Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Ditulis sebagai catatan pasca siaran di Radio Norrm, 6 Juni 2018. Tanggal 6 Juni kemarin, saya diundang oleh Bob Edrian untuk mengisi salah satu program di Radio Norrm. Program tersebut secara umum membahas tentang sound art dan pada kesempatan kemarin, secara spesifik, pembahasan berkutat seputar “filsafat bunyi”. Saya tidak sendirian, tentu saja. Ada Guru Besar Filsafat UNPAR, Bambang Sugiharto (BS), dan musisi senior yang sedang mengambil S3 arsitektur, Jack Simanjuntak. Bob sendiri berperan sebagai moderator. Bob adalah kurator seni rupa. Namun dalam beberapa tahun belakangan ini, ia sedang mengikhtiarkan aliran dalam seni rupa yang menggunakan medium bunyi yaitu sound art . Tentu saja upaya mengangkat sound art ini mendapat tantangan serus, terutama dari wilayah seni musik yang merasa berhak bicara soal bunyi. Berbagai diskusi yang ia gelar, salah satunya program streaming di Radio Norrm ini, adalah semacam cara untuk menaikkan wacana sound art di tengah medan sos...