Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel, akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.
Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi sekitar bulan Februari tahun depan.
Meski situasi sudah sangat berubah, semangat saya dalam mengajar ternyata masih menyala. Saya bisa semalaman menyiapkan bahan untuk mengajar seperti baca-baca materi dan membuat power point. Durasi sembilan puluh menit per pertemuan saya lakoni tanpa terasa berat sama sekali. Bahkan rasanya masih sanggup berbagi hingga berjam-jam lagi. Hingga artikel blog ini ditulis, kami sudah menjalani empat pertemuan dan Zam Zam selalu bersemangat untuk menanyakan banyak hal terkait penelitian di luar waktu kelas.
Ah, ternyata kena cancel itu cuma pindah tongkrongan. Kegiatan yang saya lakukan kurang lebih sama-sama saja: menulis dan mengajar. Bedanya, dulu dilakukan di bawah lampu sorot, sekarang di balik layar. Dulu dikelilingi banyak orang, sekarang sedikit saja, tapi lebih khusyuk. Dulu berharap dibanjiri pujian, sekarang berarti untuk beberapa orang di sekitar pun sudah lebih dari cukup.
Saya bersyukur kena cancel. Kehidupan terasa lebih dekat dan patut disyukuri setiap momennya.

Comments
Post a Comment