Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

2023


2022 adalah tahun yang aneh. Awal tahun, kami sekonyong-konyong berada di Jakarta untuk memulai hidup baru di sana. Hanya beberapa hari selesai pindahan, saya masuk rumah sakit karena sakit pencernaan serius. Ternyata kami hanya sembilan bulan berada di Jakarta. Bulan September, kami pindah kembali ke Bandung. Sekitar dua bulan berada di Bandung, pernikahan kami mendapat ujian serius sehingga tahun baru 2023 dilewati dengan perasaan getir. Meski demikian, kami terus berdialog secara intens untuk semacam evaluasi dan juga menyusun ulang masa depan. Saya kira momen-momen sulit dalam hubungan terkadang perlu ada, supaya relasi tidak menjadi teralienasi, dan merasakan kembali betapa pentingnya keberadaan satu sama lain. Walau saya mengatakan "perlu ada", tetapi momen ketika menjalani waktu-waktu sulit itu, jujur, bak neraka. Jadi kalau saya mengatakan "perlu ada", mungkin karena ketika saya menuliskan ini, masalahnya sudah agak mereda, sehingga biasanya mudah jika orang bicara bijak dari ketinggian, dari posisi yang sudah lebih nyaman. 

Meski dalam kerumitan, saya berhasil menamatkan satu naskah yang "tidak disengaja" menjadi buku. Saya tidak tahu apakah saya boleh menyebut nama pemberi proyek atau tidak, tapi saya memilih tidak (supaya aman). Kenapa disebut "tidak disengaja", karena begini: saya mendapat pekerjaan untuk menerjemahkan kutipan-kutipan, tetapi yang terjadi bukannya saya menerjemahkan saja, melainkan mencari sendiri kutipan-kutipan itu. Sehingga dari sebelumnya status saya adalah penerjemah, akhirnya disepakati untuk menjadi penulis. Sehingga tanpa sengaja, saya mengawali tahun 2023 dengan mengirimkan naskah buku. Judulnya Ayat-Ayat Demotivasi, isinya adalah 99 kutipan dari para filsuf yang saya kategorikan sendiri sebagai "filsuf-filsuf demotivasional". Siapa sajakah mereka? Nanti, tunggu saja tanggal terbitnya. Mungkin sekitar Maret atau April. 

2023 adalah juga tahun penentuan. Saya harus lulus S3 di tahun ini. Bukan karena waktu yang sudah di ujung, bukan juga akibat "surat cinta" dari Ibu Karlina. Tapi saya merasa menamatkan kuliah doktoral sesegera mungkin sudah bukan lagi tugas akademik, melainkan "tugas suci". Mengapa? Pertama, ayah saya sudah sakit-sakitan. Beliau menjalani separuh akhir tahun 2022 dalam kondisi bolak-balik rumah sakit. Saya ingin beliau melihat saya lulus kelak. Kedua, Mbak Saras Dewi sudah sering bertanya-tanya kapan kuliah saya selesai. Mungkin, beliau ingin mengajak saya untuk mengajar di kampus yang sama dengannya (mungkin, saya tidak berani berspekulasi atau PHP pada diri sendiri). Ketiga, saya ingin mengubah nasib kami, supaya istri tidak pusing lagi melihat kelakuan saya yang cari uang suka-suka, yang terlalu banyak rebahan dengan dalih mencari inspirasi. Mungkin dengan status saya sebagai doktor kelak, rebahan pun menjadi lebih bermakna (walau sekarang pun buat saya tetap bermakna). 

2023 juga artinya tahun yang menunjukkan bahwa 20 tahun lalu, saya masuk kuliah S1. Artinya juga, saya sudah kian menua. Jujur saya tadinya tidak percaya bahwa saya akan menjadi tua. Tapi kenyataannya saya benar-benar menjadi tua. Hal yang menakutkan saat menjadi tua adalah tentu saja mati. Namun tidak hanya itu, hal-hal yang saya dulunya benci, ternyata mesti juga dicicipi. Misalnya, saya tidak suka mendengar orang tua membicarakan sesuatu yang itu-itu lagi. Bosan. Seperti tidak ada hal lain untuk diceritakan. Namun ternyata saya mulai menjadi seperti itu. Saya mulai mengisahkan hal-hal masa lalu yang menurut saya menarik. Padahal mungkin sudah lebih dari tiga kali saya bercerita hal yang sama, terutama pada istri. Istri saya pasti bosan, tapi dia pura-pura tidak bosan. Dulu saya merasa tidak relevan jika para orang tua membicarakan penyakit dan obat-obatan. Berbagi tips ini itu supaya tetap sehat. Sekarang saya mulai relevan dengan hal-hal demikian! Setiap saya mendengar atau membaca sesuatu yang berhubungan dengan diabetes, saya langsung menyimak dengan seksama. Sialan

Menua adalah sekaligus menyaksikan orang-orang muda mulai menapaki kiprahnya. Sementara saya sendiri masih berjuang untuk memperoleh gengsi, prestise, dan hal-hal tidak jelas lainnya, orang-orang yang sepuluh tahun lebih di bawah saya mulai menunjukkan kilaunya. Bahkan di era digital seperti sekarang ini, orang-orang bisa lebih cepat belajar, akses mereka lebih terbuka, sehingga menjadi brilian di usia 20-an awal bukanlah hal yang aneh. Sementara saya memulai S3 di usia 34 atau 35, mereka-mereka sudah ada yang menjadi doktor sebelum usia 30. 

Di tahun yang baru, yang menandai bahwa saya semakin tua ini, saya juga semakin sadar, bahwa saya makin tidak berhak menyandang predikat "muda" sebagaimana saya banggakan selama ini. Sudah banyak orang-orang yang lebih muda, yang dengan demikian menganggap saya sudah tua. Saya tidak perlu terlalu sakit hati jika dikatai tua, karena hal yang membuat saya sakit hati adalah ketidakmampuan saya menerima kenyataan. Harusnya yang terjadi adalah saya menertawakan mereka diam-diam, "Tenang, kalian juga pasti bakal menua kok." 

Saya kira hal yang perlu ditekankan berulang-ulang pada diri saya adalah ini: waktu sudah semakin menipis. Saya sudah kian terbatas melakukan banyak hal dan meraih banyak hal. Ada hal-hal yang mesti mulai dikompromikan: bahwa saya tidak mungkin mencapainya, karena waktu, karena juga tenaga. Ambisi-ambisi masa muda harus disimpan dalam-dalam, disalurkan pada entah apa kelak, atau juga tidak perlu disalurkan. Semuanya akan hancur bersama waktu, begitu juga dengan eksistensi kita. Saya menyambut 2023 dengan renungan macam-macam, sambil memikirkan dengan ngeri-ngeri sedap: kira-kira saya akan menjalani finis sebagai apa? Dengan pencapaian seperti apa? Dengan bahagia atau tidak?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...