Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Terima Kasih, 2017!


Tahun 2017 adalah tahun yang akan saya ingat untuk selamanya. Tahun ini memberikan banyak pengalaman dan pelajaran. Dimulai dari tanggal 12 Maret, saat itu saya dan keluarga sedang enak-enak makan di Sushi Tei. Muncul pesan via line yang berisi berita bahwa sejumlah mahasiswa sedang berdemonstrasi terkait kasus perampasan buku oleh rektorat yang berujung pada skorsing. Saya tinggalkan acara hedonistik itu dan bergegas ke Jalan Japati. Di sana sudah berkumpul puluhan mahasiswa yang memrotes skorsing. Niat saya hanya lihat-lihat, tapi akhirnya terlibat. Turut melakukan orasi, meski isinya cuma standar dan begitu-begitu saja. Besoknya foto saya pegang toa muncul di media daring dengan tajuk provokatif Dosen Telkom Pimpin Komunisme. Saya telpon redaksi karena merasa keberatan. Dengan dibantu Bilven Sandalista, akhirnya redaksi mengerti dan membuat berita klarifikasi dengan judul Dosen Telkom University Bukan Pendukung Komunis (masih ada jika digoogling). Sementara itu, berita sebelumnya telah dihapus.

Sejak itu nasib saya berubah. Gerak-gerik terasa tidak enak. Tidak perlu saya paparkan detailnya tapi per 25 April akhirnya saya mengajukan pengunduran diri yang disambut oleh surat pemberhentian dengan hormat pada 19 Juni. Hidup sempat agak limbung karena terbiasa dengan gaji lumayan. Akhirnya saya mengambil pekerjaan menulis di media olahraga dengan honor Rp. 4.000 per artikel dan melamar jadi supir Go Car agar tetap bisa punya uang.

Sambil melamar ke sejumlah kampus, saya diundang bicara ke beberapa forum. Forum yang menurut saya penting adalah pada tanggal 14 Juni. Saya diundang oleh Gereja Kristen Anugerah untuk bicara di Kedai Tempo bersama salah satunya Ulil Abshar Abdalla, tokoh liberal yang berkali-kali diancam bom dan darahnya difatwa halal. Bukan, saya bukan penggemar Ulil. Tapi saya sedang bersemangat mengacaukan citra kampus lama saya: bahwa saya bukan komunis, tapi liberal (bagi yang paham, tentu komunis dan liberal adalah paham yang bertolak belakang). Sebelumnya, 1 Juni, saya diundang ke Museum Konperensi Asia Afrika untuk bicara tentang Pancasila. Agar citra saya tidak seperti yang pernah dituduhkan: anti Pancasila. Saya sendiri tidak peduli apakah saya ini komunis, liberal, ateis, anarkis, atau apalah. Motif saya waktu itu hanyalah: bikin kampus lama saya bingung, "Si Sarip teh, naon sih?"

Jawaban dari kampus lain akhirnya datang. Untungnya, dari almamater tercinta, Unpar. Saya begitu gembira sampai membuat foto makan cilok di depan kampus Ciumbuleuit yang dijepret dengan sangat baik oleh Mardohar Simanjuntak. Kesempatan lain kemudian datang sebulan setengah kemudian, ketika Dicky Munaf, Ketua Kelompok Keahlian Ilmu-Ilmu Kemanusiaan di ITB, menawari saya untuk terlibat dalam persiapan fakultas baru. Hingga hari ini, saya masih berkelindan di dua kampus favorit saya itu.

Tantangan terus datang. Di sepertiga akhir tahun, saya terlibat di acara "super rujit" bernama Seni Bandung #1. Festival kota selama satu bulan yang diinisiasi pemerintah itu penuh hantaman luar dan dalam. Namun sekali lagi, saya bertahan. Festival diselesaikan dengan baik, meski luka dimana-mana. Belum sempat istirahat, saya dapat tawaran main di Rusia bersama Behind The Actor's. Tawaran menyenangkan tapi juga sekaligus menegangkan. Menyenangkan karena saya belum pernah ke Eropa, menegangkan karena dana yang digadang-gadang akan turun dari Pemprov, tidak kunjung mencair. Akhirnya kami pergi, tampil di Moskow, dan mendapat penghargaan "Best Puppet Maker".
 
Saya pulang dengan lega karena yakin sudah menyelesaikan seluruh tantangan di tahun 2017. Namun Tuhan tahu bagaimana membumikan hamba-Nya yang terlalu cepat puas dan jumawa: dihantamnya saya dengan persoalan internal, yang tak disangka-sangka, kegalauannya jauh di atas pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jatuhlah saya ke bumi. Menjadi fana segala yang saya anggap sudah keren itu.

Namun segalanya tetap saya syukuri. Sebelum tahun ini saya sering mengeluh, "Kok hidup saya terlalu tenang ya?" Rupanya Tuhan mendengar, dan menganggapnya doa. Adrenalin tak pernah berhenti dipompa. Senang sedih bulak balik hadir kadang tanpa jeda. Sekarang saya lebih kuat, dan siap menyambut 2018 tanpa rasa takut. Tiada yang dapat membunuh saya, kecuali kehidupan itu sendiri. Terima kasih 2017, atas segala kebaikannya!

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...