Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
(Dimuat dalam katalog pameran tunggal Setiawan Sabana yang berjudul Lakon Tubuh) Hampir setiap tradisi pemikiran, punya pendapatnya sendiri mengenai tubuh. Dalam Buddhisme misalnya, tubuh dan jiwa adalah satu dan tidak bisa dipisahkan –sama dengan apa yang dipikirkan oleh filsuf Prancis, Maurice Marleau-Ponty yang mengatakan bahwa, “Manusia adalah tubuh yang mer-ruh, dan ruh yang menubuh”-. Pemikir Yunani, Plato, mengatakan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Artinya, yang inti dari manusia, sebenarnya, adalah jiwanya –senada dengan tradisi Islam yang menyebutkan bahwa jiwa kita pernah melakukan perjanjian primordial dengan Tuhan di surga sana, sebelum menjadi lupa karena pengaruh tubuh dan ketertarikannya pada dunia-. Michel Foucault, seorang pemikir posmodern asal Prancis, malah berkata sebaliknya. Katanya, justru jiwa adalah penjara bagi tubuh. Mengapa? Karena tubuh kadang tidak leluasa bergerak oleh sebab jiwa yang terus gelisah menginginkan sesuatu. Namun ...