Skip to main content

Posts

Tentang Menerima Kehidupan

Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu.  Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Recent posts

Susul Menyusul Teknologi

Di zaman AI ini, segala sesuatu tampak bisa lebih dipermudah. Seperti yang "curang" jika orang-orang dikit-dikit pake AI, bikin siapapun itu bisa nulis, desain, dan ngemenej apa-apa dengan bantuan AI. Saya sendiri menjalankan bisnis ayam crispy dengan banyak konsultasi pada AI yang sudah saya latih supaya bisa jadi Chief Finance Officer . Lebih murah? Jelas, lebih baik bayar GPT berlangganan ketimbang sewa jasa akuntan atau tambahan orang profesional lainnya. Apalagi ini cuma bisnis UMKM kecil-kecilan. Lebih praktis? Nah ini nanti dulu, AI memang pintar, tapi rentan juga melakukan kesalahan, terutama jika kita lepas begitu saja tanpa memberi batasan atau input informasi yang memadai. Kadang malah AI bisa berusaha meyakinkan kita bahwa dirinya benar, padahal ada itung-itungan yang bisa saja luput dan keliru.  Tapi ini bukan perkara yang sungguh-sungguh hendak dibahas dalam tulisan ini (soal kelemahan AI), melainkan soal cara pandang kita terhadap perubahan teknologi itu sendir...

Melewatkan Final Piala Dunia

Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak.  Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Berjalan Kaki

Karena sedang tak ada kendaraan dan alasan kesehatan, hampir dua tahun belakangan ini saya kemana-mana berjalan kaki. Diusahakan minimal empat kilometer. Rute tetap biasanya PP rumah saya dan rumah Nadya yang memang pas segitu jaraknya. Selain itu, akibat kena cancel dan banyak kehilangan kesibukan lama, saya gak merasa perlu kendaraan karena mobilitas pun menurun drastis. Sehari-hari paling cari kafe untuk nulis, ngopi-ngopi, di rumah dengerin musik dan tiduran, pergi kirim makanan buat Nadya, beli rokok dan ke warteg, nge- date . Repeat . Jalan kaki menjadi semacam aktivitas yang dibuat-buat, setidaknya supaya hidup tak sekadar boboan di kamar.  Lama kelamaan, kebiasaan jalan kaki menjadi tidak sekadar menyusuri rute yang itu-itu saja. Belakangan, saya mulai mencari jarak yang lebih jauh. Misalnya, ngafe nya tak lagi di sekitaran rumah, tapi coba ke kafe di toko roti Djie Seng di Astana Anyar yang jaraknya tiga kilometer lebih. Awalnya melelahkan, kadang di tengah-tengah saya me...

Ronaldo

Beberapa hari lalu, pasca tersingkirnya Portugal di tangan Spanyol pada babak perdelapan besar, Cristiano Ronaldo menyatakan diri pensiun dari sepakbola internasional. Usianya 41. Banyak pemain sudah gantung sepatu jauh sebelum mencapai angka itu. Sementara itu Ronaldo malah jadi striker utama di level dunia. Jika dihadap-hadapkan dengan Messi, saya bukanlah penggemar Ronaldo. Selain itu, saya juga kurang suka pemain ini karena apa ya, kelihatannya belagu aja wkwk Saya pertama lihat permainan Ronaldo itu ketika direkrut awal-awal oleh Manchester United dari Sporting Lisbon. Waktu itu dia masih diplot di sayap kanan dan penilaian saya: Ini orang footwork oke, trik dahsyat, terus? Iya, Ronaldo muda memang banyak gaya. Namun dari musim ke musim, ketika ia mulai digeser ke posisi sayap kiri supaya bisa cut-inside dan menendang dengan kaki kanan favoritnya, permainannya tampak lebih efektif. Berbeda dengan posisi pertamanya yang membuat Ronaldo mesti menari-nari untuk melewati bek sayap la...

Brasil

Saya ingat pertama kali memutuskan suka sepakbola adalah pas Euro '96 dan memilih Itali sebagai tim favorit hingga hari ini. Namun saya baru sadar ada tim yang memainkan sepakbola indah itu ketika nonton pertandingan persahabatan Brasil lawan Denmark masih di tahun yang sama. Brasil menang 5-1 sebagai pemanasan menjelang Olimpiade Atlanta. Tadinya nonton sepakbola ya seru saja, bola ditendang ke sana ke mari, ada yang lari, ada yang mencetak gol. Tapi melihat Brasil, saya baru tahu: oh, main sepakbola ini bisa seperti menari-nari ya . Tim olimpiade Brasil waktu itu diperkuat pemain seperti Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, Juninho dan Bebeto. Brasil memang tidak meraih medali emas di Olimpiade Atlanta '96. Juaranya adalah Nigeria dengan tim muda yang brilian, mengalahkan Argentina yang di dalamnya ada Simeone, Crespo, dan Zanetti. Brasil sendiri tunduk dramatis di tangan tim Elang Super setelah sempat unggul 3-1, sebelum dibalikkan oleh gol-gol dari Ikpeba dan Kanu. Selecao ti...