. Mungkin, hanya mungkin, perbedaan adalah keadaan yang secara bawah sadar, begitu mengerikan (karena harus selalu dimengerti). Tapi melalui paku-paku itu, kita tahu bahwa hal paling buruk rupa dan berbahaya sekalipun, punya bagiannya yang krusial bagi umat manusia.

Saturday, September 5, 2020

Jika Kata "Anjay" Dilarang ...


Beberapa hari belakangan ini, netizen dihebohkan (iya, memang hanya netizen yang sering merasa heboh, orang di luar jaringan, kelihatannya, biasa-biasa saja tuh) oleh larangan kata "anjay" yang dikeluarkan oleh Komnas PA, berdasarkan "aduan masyarakat" - yang jika ditarik, bermula dari aduan Lutfi Agizal (semacam figur publik yang saya tidak tahu karena saya kurang gaul) -. Tentu saja, kritik muncul di mana-mana, karena, mengapa ucapan harus dilarang, meski katanya kasar? Jika ditilik-tilik, apakah memang iya, kata "anjay" itu kasar? Lalu, jika larangan tersebut benar-benar diberlakukan dan sifatnya mengikat secara hukum, kira-kira apa yang bakal terjadi pada masyarakat kita?

Gambar diambil dari sini.
Gambar diambil dari sini.


Saya tiba-tiba ingat film tahun 2010 berjudul The King's Speech yang bercerita tentang Raja George VI yang gagap. Kegagapannya ini tentu saja menjadi masalah bagi seorang raja yang harus sering bicara di hadapan publik. Apalagi, konteks Raja George VI adalah di masa Perang Dunia II, di mana ucapan-ucapan raja menjadi krusial untuk menenangkan rakyatnya. Raja George VI kemudian merekrut Lionel Logue, semacam pelatih bicara, untuk membantunya. Salah satu hal yang saya ingat dalam film itu adalah bagaimana Logue kemudian menggali masa kecil Raja George VI, untuk berusaha menemukan penyebab kegagapannya. Protokol kerajaan yang dianggap terlalu ketat adalah salah satu sumbernya. Raja George VI sebenarnya kidal, namun dipaksa untuk selalu menggunakan tangan kanan atas nama aturan kerajaan dan satu lagi, hampir sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diperbolehkan berkata kasar (karena tentu saja, dianggap tidak pantas di lingkungan kerajaan). 

Logue, sebagai seorang pelatih berpengalaman, menganggap hal terakhir tersebut sebagai salah satu penyebab yang cukup krusial, sehingga dalam satu sesi, ia mempersilakan raja untuk berkata-kata kasar sepuasnya. Dalam perkembangannya, sejak raja punya sesi untuk bebas berkata kasar, gagapnya semakin lama semakin berkurang dan ia semakin percaya diri untuk berpidato (gagapnya hanya muncul sesekali saja dan tidak sering seperti sebelumnya).

Berkata kasar mungkin tidak sesederhana yang kita bayangkan, apalagi untuk langsung dilarang-larang. Psikoanalis terkemuka, Sigmund Freud, mengajukan kemungkinan adanya wilayah bawah sadar kita yang gelap, dalam, dan sangat instingtif. Wilayah bawah sadar ini, bagi Freud, mengontrol tindakan kita lebih banyak ketimbang aspek sadar kita sendiri. Setiap orang, tanpa terkecuali, punya sisi bawah sadar yang dipenuhi hasrat ini, yang bedanya adalah ini: Ada yang tersalurkan dan ada yang tidak. Tersalurkan itu kira-kira maksudnya: dapat bertindak sesuai kehendak - meski tidak dalam segala kondisi - sebagai cara untuk menyalurkan keinstingtifan yang keberadaannya tak terhindarkan. Contohnya: ada momen untuk bisa marah-marah, menangis, mengumpat, curhat, dan ekspresi jujur lainnya. Sebaliknya, tidak tersalurkan itu kira-kira adalah ketiadaan kemungkinan untuk mengekspresikan hasrat bawah sadar karena terepresi oleh keadaan. Contohnya: Berlaku terlampau dingin, kaku, dan formal, seolah-olah terlalu ekspresif itu menjadi agak memalukan. 

Terjawab kemudian mengapa ada kaitan antara gagapnya Raja George VI dengan dilarangnya ia berkata kasar dari sejak kecil hingga dewasa. Ada hasrat yang tidak tersalurkan, dan menyebabkan sejumlah "keganjilan" yang mengganggu di masa dewasanya - yang oleh Freud dapat juga berupa perilaku seksual yang tidak wajar seperti senang mengintip (voyeur) atau senang mempertontokan diri (eksibisionis) -. 

Maka itu, bersyukurlah mereka yang masih punya kesempatan berkata-kata seperti "anjing" di berbagai saluran. Seketika kita mengeluarkan kata tersebut, kita bukan saja sedang berkata kasar, tapi mengatakan sesuatu dari dasar batin yang terdalam, tentang kemuakan terhadap segala hal yang normatif. Mengatakan "anjing" adalah kelegaan yang membuat kita merasa hal-hal yang hasrati itu tersalurkan. Mengatakan "anjing" adalah simbol runtuhnya segala yang formal, dan menghadapkan kita pada situasi yang lebih cair, dinamis, dengan relasi personal yang lebih terbuka. 

Namun kata "anjing", dalam kebudayaan tertentu, terlalu berbahaya untuk diungkapkan secara terang-terangan - mungkin karena anjing dianggap hewan yang najis juga oleh ajaran tertentu -. Dengan demikian, kata seperti "anjrit", "anjir", atau "anjay", digunakan sebagai alternatif untuk menengahi antara hasrat individual dan kebudayaan (sungguh ini suatu kecerdasan yang hakiki). Jika kata, yang sudah sengaja dibuat secara kompromistis ini, kemudian tetap dilarang, maka apakah orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal - yang entah siapa itu -, mau bertanggungjawab dengan kemungkinan terjadinya keganjilan dalam masyarakat akibat bawah sadar yang direpresi? Lantas, memangnya, orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal sendiri, dalam kesehariannya, selalu bersikap sesuai norma-norma yang ada, baik di panggung depan (saat berelasi secara formal) maupun panggung belakang (saat berelasi secara lebih personal)? Jika iya, saya merasa kasihan sekali! Jangan-jangan, kalian ini psikopat.