Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Ibunda

 

Soal Papap saya mungkin cukup sering menceritakannya. Sekarang saya akan cerita tentang almarhumah, yang wafat tahun 2018. Selama hidup, memang saya lebih dekat dengan Papap ketimbang Mamah. Alasannya, entah kenapa ya, saya merasa Mamah itu adalah sosok yang terlalu suka mengalah, seperti terlampau permisif. Saya lebih kompatibel dengan sifat Papap yang ambisius dan intens pada apa yang dikerjakannya. Namun dalam renungan akhir-akhir ini, saya justru merasa lebih paham tentang sifat-sifat almarhumah. 

Mamah adalah sosok perempuan dengan beban ganda. Sambil bekerja sebagai pengajar di jurusan Sastra Jepang, Universitas Padjadjaran, tempatnya mengabdi selama lebih dari 25 tahun, Mamah juga mengurus rumah tangga, tepatnya tiga anggota keluarga lain yang kesemuanya laki-laki: Papap, Engkang, dan saya. Tak hanya itu, Mamah juga mengelola segala hal yang bersifat "public relation" dengan pihak eksternal seperti keluarga besar, rekan-rekan kerja, tetangga, hingga orang-orang yang kerja di rumah. Kemampuan Mamah dalam mengelola semua itu membuat Papap dapat bekerja dengan fokus dan hanya mengurusi kekaryaan saja. 

Sifat Mamah juga begitu baik dan pemurah. Jika ada saudara, mahasiswa, atau teman minta tolong, pasti beliau usahakan bantu. Pernah saya ada teman yang dibiayai kuliah oleh Mamah, padahal saya tidak dekat-dekat amat dengan teman tersebut. Kalau ada mahasiswa berjualan makanan juga pasti Mamah beli. Selain itu, yang membuat saya tak habis pikir, Mamah selalu mengupayakan bantuan bagi saudara kami yang bahkan berlaku kasar saat meminta tolong! Pikiran pragmatis saya sih, untuk apa menolong orang yang tak tahu cara menghargai kita. Ngomong yang enak kek, yang sopan kek, buat saya merasa senang bisa menolong Anda. Tapi mungkin di situlah poin kemuliaan beliau: membantu seyogianya adalah membantu, tak punya motif transaksional antar manusia. Biarlah rasa berat ini Allah yang balas. Makin berat rasanya, justru makin besar pahalanya. Begitu kelihatannya pikir beliau. 

Meski Mamah adalah orang yang berhati baik dan mulia, entah kenapa, saya kerap bertengkar dengan beliau. Saya merasa kasih sayangnya kadang berlebihan hingga masuk pada sikap over-protektif dengan dalih "kamelang" (Sunda: rasa khawatir). Dalam suatu suasana pertengkaran dengan Mamah, Papap pernah menghampiri saya untuk semacam menengahi, mengatakan bahwa memang ada perbedaan peran antara Papap dan Mamah: Papap lebih mendorong untuk mengembara, sementara Mamah lebih mengkhawatirkan bagaimana jika dalam pengembaraan nanti, saya malah menghadapi marabahaya. Mamah seolah hendak mengatakan, jangan pergi, tetaplah dalam dekapan ibunda. Di sini, semuanya akan aman. Kata Papap, dua sikap cenderung berbeda antara mereka berdua tersebut tak perlu dipertentangkan, tetapi jadikan saja tegangan, sekaligus tantangan. Jadilah orang yang terus bertualang, tanpa pernah lupa akan rumah, tempat kita bisa senantiasa didekap. Tempatnya kita disambut kehangatan, meski babak belur di luar sana. 

Ajaran Mamah terasa belakangan ini, tentang hidup yang dijalankan sebaik-baiknya, meski banyak hal bertentangan dengan keinginan. Tak semua hal harus diwujudkan, karena ada yang lebih penting dari itu semua: membuat hidup menjadi bermakna atas berbagai keterbatasan. Atau tak perlu memandangnya sebagai keterbatasan, karena bisa jadi memang itulah dunia kita, dengan segala keutuhannya. Mamah mungkin ingin melanglangbuana, berkarir bebas atas nama dirinya sendiri, tapi hidupnya tak jadi tak bermakna jika ternyata yang mesti digelutinya adalah masalah-masalah keluarga besar atau kesejahteraan orang-orang yang bekerja di rumah. 

Kita semua akan menghadapi keterbatasan itu, entah oleh usia, keuangan, atau hal-hal lain yang memupus segala cita-cita. Namun tak ada gunanya memendam kecewa, atau hidup dalam kubangan romantisme seolah-olah impian kita akan terwujud semua. Mamah seolah-olah menjadi altruis yang menopang segala ambisi orang-orang di sekelilingnya, tapi saya kira, dia mencapai kebahagiaannya yang paripurna, dengan cara memaknai dunia terus menerus melalui harapan dan Tuhan yang tak mungkin membiarkannya sendirian. Kebahagiaan yang Mamah capai, adalah kebahagiaan lewat orang lain, dan kebahagiaan yang dijanjikan di waktu kelak. Bukan kebahagiaan sementara yang kita-kita kejar dengan berdarah-darah. Padahal fana. Al-fatihah.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...