Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Merenungkan Usia Lewat Sajian Rupa

Menulis tentang pameran bapak, bukanlah suatu hal yang mudah. Memang, saya dituntut untuk menulis secara objektif. Namun apa mau dikata, terhadap anggota keluarga sendiri, tentu ada perasaan-perasaan subjektif yang tidak bisa dihindari. Meski demikian, saya akan tetap mencobanya, dimulai dengan menyebut bapak dengan nama aslinya: Setiawan Sabana. 

Tanggal sepuluh Mei kemarin, Setiawan genap berusia 66 tahun. Jika demikian adanya, maka berpameran di usia tersebut tentu saja tergolong langka - apalagi, pameran tunggal -. Pameran tunggal kali ini digelar di Galeri Tapak, Shah Alam, Malaysia. Pembukaan dilakukan pada tanggal tiga belas Mei dengan sederhana dan tanpa seremoni berlebihan kecuali sekadar makan-makan. Pameran bertajuk Paperium: Tapak Rupa Jejak Usia tersebut memamerkan karya-karya Setiawan yang seperti biasa sudah menjadi cirinya: seni rupa kertas.


Karya-karya Setiawan yang ditampilkan di Galeri Tapak ditampilkan dalam perspektif dua dimensi dan tiga dimensi (instalasi).  Dengan nyaris semua karya diberi judul Space and Me (meski berbeda-beda penomoran), Setiawan menyajikannya dalam berbagai ragam bentuk geometris mulai dari lingkaran, persegi panjang, bujur sangkar, serta bentuk-bentuk lain yang sekilas terlihat suka-suka, namun jika diperhatikan secara seksama, mempunyai pertimbangan ukuran-ukuran yang presisi. Mungkin ini ada hubungannya dengan tema usia yang diusung Setiawan, bahwa semakin senja umur kita, berbagai hal mulai tampak begitu jelas dan tegas. Kejelasan dan ketegasan tersebut bukan berarti dogmatis, melainkan lebih ke arah: tak banyak lagi pertentangan, antara apa yang riil dan apa yang ideal. Segalanya telah bermuara pada suatu kompromi yang damai. Di usianya yang 66, Setiawan mungkin merasakan apa yang dikatakan oleh Konfusius, "Bisa melakukan apa saja tanpa melanggar yang benar." 

Setiawan mengawali karir kesenirupaannya sebagai perupa grafis, sebelum kemudian "beralih" ke seni rupa kertas di lebih dari satu dekade ke belakang. Meski demikian, tidak terlalu tepat jika dikatakan bahwa Setiawan meninggalkan seni grafis. Justru seni rupa kertas adalah semacam renungan mendalam terhadap kertas yang selama ini begitu lekat menjadi bagian dari proses dalam seni grafis. Kertas tidak lagi sekadar perantara, tapi juga "dimuliakan" sebagai objek atau bahkan subjek kekaryaan itu sendiri. Lebih jauh lagi, Setiawan menukik ke sebuah pemikiran yang kontekstual dengan spirit kekinian: Kertas sedang dalam ancaman, oleh sebab manusia yang sedang berambisi membangun paperless society. Dalam spekulasinya yang dipenuhi kegetiran, ia sadar bahwa kertas kelak akan menjadi sejarah peradaban; hanya hidup dalam cerita-cerita nenek moyang; dan mungkin hanya bisa ditemui di museum-museum. Perkara seni rupa kertas dalam kacamata Setiawan, sudah bukan lagi perkara estetik, namun juga sosio-historik.







Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...