Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Papap adalah orang yang mengajak nonton teater berjudul Kaspar di STSI ketika aku duduk di kelas 2 SD. Waktu itu ada salah satu aktor yang terus menerus bicara pada penonton sambil sesekali ia turun dari panggung dan mendekat pada kami. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah teknik breaking the fourth wall yang diagungkan oleh Bertolt Brecht.
Papap adalah orang yang mengatakan bahwa dalam kepala kita ada semacam template untuk menyaring realitas luar. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya dunia ini kacau, hanya pikiran kitalah yang menyusunnya sehingga tampak rapi. Belakangan aku tahu bahwa Immanuel Kant juga mengatakan hal yang persis sama.
Papap suatu hari pernah mengatakan bahwa masa mudanya adalah tentang sikap hidup yang bohemian. Berpusat pada diri, mengatakan ya pada hidup dengan segenap risikonya. Belakangan aku tahu bahwa Friedrich Nietzsche juga mengatakan hal yang sama dengan sebutan amor fati, fatum brutum.
Papap adalah orang yang mengatakan bahwa segala tindak-tanduk manusia akan selalu menjadi masa lalu. Seketika kita menyebut kata 'sekarang', maka kata 'sekarang' itu sendiri segera menjadi lampau. Belakangan aku tahu bahwa G.W.F. Hegel mengatakan bahwa manusia tidak punya arti selain hanya berperan sebagai pion-pion sejarah.
Papap adalah orang yang mengatakan bahwa kehidupan manusia yang terbaik adalah yang selaras dengan alam semesta. Jagat diri kita adalah jagat semesta juga - pun jagat semesta adalah juga jagat diri-. Dalam Hindu pun diajarkan bahwa Atman dan Brahman adalah satu.
Papap tidak pernah berhenti belajar dan selalu ingin mengetahui sesuatu yang baru. Ia ingin menguasai semua hal meskipun ia tahu bahwa tidak mungkin kita menguasai semua hal. Belakangan aku tahu bahwa Sokrates mempunyai kesadaran yang sama. Ia sadar bahwa sebagaimanapun kita mencoba, kita tidak pernah bisa mengetahui segalanya. Justru itulah sumber kebijaksanaan yang hakiki: satu-satunya hal yang kita tahu adalah kenyataan bahwa kita tidak tahu apa-apa.
Papap mengatakan bahwa tidak ada kebenaran. Yang ada hanyalah: Proses pencarian kebenaran itu sendiri. Belakangan aku tahu bahwa setiap orang bijaksana bermuara pada kesimpulan itu.
Papap mengatakan di hari ulang tahunnya yang ke-63, "Hamba bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Mu." Kata-kata itu terdengar klise dan kita bisa dengarkan dimanapun mulai dari di masjid hingga di alun-alun tempat pedagang obat saling teriak. Tapi bagiku, ucapan Papap terdengar lain sama sekali. Kalimat itu datang dari orang yang baru saja pulang dari tengah samudera. Di samudera, ia tidak hanya membuang kompas dan alat navigasi lainnya, Papap juga meniru apa yang dilakukan oleh Nietzsche: Membakar dermaga di belakangnya agar tak ada lagi jalan kembali.
Petualangan Papap melepas diri di tengah samudera sudah mencapai puluhan tahun. Ia sudah menemukan hal yang sama dengan yang dipikirkan oleh Brecht, Nietzsche, Kant, Hegel, hingga Sokrates. Sekarang ia tidak lagi berambisi menaklukkan samudera. Apa yang dilakukannya adalah menyiapkan sampan kecil untuk mendayung di danau yang tenang. Cukup tenang sehingga ketika ada kesempatan ia tinggal tengadah untuk memandang Rabb-nya sambil berkata mesra, "Hamba bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Mu."
Selamat ulang tahun, Papap!

Comments
Post a Comment