Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Perkenalkan, Ini Istriku, Dega



Halo, dunia, perkenalkan ini istriku, Dega. Kami menikah sejak enam tahun silam setelah dua setengah tahun berpacaran. Kami bertemu oleh sebab jasa seorang kawan, namanya Johan. Aku dan Johan sedang dalam persiapan untuk mengadakan resital gitar klasik tahun 2007 dan ketika kami sedang menyusun teks ucapan terima kasih, Johan menyisipkan satu nama: "Dega France". Aku tertarik juga dengan betapa anehnya nama tersebut. Lalu aku tanya-tanya, melihat Friendsternya, dan memutuskan untuk menghubungi. Waktu aku hubungi "Dega France" (yang orang Jakarta), dia awalnya curiga, hingga akhirnya lama kelamaan, nyaman juga kami bicara. Kami berjumpa pertama kali di Jakarta. Dia minta aku bawakan Brownies Amanda dan kaos sepakbola. Tapi aku tidak membawanya, karena alasan yang tidak jelas. 

Sejak aku pertama melihatnya langsung di Jakarta itu, aku langsung suka. Aku hendak mengejarnya sampai dapat. Tapi seperti biasa, aku, yang mudah terdistraksi perempuan ini, melanjutkan petualangan, bersama lalala, bersama lilili. Kontak aku dan Dega hanya sekali-kali karena alasan tadi itulah: aku banyak mendapat distraksi. 

Namun dalam suatu momentum yang aneh, lewat percakapan via Gmail, aku tetiba ingin mengajaknya menikah. Kadang ajakan menikah itu tidak ada hubungannya dengan suatu pemikiran rasional. Aku hanya yakin, perempuan ini yang akan menemaniku hingga akhir hayat. Lalu aku mengajukan proposal, diterima, dan kami melanjutkan proses hingga jenjang pernikahan. Aku pernah mendengar cerita dari Dega, bahwa suatu hari, pernah ada yang mendoakannya: "Semoga ada laki-laki yang kelak mengangkat derajatmu, Nak." Doa itu aku tahu, datang dari ibunda Muna, kawan baiknya. Aku terdorong sekali untuk menjadi laki-laki yang dimaksud itu. 

Kami menikah pada tanggal 4 Februari 2012 di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan. Pernikahan kami meriah dan penuh berkah. Prosesi kami diiringi lagu Prancis berjudul L'Hymne a l'amour yang dimainkan oleh pemain violin Ammy Kurniawan. Pernikahan kami dihadiri banyak sekali orang, baik orang Bandung maupun Jakarta. 

Di awal pernikahan, Dega langsung mengalah dengan pindah ke Bandung dan meninggalkan pekerjaannya yang cukup mapan di perusahaan asing. Ia mau hidup denganku, yang cuma guru gitar dan dosen honorer dengan gaji seadanya. Selang setahun setengah kemudian, pernikahan kami dikaruniai anak yang lucu dan hebat, yaitu Zulaikha Mawlani Sabana. Seiring dengan kehadiran putri kecil kami itu juga, aku diterima sebagai dosen tetap di Telkom University yang berarti kehidupan kami semakin mapan. 

Menjelang enam tahun pernikahan kami, jalan terjal tidak pernah berhenti kami lalui. Tuhan tidak pernah memberi kemudahan, karena Ia tahu betapa kuatnya kami menghadapi cobaan. Dega dan Ayka, panggilan untuk putriku, selalu ada untuk mendukungku dalam berbagai keadaan - termasuk ketika memutuskan berhenti dari Telkom University karena tekanan -. 

Dega bekerja di rumah, dan mungkin ia tidak percaya, betapa aku selalu bangga dengan pekerjaannya tersebut. Bekerja mencari uang di luar adalah bagus, tapi bekerja di rumah adalah membangun peradaban, membangun sebuah fondasi kuat bagi kehidupan. Seorang seniman rupa Malaysia pernah berkata padaku, "Institusi pendidikan terbaik, adalah rumahmu sendiri." Ayka tumbuh menjadi anak yang mandiri dan cerdas. Di sisi lain, aku pun tidak butuh waktu lama untuk kembali dari keterpurukanku pasca mundurnya aku dari Telkom University. Ini semua berkat "tangan tak terlihat" yang disentuhkan Tuhan melalui istriku. 

Seperti semua manusia di dunia, istriku juga punya kelemahan. Kelemahannya adalah karena ia tidak seperti teman-temanku yang berpikiran tentang feminisme, ateisme, sosialisme, atau apalah isme-isme-isme itu. Kelemahan istriku adalah ia berpikir sangat sederhana: bahwa yang terpenting baginya, adalah hidup untuk keluarga. Pengabdian totalnya itu tampak menjadi sebuah kedangkalan pemikiran di tengah arus zaman yang serba kompleks dan pragmatis ini. 

Namun itu dulu. Sekarang, aku menyadari dengan sepenuh hati: Pengabdian adalah hal terpenting dalam hidup ini. Kumbakarna berharga hidupnya karena mengabdi pada negara. Yudhistira berharga hidupnya karena mengabdi pada anjingnya. Iblis dinilai suci akidahnya oleh sufi bernama Al Hallaj karena ketika ia diminta menyembah Adam oleh Tuhan, iblis enggan. Ia tetap mengumumkan pengabdiannya pada Tuhan. Pengabdian adalah hal terpenting dalam hidup ini. Karena demikianlah setinggi-tingginya suatu lompatan iman. 

Terima kasih istriku, atas seluruh pengabdianmu. Sekarang tiba saatnya, aku mengabdikan sisa hidupku, kepadamu. 


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...