Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Terlalu Berduka Sehingga Sukar untuk Menuliskannya

Sebulan lalu, Papap wafat. Hanya tepat beberapa jam setelah saya menuliskan tulisan berjudul Selisih. Entah pertanda atau bukan, tapi saya menuliskan Selisih dalam keadaan galau, seperti membayangkan kematian dan imajinasi historis yang timbul daripadanya. Peran Papap bagi saya terlalu mendalam, sehingga menuliskan hal-hal seperti ini sangat saya hindari supaya tidak terlampau baper, membuat hari-hari menjadi gloomy. Namun rasanya perlu dituliskan juga, supaya berjarak, supaya renungan-renungan tentang Papap menjadi teks, menjadi suatu monumen yang bisa saya baca lagi, orang lain juga baca, dan menjadi perasaan yang mungkin relate bagi lebih banyak orang. 

Supaya tidak terlalu sedih, untuk sementara ini saya hanya akan menuliskan bagian pengalaman saya bersama Papap saat awal-awal belajar filsafat. Waktu itu sekitar tahun 2006 atau 2007, saya mulai rajin mengikuti kelas Extension Course Filsafat UNPAR yang sering diisi oleh Prof. Bambang Sugiharto. Setiap pulang dari sesi kelas yang diadakan setiap Jumat itu, saya selalu berlari menemui Papap, menceritakan apa-apa saja yang baru dipelajari. Papap waktu itu menanggapi sambil tiduran saja depan televisi, setengah sadar mungkin ya, sembari semacam "menetralisir" pemahaman saya yang mungkin masih prematur. Segala pendapat yang aneh-aneh, termasuk tentang Tuhan, agama, tidak membuat beliau melarang saya belajar filsafat. Bahkan Papap mendukung dan membiayai saya dalam mengikuti kelas tersebut. 

Dalam hal itu, Papap memang unik. Saat mulai muncul pertanyaan-pertanyaan dalam diri saya tentang Tuhan dan agama, Papap malah terlihat girang dan menyuruh saya mendalami filsafat. Tidak seperti Mamah yang tampak khawatir, Papap justru seolah menanti-nanti anaknya punya pertanyaan semacam ini. Juga bukannya distop atau disuruh hati-hati, saya malah disuruh tancap gas untuk bertanya-tanya sekalian hingga mentok. Seolah-olah Papap menaati kata-kata Kierkegaard, bahwa nalar harus dipakai hingga ujung supaya tahu keterbatasannya. Papap mengajak saya melakukan itu, dengan segala risiko, dengan kekhawatiran Mamah yang takut anaknya tidak sholat dan tidak lagi mendoakan kedua orang tua. 

Setelah direnung-renungkan, cara Papap yang seperti itulah yang membuat saya menghayati arti filsafat sebagai sebuah penyengat. Papap senang saat nalar kritis saya mulai berdenyut, begitupun cara saya melihat murid-murid atau orang yang pikiran kritisnya mulai berdenyut. Saya akan dengan senang hati mengajaknya bicara, memfasilitasi kegundahannya, dan menjaganya agar selalu dalam tegangan: jangan terlalu semangat, juga jangan sampai patah semangat. Mereka yang baru punya ketertarikan tipis-tipis harus digas sampe mentok, sementara yang terlampau kritis mesti agak diredam untuk ditunjukkan bahwa "filsafat gak usah segitunya". 

Hal demikian yang menjadi modal bagi saya untuk menulis buku tentang mengajarkan filsafat bagi anak-anak. Papap lah inspirasinya, yang membuat saya merasa bahwa beliau adalah model yang ideal tentang bagaimana harusnya orang tua mengajarkan anak-anaknya dalam berpikir kritis. Papap tidak bisa dikatakan menguasai filsafat sebagai sebuah disiplin, tetapi cara berpikirnya sudah sedemikian filosofis dan mendalam, sehingga mampu untuk mengatasi beragam pertanyaan khas filsafat sampai yang tersulit sekalipun. Beliau hanya tidak mengacu pada nama-nama filsuf dan istilah teknis filsafat saja, sisanya pada pokoknya Papap paham dengan problem-problem filosofis. Itu juga yang saya tulis dalam Seni Berfilsafat Bersama Anak, supaya fasilitator tidak perlu menyebut nama-nama filsuf dan istilah teknis filsafat, tetapi langsung pada problem yang bisa diajukan untuk ditanggapi anak-anak. 

Saya masih terlalu berduka untuk menuliskan lebih banyak. Saya masih merasa-rasa: dimana sekarang Papap sebenarnya? Apa dia ada di sebuah tempat dengan segenap kesadaran, atau melebur bersama tawa dan tangis kita di sini?



Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...