Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Bahkan hingga setahunan yang lalu, tidak terbayang bahwa pencapaian AI akan sejauh ini. Keberadaan Chat GPT mengubah banyak hal. Chat GPT kelihatannya mampu melewati tes Turing, yakni tes yang membuat kita tidak bisa menemukan perbedaan antara percakapan teks yang dihasilkan oleh manusia dan percakapan teks yang dihasilkan oleh mesin. Kemajuan tersebut memunculkan kembali wacana tentang AI sebagai agensi atau diartikan secara sederhana sebagai individu yang otonom dan memiliki kehendak bebas. Wacana AI sebagai agensi mungkin pernah tenggelam setelah melihat kenyataan bahwa AI ternyata hanya mampu menjadi weak AI yang cuma mampu mereplikasi kerja pikiran secara partikular. Ide tentang strong AI atau AI yang mampu mereplikasi sepenuhnya kerja pikiran manusia salah satunya ditolak John Searle lewat chinese room argument . Menurut Searle, AI hanya mampu melakukan manipulasi simbol tetapi tidak mengerti mengapa harus melakukannya. AI tidak paham makna dari tindak tanduknya. Saat diso...