Skip to main content

Posts

Showing posts with the label musik

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Fenomenologi Musik

Konsep musik dan konsep fenomenologi rasanya menjadi dua hal yang tidak terlalu sulit untuk dikaitkan. Lewat mendengarkan musik, emosi kita mudah sekali untuk terpantik, dan biasanya terkorelasikan dengan pengalaman tertentu. Musik menjadi fenomena itu sendiri, fenomena yang langsung hadir “menyingkapkan dirinya” dan kita, saat berhadapan dengan musik, tidak jarang untuk tampil “telanjang” - tanpa asumsi dan presuposisi -. Artinya, kita akan lebih mudah membayangkan apa itu fenomenologi dan cara bekerjanya mungkin dari bagaimana musik menampilkan dirinya pada kita. Untuk itu, kita akan membaca sejumlah versi dari fenomenologi, terutama saat mengaitkannya dengan musik, lewat para pemikir yang akan dijabarkan berikut ini.  Selayang Pandang Fenomenologi   Sebagai sebuah gerakan intelektual, fenomenologi bermula dari pemikiran Edmund Husserl (1859 – 1938). Dengan slogan “kembali pada sesuatu dalam dirinya sendiri”, Husserl melihat bahwa seluruh teori seharusnya dimulai dari analis...

Musik dan Filsafat Analitik

Akar dari keterkaitan antara musik dan filsafat analitik dapat ditarik ke argumen Immanuel Kant terkait keindahan yang seharusnya tidak bertujuan dan tidak berkepentingan (disinterestedness). Eduard Hanslick (1825 – 1904) seolah meneruskan pendapat Kant tersebut dalam konteks musik lewat bukunya yang berjudul On the Musically Beautiful . Hanslick menganggap bahwa musik seharusnya berdiri sendiri sebagai sebuah bentuk tanpa memiliki relasi dengan subjektivitas pendengarnya.  Sekilas Filsafat Analitik   Filsafat analitik sebagai sebuah aliran tersendiri, jika dilacak, memang baru dimulai di awal abad ke-20. Berkembang umumnya di kalangan pemikir Inggris seperti Bertrand Russell dan G.E. Moore, filsafat analitik menitikberatkan kajiannya pada logika formal dan matematika sebagai landasan dalam kejernihan berfilsafat. Artinya, berbeda dengan filsafat kontinental yang berpusat pada pemaknaan dan penafsiran yang berhubungan dengan historisitas dan aspek kultural, filsafat analitik m...

Apa itu Musik?

Mendefinisikan apa itu musik tidaklah sederhana kelihatannya. Mungkin dengan mudah kita akan menyebut musik pada lagu yang diputar lewat Spotify, diperdengarkan di kafe atau restoran, dan dinikmati di pertunjukan musik. Namun bagaimana dengan suara-suara di jalanan dengan berbagai bunyi klakson dan knalpotnya? Bisa jadi kita akan menyebutnya sebagai kebisingan atau noise dan itu bukanlah musik. Hanya kemudian masalah baru menjadi muncul: siapa gerangan yang menentukan mana yang musik dan mana yang kebisingan? Bukankah apa yang kita sebut sebagai musik, bisa jadi merupakan “kebisingan yang teratur”? Di sisi lain, kemungkinan besar ada orang-orang di antara kita yang begitu menikmati bunyi kebisingan jalanan atau sebaliknya, bunyi tenang di alam terbuka, yang baginya, merupakan musik.  Definisi paling sederhana tentang apa itu musik salah satunya dirumuskan di dalam buku ABC of Music (1963) yang disusun oleh Imogen Holst. Di sana, musik didefinisikan sebagai “gabungan antara melodi,...

Partitur: Drive My Car (Aransemen untuk 4 Gitar)

Aransemen lagu Drive My Car dari The Beatles untuk empat gitar ini ditulis sekitar tahun 2013 untuk komunitas Ririungan Gitar Bandung. Aransemen ini sangat cocok untuk pemula. Untuk menambahkan unsur orisinalitas, dimasukkan tema Cingcangkeling di bagian outro lagu.  Gitar 1 Gitar 2 Gitar 3 Gitar 4

Partitur: Jazz adalah Bukan Ini Bukan Itu

  Partitur Jazz adalah Bukan Ini Bukan Itu ditulis Januari 2019 untuk kepentingan acara Jazz Poet Society di sebuah kafe di daerah Jalan Pahlawan, Bandung. Jazz Poet Society adalah komunitas bentukan Klab Jazz, komunitas yang didirikan oleh Dwi Cahya Yuniman dan telah saya ikuti sejak tahun 2005. Teman-teman lain yang tergabung umumnya menafsirkan "puisi jazz" sebagai "puisi bertemakan musik jazz", sementara saya mencoba mengartikan "puisi jazz" sebagai "puisi bergaya musik jazz" dalam artian memiliki unsur improvisatoris dan sedikit "nakal".

