Skip to main content

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi



Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. 

Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi (gambler's fallacy): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah mengalami bertubi-tubi kesialan. 

Mungkin memang ada hari yang membawa kabar baik daripada hari biasanya (misalnya: diterima pekerjaan, kencan berakhir indah), atau ada hari yang lebih membuat kita merasa buruk (misalnya: gagal ujian, putus cinta). Tapi apa yang membuat hari itu terasa lebih baik atau lebih buruk bukanlah semata-mata kabar itu sendiri, melainkan apa yang kita harapkan sejatinya. Kita menganggap diterima pekerjaan adalah hari untung, karena kita berharap diterima pekerjaan. Kita menganggap pengumuman gagal ujian adalah hari buruk, karena kita berharap lulus ujian dan itu tidak terjadi. 

Sekarang bayangkan seseorang yang mencoba untuk bunuh diri dengan berbaring di rel kereta. Kereta tak kunjung datang hingga seharian, sehingga dia memutuskan untuk tak jadi mati. Pertanyaannya: apakah itu menjadi hari baik atau hari buruk buat dia? Dia berharap kereta lewat dan melindasnya, tapi tidak terjadi, dan dia tetap hidup. Dia tetap hidup, dan kenyataan itu malah menjadi kesialan baginya.

Ini memang bukan pemikiran yang canggih-canggih amat, tapi pada akhirnya harus ada cara untuk merefleksikan segala "kesialan" yang bertubi-tubi menghantam Nadya dan saya. Pada akhirnya, yang mesti dikejar bukanlah "keberuntungan", karena kalau itu yang dikejar, maka "kesialan" lain akan menanti sesudahnya. Yang pada akhirnya mesti diperbaiki adalah cara menjalani hari-hari melampaui untung - rugi: Hari-hari ya hari-hari aja, tidak ada hari untung dan hari rugi. Yang disetel adalah ekspektasinya. Tapi bukan berarti kemudian menyetel ekspektasi serendah mungkin supaya senantiasa siap menghadapi situasi terburuk.

Karena selain menyetel ekspektasi, kita juga punya kemampuan memaknai setiap peristiwa. Dan soal ini, memang harus diakui, orang-orang beragama lumayan selangkah lebih depan. Orang-orang beragama bisa tidak menyalahkan hari yang "rugi" meskipun misalnya dagangannya tidak laku, karena mampu mengembalikan segalanya pada qadarullah. Orang-orang beragama bisa santai saja menganggap hari yang "untung" sebagai sesuatu yang patut disyukuri sekaligus diwaspadai sebagai "ujian" dalam bentuk kenikmatan. Cuma orang-orang beragama juga yang kemarin sukses dan mulia, hari ini tiba-tiba divonis penyakit berat lalu berkata: ini adalah penggugur dosa

Saya dan Nadya bukan orang yang religius-religius amat, dan mencoba menerapkan cara berpikir seperti itu dalam kerangka yang lebih sekuler. Tanpa harus membawa-bawa Tuhan, kami belajar untuk tidak lagi membagi hari menjadi hari untung dan hari sial. Hari ini mungkin uang masuk, besok uang keluar. Hari ini dapat kabar baik, besok dapat kabar buruk. Ya sudah. Itu semua peristiwa yang terjadi, bukan sifat yang melekat pada sebuah hari. Tidak ada hari yang sedang berpihak kepada kita, sebagaimana tidak ada hari yang sedang berusaha mencelakakan kita. Hari ya hari saja.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...