Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Pernah ada suatu keinginan, agar kegiatan yang saya lakukan punya efek baik bagi sebanyak mungkin orang. Makin banyak yang hadir dan mengapresiasi, artinya makin berhasil cita-cita. Namun pemikiran yang demikian semakin luntur perlahan oleh sebab beberapa hal yang sebetulnya sepele. Misalnya di TVOne kemarin -diskusi Jakarta Lawyers Club-, saya melihat kelompok FPI begitu dominan, banyak, dan berkeyakinan tinggi. Bahkan secara kuantitas saya yakin mereka lebih banyak lagi di luar sana. Secara utilitarian, tentu saja ini menunjukkan Habib Rizieq lebih sukses daripada saya. Saya, apa yang saya lakukan? Mengurus komunitas musik klasik namanya KlabKlassik, aktif juga di Klab Filsafat Tobucil dan sekarang tengah getol mengelola garasi rumah sendiri untuk dipakai kegiatan seni, budaya, dan filsafat, namanya Garasi10. Giat, bolehlah, tapi jika dibanding FPI misalnya, secara kuantitas saya harus gigit jari. Setiap menyelenggarakan satu kegiatan, paling banyak lima belas orang yang had...