Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Ketika Siddharta Gautama pergi berjalan-jalan ke luar istana dengan kereta, ia melihat empat hal yang membuatnya memutuskan untuk hidup tanpa wisma dan menjauhi dunia. Sebelum Siddharta melihat hal yang terakhir yakni seorang biksu asketik, terlebih dahulu ia menemukan kenyataan tentang mereka yang tua, mereka yang sakit, dan mereka yang mati. Atas segala hal yang baru dilihat oleh Siddharta untuk pertama kali tersebut, sang kusir kuda hanya menjawab enteng, "Kita semua juga akan seperti itu." Baik soal tua, sakit, dan mati, saya sendiri tidak pernah betul-betul merenungkannya. Mungkin renungan semacam itu memang terasa prematur bagi mereka yang relatif berusia muda (taruhlah saya yang sekarang dua puluh delapan ini tergolong muda :p). Berbagai ambisi, cita-cita, dan rencana ke depan yang berlimpah membuat saya dan Andrei Yefimich Ragin -tokoh dalam Ruang Inap no. 6 -nya Chekhov- punya keyakinan yang sama: Bahwa iya, saya tidak akan mati. Namun hidup selalu memberi kit...