Apa itu Kritik Musik?

  (Respons atas tulisan Aris Setyawan) (Artikel yang diturunkan dari Pop Hari Ini) Pada tanggal 27 Juli 2023, terbit tulisan berjudul Ketika Kritik Musik Merambah Media Sosial di situs Pop Hari Ini yang ditulis oleh Aris Setyawan. Dalam teksnya tersebut, Aris mengritik komentar-komentar tentang musik yang muncul di media sosial seperti Twitter, yang biasanya hanya berupa umpatan tidak berargumen.  Bagi Aris, secara historis, kritik musik yang kredibel muncul dari media massa besar seperti Rolling Stone , The Guardian , New York Times , Pitchfork , atau Jakartabeat.net untuk konteks Indonesia. Alasannya, mengutip Idhar Resmadi dalam bukunya yang berjudul Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya , kritikus musik kerap nyambi bekerja sebagai jurnalis. Dengan demikian, kritik musik dan media massa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.  Kalaupun terdapat kritikus musik yang muncul dari luar sirkel jurnalis, hanya segelintir yang punya kapasitas mumpuni. Aris kemudia...

Perjalanan Mengajar

  Saya lupa kapan pertama kali mulai mengajar musik. Yang pasti, mengajar gitar klasik sudah dilakoni sejak saya masih kuliah S1 (antara tahun 2003 hingga 2007). Sekolah musik yang pertama kali menerima saya adalah Wisma Musik STESA di Batununggal. Awalnya, saya malah menjadi murid gitar jazz dari Kanggep Kusuma di sekolah musik tersebut, sebelum akhirnya diplot menjadi guru oleh sekolah musik milik Koh Sensus dan Ci Debby itu. Saya ingat murid gitar perdana saya, namanya Marvin. Entah dimana dia sekarang.  Setelah Wisma Musik STESA, saya lupa tempat mengajar selanjutnya, apakah ke Purwatjaraka di Cijerah atau ke Allegria Music. Manapun itu, yang pasti saya hanya sebentar di Purwatjaraka, dan mengabdi lama di Allegria Music milik Ci Juniar Jacob, mengajar di tiga cabang yang mereka punya. Mungkin lebih dari sepuluh tahun saya mengajar gitar di Allegria Music. Selain mengajar di sekolah musik, saya juga mengajar murid secara privat. Ada yang datang ke rumah, ada juga yang saya ...

Pembebasan

Suatu ketika saya menolak Adorno, karena idenya tentang emansipasi lewat musik Schoenberg itu terlalu elitis. Siapa bisa paham Schoenberg, kecuali telinga-telinga yang terlatih dan pikiran-pikiran yang telah dijejali teori musik? Bagaimana mungkin teknik dua belas nada yang tak punya "jalan pulang" tersebut dapat membebaskan kelas pekerja dari alienasi? Namun setelah ngobrol-ngobrol dengan Ucok (Homicide/ Grimloc) awal April kemarin, tiba-tiba saya terpantik hal yang justru berkebalikan. Kata Ucok, memang seni itu mestilah "elitis". Lah, apa maksudnya?  Lama-lama aku paham, dan malah setuju dengan Adorno. Pembebasan bukanlah sebentuk ajakan atau himbauan, dari orang yang "terbebaskan" terhadap orang yang "belum terbebaskan" (itulah yang kupahami sebelumnya). Pembebasan bukanlah sebentuk pesan, seperti misalnya musik balada yang menyerukan ajakan untuk demo, meniupkan kesadaran tentang adanya eksploitasi, atau dorongan untuk mengguncang oligarki. ...

