Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.
Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi (gambler's fallacy): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah mengalami bertubi-tubi kesialan.
Mungkin memang ada hari yang membawa kabar baik daripada hari biasanya (misalnya: diterima pekerjaan, kencan berakhir indah), atau ada hari yang lebih membuat kita merasa buruk (misalnya: gagal ujian, putus cinta). Tapi apa yang membuat hari itu terasa lebih baik atau lebih buruk bukanlah semata-mata kabar itu sendiri, melainkan apa yang kita harapkan sejatinya. Kita menganggap diterima pekerjaan adalah hari untung, karena kita berharap diterima pekerjaan. Kita menganggap pengumuman gagal ujian adalah hari buruk, karena kita berharap lulus ujian dan itu tidak terjadi.
Sekarang bayangkan seseorang yang mencoba untuk bunuh diri dengan berbaring di rel kereta. Kereta tak kunjung datang hingga seharian, sehingga dia memutuskan untuk tak jadi mati. Pertanyaannya: apakah itu menjadi hari baik atau hari buruk buat dia? Dia berharap kereta lewat dan melindasnya, tapi tidak terjadi, dan dia tetap hidup. Dia tetap hidup, dan kenyataan itu malah menjadi kesialan baginya.
Ini memang bukan pemikiran yang canggih-canggih amat, tapi pada akhirnya harus ada cara untuk merefleksikan segala "kesialan" yang bertubi-tubi menghantam Nadya dan saya. Pada akhirnya, yang mesti dikejar bukanlah "keberuntungan", karena kalau itu yang dikejar, maka "kesialan" lain akan menanti sesudahnya. Yang pada akhirnya mesti diperbaiki adalah cara menjalani hari-hari melampaui untung - rugi: Hari-hari ya hari-hari aja, tidak ada hari untung dan hari rugi. Yang disetel adalah ekspektasinya. Tapi bukan berarti kemudian menyetel ekspektasi serendah mungkin supaya senantiasa siap menghadapi situasi terburuk.
Karena selain menyetel ekspektasi, kita juga punya kemampuan memaknai setiap peristiwa. Dan soal ini, memang harus diakui, orang-orang beragama lumayan selangkah lebih depan. Orang-orang beragama bisa tidak menyalahkan hari yang "rugi" meskipun misalnya dagangannya tidak laku, karena mampu mengembalikan segalanya pada qadarullah. Orang-orang beragama bisa santai saja menganggap hari yang "untung" sebagai sesuatu yang patut disyukuri sekaligus diwaspadai sebagai "ujian" dalam bentuk kenikmatan. Cuma orang-orang beragama juga yang kemarin sukses dan mulia, hari ini tiba-tiba divonis penyakit berat lalu berkata: ini adalah penggugur dosa.
Saya dan Nadya bukan orang yang religius-religius amat, dan mencoba menerapkan cara berpikir seperti itu dalam kerangka yang lebih sekuler. Tanpa harus membawa-bawa Tuhan, kami belajar untuk tidak lagi membagi hari menjadi hari untung dan hari sial. Hari ini mungkin uang masuk, besok uang keluar. Hari ini dapat kabar baik, besok dapat kabar buruk. Ya sudah. Itu semua peristiwa yang terjadi, bukan sifat yang melekat pada sebuah hari. Tidak ada hari yang sedang berpihak kepada kita, sebagaimana tidak ada hari yang sedang berusaha mencelakakan kita. Hari ya hari saja.

Comments
Post a Comment