Hal-Hal yang Dirindukan dari Rilisan Fisik

Kemunculan rilisan musik dalam bentuk digital yang kian marak dalam dekade terakhir ini tidak hanya pelan-pelan menggantikan popularitas rilisan fisik, tapi juga menggantikan cara-cara kita dalam menyimpan dan mendengarkan musik. Memang rilisan digital, dalam banyak hal, memiliki keunggulan seperti misalnya praktis, tidak banyak menyita ruang (bandingkan dengan mereka yang mengoleksi banyak kaset atau CD yang bisa jadi memerlukan rak khusus) dan secara umum lebih ekonomis. Jika kita membeli paket Spotify Premium misalnya, kita sudah dapat mendengarkan ribuan lagu. Bandingkan dengan masa-masa kita harus membeli rilisan fisik, yang untuk mendengarkan satu album, kita harus membeli album kaset atau CD di toko musik, yang satunya hanya berisi sekitar delapan hingga dua belas lagu-an.  Sebagian generasi yang lahir tahun 2000-an bisa jadi tidak terlalu mempunyai pengalaman intens dengan yang namanya kaset atau CD, apalagi piringan hitam. Bahkan bagi generasi Z tertentu, rupa dari benda-b...

Trocoh dan Semesta Pengalaman yang Selalu Irelevan, tapi Pasti

Meski menerimanya di waktu hampir berjauhan, kebetulan saya membaca dua buku ini di waktu nyaris bersamaan: Seni sebagai Pembebasan -nya Syakieb Sungkar dan Trocoh -nya Budi Warsito. Walaupun sama-sama menyinggung soal seni, keduanya melakukan pendekatan yang sangat berbeda. Di sini justru saya menemukan jukstaposisi yang menarik: Apa yang dibahas oleh Pak Syakieb, yang berkenaan dengan estetika Theodor Adorno, justru dengan "jenaka", secara tidak langsung, dibatalkan oleh tulisan Mas Budi. Gagasan Adorno, sebagaimana dibahas oleh Pak Syakieb dan saya ulas di tulisan sebelum ini , secara umum menolak musik pop karena sifat fabrikasinya yang mengarah pada pembentukan masyarakat yang homogen - sebagaimana dicita-citakan oleh fasisme. Trocoh -nya Mas Budi justru hendak menunjukkan: musik pop tidak sefabrikatif itu. Sebaliknya, kesadaran-kesadaran kritis justru bisa muncul melalui budaya populer, sebagaimana diperlihatkan oleh Mas Budi, misalnya, dalam tulisan mengenai Senam Kese...

Seni Sebagai Pembebasan: Menegasi Usaha Adorno dalam Menegasi

Kelihatannya memang belum ada buku yang membahas gagasan Theodor Adorno tentang seni dalam bahasa Indonesia, sampai akhirnya saya membaca karya berjudul Seni sebagai Pembebasan: Sebuah Telaah tentang Estetika Adorno (Circa, 2022) yang ditulis oleh Syakieb Sungkar ini. Tulisannya lugas dan mengalir (seperti yang disebutkan dalam kata pengantar yang ditulis oleh Simon Lili Tjahjadi), sehingga tidak perlu waktu panjang untuk menamatkan karya dengan tebal 200-an halaman tersebut. Meski demikian, perlu diakui bahwa untuk memahami tulisan Pak Syakieb ini, perlu sejumlah pengertian terkait gagasan dan istilah dari para pemikir sebelumnya, termasuk secara umum berkenaan dengan "gaya berpikir filsafat" itu sendiri. Misalnya, Pak Syakieb tidak banyak menerangkan gagasan Marx (padahal gagasan Adorno banyak dibangun oleh pemikiran Marx, termasuk soal alienasi, fetisisme komoditas dan kritiknya atas dialektika Roh Hegelian), sehingga pembaca diasumsikan sudah paham sejumlah kata kunci da...

Bersembunyi di Balik Musik

Di usia saya yang sekarang hampir 36, hal-hal terkait masa muda mulai terasa sebagai sesuatu yang jauh. Pikiran dan tubuh pelan-pelan kian "matang", sekaligus meninggalkan masa silam yang dipenuhi eksperimen dan "kebodohan". Namun kerinduan akan masa muda tidak dapat ditolak. Di masa tersebut, konsep "tanggung jawab" tidaklah sedemikian besar dan seolah-olah segalanya dapat dilakukan sesuka hati tanpa banyak pertimbangan. "Kebodohan" tersebut justru merupakan hal yang paling dirindukan, karena di usia sekarang, yang seolah "berpengetahuan", segalanya malah terasa melelahkan.  Musik ternyata mampu mengaitkan saya dengan momen-momen tertentu, termasuk momen di masa muda. Musik-musik tersebut, di masanya, belum tentu saya sukai, dan bahkan kadang merasa norak jika mendengarkannya. Misalnya, di masa remaja, saya tidak suka sama sekali mendengarkan musik-musiknya Reza Artamevia atau Shanty. Namun saat tidak sengaja mendengarkannya di masa se...